TRI.GAT.RA (6)
MEMULAI PERJALANAN YANG DIRINDUKAN
Setelah dirawat beberapa waktu akhirnya ibu Rui bisa pulang. Terlihat di ruangannya sudah berkumpul ayah Rui, Kama, dan Luna.
โEh Kama, Ayah dan Bunda kamu baru pulang kan? Kita sekalian singgah di rumah kamu sebentar ya. Ibu pengen ketemu loh, udah lama banget nggak ketemu. Kangen sama bundamu.โ pinta ibu Rui.
โBu, kamu itu baru sembuh loh. Langsung pulang aja lah, nanti Ayah antar ke rumah Kama kalau ibu mau.โ
โAduh, sebentar aja yah. Nanti habis itu langsung pulang.โ
โAyah ikutan aja kalau begitu.โ
โNggak usah, ayah langsung pulang aja sama Rui. Soalnya ada mbak Via mau datang, kan nggak bagus kalau ada tamu tapi tuan rumahnya nggak ada. Kasihan juga mbak Yani sendirian di rumah. Nanti Rui bantu yaa.โ
โOke bu.โ sahut Rui.
Kama dan ibu Rui pun menuju rumah Kama yang memang sejalur dengan Rui. Sedangkan Rui dan ayahnya menuju toko kue sebelum ke langsung pulang sebab kakak dari ibu Rui yang akan berkunjung ke rumah. Setelah selesai membeli kue Rui pun kembali masuk ke mobil.
โYah, paman Ardi masih sering nanyain Rui?โ ucap Rui membuka pembicaraan.
โIyaa, katanya masih pengen kamu kerja di kantornya aja.โ
โOalah. gitu yaa.โ jawab Rui. Kemudian Rui dan ayahnya kembali hening hingga mereka tiba di halaman rumah.
โYah, Rui minta maaf yaa sering ini itu tapi sebenarnya Rui punya alasannya kok. Ini Rui mau tunjukkin ke Ayah, nanti bacanya kalau udah nggak sibuk aja.โ ujar Rui tiba-tiba sembari menyodorkan sesuatu ke ayahnya yang masih terlihat kaget. Kemudian Rui mendahului ayahnya turun lalu mengambil barang-barang yang mereka bawa.
2 bulan kemudian
โGila keren abis sih ini eventnya. Event pertama tapi yang datang langsung segini. Gila sih bro, mantap banget ini.โ ujar Rio teman Kama yang datang dengan segerombolan pasukannya untuk menghadiri Petak Sastra.
โGitu deh. Harus tahu dulu sih siapa otak dari Petak Sastra. Kenalin ini dia Direktur Petak Sastra.โ terang Kama mengenalkan Rui yang tepat disampingnya kepada tamu undangannya.
โWahh, makasih banyak ya udah datang. Kenalin Ruitami, bisa dipanggil Rui.โ ujar Rui memperkenalkan dirinya.
Setelah kurang lebih hampir 3 bulan persiapan akhirnya Petak Sastra sukses dijalankan. Jelas terlihat Rui sangat sibuk berkeliling menyapa orang-orang. Tak lama kemudian keluarga Rui yang baru tiba di Kawasan kegiatan Petak Sastra. Kama dan Luna dengan sigap menyambut keluarga Rui dan menunjukkan tempat duduk untuk tamu khusus. Rui pun datang menghampiri keluarganya setelah menyambut beberapa tamu yang sedang berbicara dengan pak Igor.
โSelamat yaa nak.โ ujar Ayah Rui yang menyodorkan buket bunga yang tentu kesukaan Rui, Lili.
โMakasih Ayah.โ ujar Rui yang langsung memeluk ayahnya.
โWahh, cuman Ayah nih? Abang sama ibu kayaknya udah dilupain deh.โ ucap Daryl kakak Rui.
โApaan sih abangโ celetuk Rui sembari menyubit pinggang Daryl.
โMakasih yaa ibu, abangโ balas Rui sembari memeluk Daryl dan ibunya bersamaan.
.***.
Ayah Rui yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kantornya di ruang kerjanya. Tepat saat membereskan barangnya. Ayah Rui melihat barang yang diberikan Rui tadi siang, yaitu semacam bentukan kumpulan dokumen. Ayah Rui kembali duduk di kursinya dan membaca dokumen yang diberikan oleh sang anak. Setelah membaca keseluruhan dokumen tersebut. Ayah Rui sadar bahwa anaknya Ruitami bukan lagi seorang gadis kecil yang merengek untuk minta ini itu. Ia kini gadis dewasa yang memang berhak merencanakan dan memutuskan pilihan hidupnya sendiri. Ayah Rui mulai mengerti, selama ini ia yang terlalu menganggap Rui tidak bisa melakukan apa-apa tanpanya. Padahal selama Rui berhasil hidup jauh dari dirinya. Ayah Rui semakin paham bahwa memang ia yang terperangkap di masa sebelum anak-anak mereka tumbuh dewasa. Terlalu banyak waktu yang dilewatkan sehingga ketika Rui kembali ia justru melanjutkan semuanya tepat di masa sebelum Rui meninggalkan rumah untuk waktu yang lama. Ayah Rui tersadarkan dengan telak setelah memabaca rancangan hidup Rui yang begitu rinci. Hal-hal apa yang ingin ia lakukan kedepannya dan ingin menjadi apa Rui kedepannya serta segala alasan dibaliknya. Hingga tiba di halaman akhir.
Ayah, boleh yaa? I promise Iโll never let you down -Rui, your most beautiful daughter in the world-
.***.
Begitulah semua hal kembali pada tempatnya. Rui yang belajar untuk menerima hal-hal yang dulu menurutnya seperti mengurung kebebasannya. Ayah dan ibu Rui yang belajar untuk mengerti kondisi Rui, bahwa tidak selamanya harus memaksakan apa yang diinginkan kepada orang lain. Setelah semua perasaan cemas, gundah, putuh asa menghampiri. Rupanya akan selalu ada hal baik menunggu didepan. Cerita tak terduga dari setiap manusia.
Rui dan keluarganya yang sadar bahwa proses belajar bukanlah proses yang dilakukan secara temporer tapi seumur hidup. Belajar tidak menyalahkan sudut pandang pandang orang lain. Rui kini paham betul bahwa dalam menjalani hidup bukan perihal siapa yang benar atau salah tapi bagaimana bijak dalam melihat sesuatu. Diantara dua sudut pandang akan selalu butuh satu sudut yang bisa melihat keduanya, tidak hanya melihat satu sama lain. Tidak saling menyalahkan dan membenarkan diri sendiri tapi mencoba melihat dari sudut pandang yang berbeda. Trigatra, tiga sudut pandang.
Memulai perjalanan yang dirindukan, dimana dunia menungguku. Selamat menjalani hidup! -Ruitami-













