Hay, Rev. Apa kabar? Lama tak saling bertukar kabar, ya, kita? Kalau diingat-ingat lagi, satu tahun yang lalu terakhir kalinya aku mengirim surat kepadamu seperti ini. Maaf, Rev, bukannya ingin melupakanmu, tapi aku memang ingin meniadakan sejenak segala kenangan tentangmu. Kamu tahu, Rev? Semakin aku mengingatmu, semakin pula tersiksa bantinku.
Tapi itulah aku, Rev. Tak bisa berlama-lama meniadakanmu. Iya, kali ini aku akan kembali mengirim surat untukmu, surat yang mungkin tak akan pernah kau baca, surat yang mungkin tak akan pernah lagi kau eja aksaranya.
Dan kali ini, di bawah senja pukul lima, di kedai kopi pusat kota seusai aku pulang kantor, sembari menunggu kemacetan, aku kembali menulis surat untukmu. Aku kembali, Rev, dengan cerita baru, dengan petualangan baru tentunya. Semoga kamu siap untuk mendengarkannya, agak panjang, sih, kamu tidak keberatan, kan? Baiklah, aku akan mulai bercerita.
Kemarin, tanggal 01 Februari sampai 04 Februari, aku memutuskan untuk berkelana ke Malang, ke kota yang pernah menjadi persinggahan pertama kita. Kau tahu, Rev, misi petualanganku kali ini adalah untuk mengenang kebersamaan kita. Iya, dengan low budget, sama seperti masa-masa SMA kita dahulu kala. Tapi aku tetap membawa debit card, credit card dan segala aplikasi transaksi lainnya yang sengaja aku instal di handphone.
Selain ingin mengenang masa lalu kita, tujuan utamaku ke Malang adalah untuk riset naskah dan menemui beberapa narasumber yang bisa membagikan pengalamannya kepadaku, mumpung weekend dan libur imlek, Rev. Tapi di luar dugaan, waktu aku bikin story di Instagram, rupanya ada beberapa kawan dunia maya yang mengajak aku untuk menjelajah alam Kota Malang. Kami tak saling kenal sebelumnya, Rev. Selama ini kami hanya berinteraksi di Instagram, Mas Dimas namanya, dia adalah salah satu pengurus TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru), Mas Dimas ini baik sekali rupanya. Nanti aku ceritakan lebih detailnya lagi.
Hari pertama aku di Malang, aku menginap di kontrakannya Rafin Gilang.
Itu adalah yang namanya Rafin, Rev. Anaknya seru, bahkan beberapa kali kami kerap bercanda, ngobrolin banyak hal, seperti sudah kenal lama padahal nyatanya kami baru kenal, kami mungkin sudah seperti sahabat. Ah, andai saja kau ikut, kau pasti juga akan merasa senang jika bertemu dengannya. Ah, ya, dia juga berperan penting untuk naskah saya nanti, Rev. Jangan penasaran, ya? Aku juga tak bisa menceritakan di dalam surat ini detailnya seperti apa, tapi kalau kamu ingin tahu alasannya kenapa, kau bisa datang di alam bawah sadarku, nanti di dalam mimpi akan aku ceritakan kenapa dan mengapa semua itu bisa terjadi.
Lalu, Rev, keesokan harinya, aku pamit untuk meninggalkan kontrakannya Rafin, waktu malam hari, Mas Dimas menjemputku di kontrakannya Rafin, tujuan kami malam ini adalah pergi ke Bromo, sebenarnya bukan ke Bromonya, melainkan ke Bukit B30, kata Mas Dimas lokasi itu sudah bukan termasuk TNBTS. Perjalanan kami kali ini ditempuh dengan menggunakan montor trail. Kau bisa bayangkan bagaimana sulitnya aku pertama kali mengendalikan kuda mesin itu, Rev? Hampir beberapa kali aku terperosok ke dalam selokan! Tolong jangan tertawa, jujur saja aku baru pertama kali mencoba hal seperti itu.
Saat masa percobaan mengendalikan kuda mesin sudah selesai, dan aku rasa aku juga sudah mulai bisa mengendalikannya. Kami yang saat itu berjumlah enam orang mulai membelah jalanan Kota Malang. Gila, Rev, adrenalinku mulai terpacu saat dihadapkan dengan situasi semacam itu. Tapi, Rev, keberanian dan adrenalin yang aku rasakan mulai menciut saat memasuki belantara. Di sana jelas sekali ditulis “Hati-hati Satwa Liar dan Hewan Buas”. Aku mulai ragu, Rev, sempat aku ingin mundur saja, putar balik dan pulang ke kontrakannya Rafin. Tapi Mas Dimas bilang kepadaku, “Di hutan seperti ini, yang bisa bikin kita selamat adalah doa dan keberanian. Kau penggal kepala hewan buas yang menyerangmu, atau kau serahkan kepalamu untuknya. Kau bunuh begal yang ada di hadapanmu, atau kau serahkan nyawa dan hartamu untuknya.” Ah, sial, mau tidak mau aku harus kembali melakukan perjalanan, Rev. Sudah sampai sejauh itu, tak mungkin untuk balik arah dan menyerah begitu saja.
