"Thank you for giving me a feeling that I have never felt before."

seen from Italy

seen from Vietnam
seen from China
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from France

seen from United States
seen from South Korea
seen from China
seen from Türkiye
seen from China
seen from South Korea
seen from France
seen from China
seen from China
seen from Vietnam
"Thank you for giving me a feeling that I have never felt before."
Titik Pasrah
Pernah terpikir tidak, tentang titik paling sunyi dari seseorang yang sedang patah?
Ia ada pada momen ketika segala amarah mendadak bungkam, menyisakan jemari yang gemetar saat mengeja: "La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin". Sebuah pengakuan sunyi bahwa hati telah terlampau jauh tersesat dalam harapnya sendiri, sampai akhirnya ia tertidur lelap dalam pasrah yang paling dalam.
Lalu saat pagi kembali, dan ia mendapati sisa perih itu ternyata belum juga beranjak, bibirnya hanya mampu berbisik lirih: "Robbi inni massaniyadh dhurru wa anta arahmur rahimin". Ia tak lagi mencari siapa yang salah, ia hanya sedang menunjukkan serpihan dirinya pada Sang Pemilik Kesembuhan.
Pada saat itulah, urusannya dengan dunia telah benar-benar usai. Ia sudah menitipkan lukanya pada tangan yang paling berkuasa. Dan tanpa perlu diminta, di titik itulah penyesalan bagi yang pernah mematahkannya akan mulai merayap perlahan, tanpa suara, namun jauh lebih menyakitkan dari sekadar sebuah kehilangan.
--
memaafkan adalah perjalanan paling sunyi yang pernah ditempuh manusia. di dalamnya hanya ada percakapan jujur antara luka dan doa yang tak terucap. biarlah langit yang menjaga bagian-bagian yang tak sanggup kita genggam sendiri. sebab terkadang, cara terbaik untuk pulih adalah dengan benar-benar berserah.
Kamu adalah satu-satunya orang yang akan selalu hidup dengan dirimu setiap hari. Tidak ada liburnya, tidak ada pergantian peran.
Dari pagi yang paling cerah sampai malam yang paling sunyi, kamu akan selalu jadi penghuni tetapnya. Menyaksikan, merasakan, menanggung, dan berharap.
Hanya karena kamu tidak seharusnya hidup sendirian, belum tentu egois jika meletakkan dirimu di urutan pertama.
"Nak, memang tidak semuanya harus berbalas..."
Tak semua senandung harus menemui gema, tak semua seruan akan dibalas oleh gaung yang merdu. Ada doa yang terbang tinggi, memecah langit dengan rindu, namun layu sebelum sempat mencapai singgasana-Nya. Ada pinta yang mengalir, lembut seperti sungai, namun tenggelam di pusaran sunyi yang tak berbatas. Tidakkah kau mengerti? Tidak semua yang kita titipkan pada malam, akan sampai pada bintang.
Kita ini, makhluk yang menabur harap seperti petani menebar benih di ladang yang asing. Tapi apakah setiap bibit mesti tumbuh? Tidak semua tanah ramah, tidak semua musim bersahabat. Ada yang jatuh di tanah tandus, diserap oleh hampa, lalu menguap menjadi angin tanpa arah.
Dan bukankah hujan pun tak selalu menjadi berkah? Di tempat yang kering, ia adalah nyawa. Namun, di bumi yang telah basah, ia bisa menjadi beban. Begitu pula doa, ia tak selalu menjelma jawaban. Kadang, ia hanya menjadi riak kecil di lautan takdir, tak cukup kuat untuk mengubah arus.
Tuhan, yang Maha Mendengar, kadang memilih diam, bukan karena lupa, tapi karena tahu. Ia tahu kapan kita perlu dilimpahi, kapan kita mesti belajar kekurangan. Sebab, tidak semua kehilangan adalah celah, dan tidak semua penolakan adalah luka.
Maka, jika pinta kita seperti embun yang terhapus mentari sebelum sempat menyentuh bumi, mungkin bukan karena ia sia-sia, melainkan karena Tuhan sedang menyusun hujan di waktu yang lebih tepat. Jika doa kita seperti burung yang terbang, hilang di cakrawala tanpa arah, mungkin ia sedang mencari sarang yang lebih baik untuk hinggap.
Tidak semua yang tak berbalas adalah penolakan. Kadang, ia adalah cara semesta mengajarkan ikhlas tanpa syarat, dan keyakinan tanpa perhitungan. Sebab, cinta yang tulus pun tak selalu harus diterima. Dan di situlah, manusia belajar bahwa berharap adalah seni mencintai, bahkan ketika jawaban tak pernah datang.
Ada hari ketika aku bangun tanpa ambisi, hanya ingin hidup tanpa harus menang. Tanpa harus menjelaskan apa-apa kepada siapa pun. Tapi mereka menatapku seolah itu dosa. Seolah diamku adalah kemalasan, dan tenangku adalah kegagalan.
Lucu, ya. Kita diajarkan mencintai diri sendiri, tapi juga ditakuti agar tak terlalu nyaman dengan diri yang belum “jadi”. Kita disuruh menerima kekurangan, tapi juga diukur dengan hasil yang tak boleh kurang.
Diam yang Menyembuhkan
Kadang kita ingin cepat benar, tapi lupa menata cara untuk menjadi benar.
Ada waktu ketika diam lebih bijak daripada membela diri, karena tidak semua kebenaran butuh suara keras, beberapa cukup dibuktikan dengan kesabaran.
Ego sering berbisik agar kita terlihat benar, tapi jiwa yang tenang tahu, lebih penting menjadi jernih daripada menang.
Kesalahpahaman bukan akhir dunia, tapi kesempatan untuk belajar menata hati.
Dari setiap tuduhan, Allah sedang mengajar cara sabar tanpa dendam.
Dan di balik keheningan itu, kita mulai mengerti, bahwa ketaatan dan kesabaran adalah dua sisi dari penyembuhan diri.
“Tidak semua harus dijelaskan. Kadang, diam dan sabar justru cara Allah menjelaskan siapa dirimu sebenarnya.”
Nilai dirimu tidak ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukanmu. Jika seseorang tak bisa bersikap baik padamu, itu bukan karena kamu tak layak, itu lebih mencerminkan mereka, bukan dirimu. - Arsualas