24. Mencatat Kebiasaan
Ini sedikit nyambung dengan tulisan momentum. Seperti yang kita tahu bahwa momentum itu sangat penting. Sehingga agar aku bisa melihat momentum itu lebih baik, aku mulai mencatat kebiasaan yang ingin aku lakukan setiap harinya. Sekarang aku baru sadar bahwa ternyata kebiasaan yang ingin aku lakukan itu cukup banyak, totalnya ada 15 kebiasaan, haha. Mungkin akan aku ceritakan di tulisan lainnya.
Saat aku mencatat kebiasaan itu, aku baru sadar ternyata ada banyak hal baik yang ingin aku lakukan setiap harinya. Dari sana aku jadi berpikir, “Ada banyak hal yang ingin aku lakukan hari ini, tentu aku tidak punya waktu untuk hal yang sia-sia”. Mencatat kebiasaan itu secara tidak langsung membuatku sadar bahwa setiap aku membuang waktu dengan hal yang tidak bermanfaat, itu juga berarti menghilangkan kesempatanku untuk melakukan hal yang sebenarnya ingin aku lakukan.
25. Lari
“Huhhh… aku baru menulis 4 cerita, tapi rasanya sudah cukup lelah sekali. Masih ada 6 cerita lagi yang aku tulis…”
Seketika pikiran itu mengingatkanku pada sesuatu. Ya, saat aku lari (atau jogging) dan aku masih mencapai 2 km dari targetku 5 km. Tentu aku sudah lelah (masa jogging 15 menit aja udah cape), tidak ada yang memaksaku untuk lanjut, aku bisa berhenti kapan saja, segitu saja sudah cukup.
Tapi…
Aku tidak ingin menyesal kalau aku berhenti di sini.
Aku tidak ingin merasakan kekecewaan pada diriku sendiri.
Pada akhirnya, perasaan lelah itu hanya ada pada pikiranku.
Sedikit lagi, itu tidak jauh, kok. Cukup jalan selangkah demi selangkah.
Pada akhirnya, kamu akan sampai.
26. Sepi Notifikasi
Semakin lama, aku merasa hidup ini semakin sepi. Salah satu sepi di sini adalah sepi dari notifikasi chat. Chat WAku saat ini, hanya perlu sedikit scroll untuk ke chat minggu lalu. Saking tidak pentingnya dan jarangnya ada yang chat aku. Sering kali aku yang chat duluan agar mengisi notifikasi.
Aku pernah dengar perkataan seperti ini, “Ketika kamu ingin tahu siapa yang benar-benar peduli dengan kamu, coba untuk berhenti chat siapapun, dan lihat siapa yang chat kamu.”
Aku pun mencobanya dan… tidak ada siapapun yang ngechat, HAHA. Ya memang hal seperti itu memang tidak masuk akal juga. Ya, kalau gak ada urusan untuk apa chat seseorang.
Namun, dibalik sepinya notifikasi, ada hal positifnya jga. Aku akhirnya mulai mengurangi interaksi dengan smartphone (karena sudah tahu pasti tidak akan ada chat :‘)). Sepinya interaksi dengan orang-orang juga membuatku punya lebih banyak waktu untuk memikirkan apa yang ingin aku lakukan, apa yang ingin aku capai.
Dan yang paling penting, aku mulai berhenti terlalu bergantung pada orang lain.