Kami mulai menerabas belantara dengan menggunakan kuda mesin yang kami tunggangi, Rev. Suara mesinnya beberapa kali menggema, mengaung dengan sangat garang di dalam kegelapan. Kami membelah kegelapan, melewati jalanan berkerikil, mempertaruhkan nyawa karena di samping kiri dan kanan kami adalah jurang dengan kedalaman ratusan meter, kami menerabas kabut, mengabaikan segala bentuk ketakutan yang ada. Tak ada penerang di dalam hutan, kami hanya mengandalkan senter dan lampu dari kuda mesin yang kami tunggangi. Rumah penduduk? Jangan harap bisa bertemu dengan rumah penduduk di sana, Rev, tempat itu jauh dari keramain dan pusat kota, jauh sekali bahkan, atau jika misal kamu tersesat di dalam sana, kamu mungkin tak akan bisa kembali dengan selamat, Rev.
Hantu? Hahaha... saya tidak sepenakut itu jika dengan hantu, Rev. Yang saya takutkan hanyalah begal dan hewan buas saja. Tapi, Rev, untungnya Mas Dimas sebelumnya sudah bilang denganku, bahwa salah satu peralatan yang wajib kami bawa adalah senjata tajam, atau kalau bisa senjata api atau senapan. Tujuannya cuma satu, Rev, untuk melawan jika ada serangan yang tidak kami inginkan. Parang berukuran 40 cm yang sengaja aku gantungkan di pinggang telah berhasil mengusir rasa takutku. Dengan begitu ketika ada serangan hewan buas seperti macan, singa, srigala, ular besar yang menggantung di atas pohon, atau babi hutan, aku bisa dengan muda melawannya, aku bisa dengan mudah memegal kepalanya dan dagaingnya yang lezat itu bisa kami jadikan santapan makan malam atau bekal untuk dua hari ke depan. Atau misalnya kalau ada begal, aku bisa dengan mudah menancapkan parang itu ke dalam perutnya, atau kucongkel matanya dengan pisau. Pikirku saat itu, kami yang harus meregang nyawa atau begal yang harus kami bunuh. Kami yang mati konyol karena diserang hewan buas, atau hewan buas itu yang harus kami penggal kepalanya. Ah, Rev... kami terlihat begitu sangat liar sekali malam itu. Andai kamu bisa ikut, Rev, mungkin kamu juga akan menikmati perjalanannya. Petualangan seperti itu yang dari dulu kamu ingini, bukan?
Rasa lelah dan rasa takut akhirnya terbayarkan saat kami sampai di atas Bukit B30. Setelah menaiki bukit menggunakan kuda mesin dan melewati mara bahaya, ada golden sunrise dengan balutan samudra di atas awan yang mulai nampak di kaki langit, Rev. Indah sekali. Kau mungkin bisa membayangkan rasanya jadi aku saat itu seperti apa, Rev? Bahagia, setelah hampir meregang nyawa ketika melewati zona bahaya, akhirnya semesta menghadapkan kami dengan harta karun yang jarang sekali manusia bisa menjamahnya.
Setelah menikmati matahari yang muncul di kaki horizon, kami kemudian mendirikan tenda, memasak makanan, dan setelah itu kami tidur untuk mengistirahatkan tenaga. Sorenya, lagi-lagi ada samudra di atas awan yang muncul tepat di depan tenda kami, Rev, indah sekali, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kami sebenarnya ingin lebih lama lagi untuk tinggal di Bukit B30 itu. Tapi waktu yang kami miliki tak banyak, Rev. Kami harus kembali dengan kesibukan kami masing-masing. Kami harus kembali kuliah, bekerja, ke kantor, dinas luar kota, atau dengan cara lain untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk sekadar menabung atau menyambung kehidupan.
Itulah yang namanya hidup, Rev, harus seimbang. Seperti katamu dulu. Ah, rasanya aku rindu sekali denganmu. Jika sempat nanti tolong balas suratku ini dengan cara memasuki alam bawah sadarku. Karena aku tahu, di sana, di surga tempatmu berada, tak ada tukang pos yang siap mengantarkan suratmu untukku.
Oh, iya, titip salam juga untuk malaikat-malaikan yang selalu setia berada di sampingmu, Rev. Jangan kau ganggung mereka seperti kamu mengangguku ketika kita masih saling bersama. Jangan nakal, kamu bisa ambil apa saja di Surga, bukan? Makanannya enak-enak pasti, makin gendut saja kamu di sana, ya? Hahaha... maaf, aku hanya bercanda, Rev.
Terakhir, akan aku sudahi saja suratku ini, jalanan sudah tidak lagi macet, senja juga sudah menghilang, kopi yang aku pesan juga sudah mulai habis. Aku mau pulang dulu ke rumah. Kamu, baik-baik saja di Surga, ya.
PS: aku lampirkan beberapa foto petualanganku kemarin, untuk mengobati rasa rindumu juga.