20th Day - @30HariBercerita #30hbchari20 #30haribercerita . Sudah hampir setahun barangkali, aku mendapatkan buku ini dari seorang kawan baik. Buku ini diperolehnya secara cuma-cuma sebagai suvenir ulang tahun dari kantornya. Selain karena tak terlalu suka membaca, ia juga tahu betul bahwa aku mengoleksi Cerpen Pilihan Kompas dari tahun ke tahun. . Dari dua puluh tiga cerpen yang ada di buku ini, ada satu yang paling aku suka. Nama pengarangnya sudah tak asing kutemui di kumcer-kumcer sebelumnya, beliau Damhuri Muhammad. Cerpennya yang berjudul "Lelaki Ragi dan Perempuan Santan" sangat kental dengan nuansa Minang dan bercerita tentang sepasang kekasih yang tak bisa bersatu karena urusan harta. . Diceritakan, sang tokoh pria baru saja lulus sarjana dan mengabdi sebagai guru mengaji di kampungnya. Ia bisa saja berangkat ke Pekanbaru atau Jakarta untuk mencari kerja. Namun sang tokoh pria memilih bertahan di kampung karena tak ingin jauh dari sang tokoh wanita. . Ironis. Sang tokoh pria harus menerima kenyataan bahwa justru sang tokoh wanita yang akan merantau ke Jakarta untuk bekerja sambil melanjutkan studi. Sang tokoh pria pun merelakan kepergian kekasihnya itu serta berjanji untuk pergi menyusul pada suatu hari nanti. . Tragis. Tiga bulan kemudian sang tokoh wanita menikah dengan lelaki yang memberinya pekerjaan di Jakarta. Kenduri pernikahannya bertepatan dengan kelumpuhan ayah sang tokoh pria. Praktis, semakin kuat alasan sang tokoh pria untuk tak meninggalkan kampung halaman untuk merawat kedua orang tuanya. . Hingga kini ia masih bertahan sebagai guru mengaji. Kondisi ayahnya tak membaik, pun ibunya semakin tua renta. Sementara itu sang tokoh wanita sudah beranak tiga, hati sang tokoh pria kepada sang tokoh wanita masih tak dapat terpisahkan seperti lemang-tapai. . Penganalogian tokoh yang sangat unik di cerpen ini adalah hal yang membuatku jatuh cinta. Sang tokoh wanita diibaratkan seperti Lemang, yang bila tak lekas disuguhkan dalam satu hari, maka ia akan terbuang sebagai si pulut basi. Sedangkan sang tokoh pria dianalogikan sebagai Tapai, yang makin diperam makin ajaib rasa manisnya. Duh, menurutku ini jenius sekali Pak Damhuri :")


















