Namanya Aidin, Minal Aidin Wal Paijin lengkapnya, katanya dia lahir tepat di hari lebaran. Umurnya enam belas tahun, dia duduk di kelas dua sebuah Madrasah setingkat Sekolah Menengah Atas di sebuah desa yang jauh dari kota. -- Sayang Aidin bukan anak baik, paling tidak begitu kata gurunya. Bolos, datang terlambat, kabur dari sekolah dan lupa mengerjakan tugas, sudah jadi kebiasaannya sehari-hari. Sekalinya datang dan masuk kelas, kalau tidak membuat huru-hara atau mengganggu kawan, ya dia tidur dipojokan. Aidin sama sekali tidak peduli pelajaran. -- Sayang, Aidin juga bukan anak pintar, lagi-lagi kata gurunya, kebanyakan nilai pelajarannya selalu dibawah rata-rata kelas, bahkan beberapa sangat memprihatinkan, hanya di pelajaran Olahraga dia mendapat nilai lumayan. -- Untung gurunya tahu kalau Aidin anak yatim dan miskin. Beberapa guru bahkan berpendapat, kalau bukan karena kasihan, sudah sejak kelas satu Aidin dikeluarkan. -- Sayang gurunya tidak tahu (atau mungkin tidak mau tahu) kalau sepulang sekolah Aidin harus membantu ibunya beres-beres dan membenahi rumah, menjaga adik-adiknya, lalu berdagang cireng keliling kampung, kadang sampai malam. Demi membantu ekonomi keluarga. -- Sayang gurunya tidak tahu kalau Aidin punya bakat di sepakbola, dia pernah menjadi pemain terbaik walau hanya dalam sebuah perlombaan antar kampung. -- Sayang gurunya hanya tahu kalau Aidin adalah anak yatim, miskin, tidak pintar, tidak tahu diri dan nakal. -- Untung gurunya tidak tahu kalau Aidin memang sudah bosan bersekolah. -- #30DJ #30DJ2 #30DJ2Day28 #ceritasiaidin #pendidikan #sekolah #madrasah #guru #murid #muridnakal https://www.instagram.com/p/Bwx56RfAXNL/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=fq9ivxso0t0a











