Laki-Laki itu Bajingan
Mataku cuma dua dan mereka nyaris kewalahan buat meladeni daftar tonton di dalam batok kepalaku. Ini salah satu tangkapan layar judul film yang baru sempat kutonton belakangan.¹ Jika mesti kusimpulkan, selain apa-apa yang tak perlu kubahas di sini, film itu ingin bilang kalau laki-laki bisa sangat jahat dan patut dibenamkan kepalanya ke rawa-rawa sebab mereka tahu betul apa yang mereka lakukan.
Aku akan menceritakan sebuah dosa dan lubang gelap yang sebelumnya kututup rapat-rapat. Ini tentang orang yang sangat kusayang. Ia mengenal kekasihnya dengan baik. Ia menganggap dirinya mengenal kekasihnya sebagai laki-laki baik. Pekerja keras, tampak gemar beribadah, kerap membagikan ayat-ayat suci nan indah penuh arti, dan tidak mabuk-mabukan. Dengan kata lain, laki-laki itu 180 derajat berkebalikan denganku.
Laki-laki itu seperti harapan berjalan. Sosok nyaris sempurna buat dijadikan teman menyusuri lorong gelap penuh jebakan dan tahi bernama kehidupan. Singkatnya, mari kita sepakati kalau nyaris perempuan mana pun akan menerima bujuk rayunya dengan dada lapang.
Waktu terus berjalan dan kehidupan dua sejoli itu dilimpahi kesenangan sampai tendangan pertama mendarat tepat di tulang kering perempuan itu. Waktu terus berjalam dan kehidupan asmara perempuan itu kembali baik sebelum cekikan pertama menyesakkan leher mungilnya. Waktu berjalan kembali dan perempuan itu menerima permintaan maaf laki-laki itu sampai kemudian perempuan itu mendapati rahasia menyakitkan dan bertingkat-tingkat tentang laki-laki itu. Lagi-lagi waktu terus berjalan dan perempuan itu dipaksa menggugurkan kandungannya.
Aku melihat sendiri bagaimana ia menangis sambil menahan sakit "isi perutmu seperti di-blender." Bagaimana ia berusaha mengatasi pikirannya sendiri di tengah pikiran tentang orang tua, lingkungan, pertemanan, atau apa pun, yang pada saat tertentu bisa membuatmu gila. Tanpa kita menyenggol kesediaannya melakukan cabang olahraga ngentot pun, memaksakan sesuatu yang risikonya hidup-mati, dan nyaris ia tanggung sendiri, kepada orang lain cukup untuk membuatmu dijadikan bantalan rel kereta.
Menulis ulang sebagian kecil ingatannya saja seperti menaruh sekat di jalur pernapasanku. Jantungku berdebar-debar. Napasku sesak. Dan aku ingin memukul kepala orang dua kali.
Kepada laki-laki, menganggap perempuan semacam benda yang bisa dipilih dan dibuang seenak jidat hanya akan menjadikanmu seorang monster. Berpikir laki-laki lebih baik dalam segala hal dan karena itu perempuan mesti menuruti apa yang dikatakan laki-laki hanya akan membuatmu tampak seperti tong sampah. Keliru menganggap perasaan sayang kepada perempuan sebagai takut adalah kesalahanmu nomor tiga.
Satu hal yang perlu kau ingat, perempuan punya kekuatan yang kapan pun dapat mempecundangimu. Dan meskipun sering kau remehkan dan kau jadikan bahan olok-olok, seorang banci bisa jauh lebih baik dalam memperlakukan perempuan. Itulah kenapa Naruto bilang laki-laki yang memperlakukan perempuan dengan buruk lebih jelek dari sampah.
#30haribercerita #30hbcscreenshot #30hbc2318
1. Judul film: She Said - Maria Schrader (2022).













