. . Seharian ini, aku mengoreksi tumpukan tugas mahasiswa. Aktivitas yang membosankan sekaligus melelahkan. Aku hanya duduk, membolak-balik lembar jawaban sambil menyusuri setiap langkah pengerjaannya. Barangkali aku menemukan suatu kesalahan, apakah itu angka yang terbalik, kombinasi angka yang berbeda karena salah hitung, lupa tanda koma, atau tanda negatif yang ketinggalan. Berpindah dari satu nama ke nama yang lainnya. Dari tugas satu ke tugas berikutnya. Dari satu kelas ke kelas selanjutnya. . . Untunglah handphoneku ketinggalan. Jadi aku tak bisa mengalihkan kebosanan mengoreksi dengan membaca postingan dari channel-channel di telegram, diskusi di grup-grup whatsapp, ataupun stalking timeline ig. Ditambah lagi dengan alunan musik Kota Palestina, Merah Saga, dan Ini Langkahku dari Shoutul Harokah yang membuat semangatku jadi mode:ON. . . Sesekali aku menyunggingkan senyum, tergelitik membaca pesan yang ditulis pada kertas jawaban: "Maaf Bu, saya sudah tidak sanggup lagi mengerjakannya.", "Maaf Bu, soal yang ini saya tidak bisa mengerjakannya karena saya tidak masuk waktu itu.", "Bu, saya nyerah. Hanya ini yang bisa saya kerjakan sendiri. Saya tidak nyontek, Bu." Apapun motif mereka menulis seperti itu, aku ingin berterimakasih. Terimakasih sudah berprinsip: "Lelaki sejati selalu bertindak jujur". . . *** . . Mengoreksi hasil pekerjaan orang lain melelahkan jiwa, raga, serta pikiran. Mengoreksi hasil kerja pribadi akan menjernihkan jiwa, menyehatkan raga dan membuka cakrawala. Lanjut untuk cerita #30hbc1707 aja ya ;) #30haribercerita #30hbc1706 @30haribercerita