Gambaran Besar
Satu waktu saya diajak bertemu oleh seorang teman laki-laki saya di sebuah perpustakaan di kampus. Ajakan tersebut saya iyakan kendati ia tidak memberitahu alasan mengapa ia mengajak saya bertemu. Ketika kami bertemu, ia menceritakan semua masalah keluarganya yang sangat kompleks sampai di satu titik ia mengeluarkan air mata.
Maaf ya Grand, gue cowok, mestinya ga boleh gue kelihatan lemah kaya gini
Ia pun berusaha untuk menahan air matanya agar tidak keluar lagi. Saya merasa ia merasa gagal menjadi seorang pria ketika menangis, di hadapan sesama pria pula.
Gak apa kok, kalau mau nangis itu wajar, gak perlu lu tahan karena lu merasa gagal menjadi laki-laki
Ia akhirnya menangis hingga kondisinya terasa lebih ringan.
Saya sebenarnya sungguh tidak menduga laki-laki seperti dia yang dikenal oleh teman-temannya sebagai orang yang cerdas, sering ikut konferensi, IPK selalu cumlaude, memiliki track record kepemimpinan yang baik, namun memiliki masalah keluarga yang amat kompleks. KDRT yang dilakukan kedua orang tuanya di rumah adalah makanan ia sehari-hari. Terkadang kejadian paling menyakitkan memang terjadi pada lingkaran terdekat kita, salah satunya keluarga.
Sebelum ia bertemu dengan saya sore itu, kadang muncul keinginan di dalam pikiran saya untuk menjadi dirinya. Saya pikir dengan menjadi diri teman saya ini, maka berbagai kenikmatan hidup akan saya dapatkan. Namun cerita sore itu membuat saya sadar bahwa setiap orang sesukses apapun dia memang memiliki cerita kesedihan, namun tidak membagikannya di hadapan publik.
Coba sekarang kita buka instagram, dan lihat story teman-teman kita. Ada banyak sekali postingan pencapaian hidup yang jika kita tidak hati-hati membuat hati kita menjadi risau.
Widih Teman gue abis lunch di SCBD sama Board of Directors perusahaan ternama, lha gue masih nganggur
Lho Si A ternyata baru aja keterima S2 di Stanford pakai beasiswa Fullbright, lha gue mah sampah masyarakat emang ga kaya dia
Wih diklat terus ya temen gue yang udah jadi CPNS, kapan ya gue bisa kerja dengan posisi se nikmat itu?
Wah beruntung ya dia bisa nikah sama si B, lha ini pasangan gue kok ga semapan dia sih
Kita terkadang menjadi risau dan tidak bahagia dengan pencapaian atau kebahagiaan teman-teman kita. Padahal kalau kita lihat ke gambaran yang lebih besar, pasti ada banyak cerita sedih yang ia tidak share ke publik. Sampai di satu waktu ketika kita mendengar cerita sedih mereka, kita perlu mengambil refleksi dengan menjawab sebuah pertanyaan.
Apakah kita bersedia untuk menukar kondisi kehidupan kita dengan kondisi teman kita tersebut?
Pada akhirnya setiap orang memiliki cerita masing-masing. Setiap kita memiliki sebuah gambaran besar yang berisi cerita sedih dan cerita bahagia. Tentu tidak banyak yang tahu seseorang yang terlihat kuat seperti teman saya tadi tiba-tiba menangis karena masalahnya yang kompleks.
Kita terkadang hanya terpesona dengan cerita sukses, namun ketahuilah, mereka yang sukses itu juga menyimpan cerita kesedihan sebagaimana kita.












