Dari Balik Kemudi : Masih Ada Kebaikan yang Menyentuh Hati
Mengemudi kendaraan di kondisi jalanan hari-hari ini bisa dikatakan sangat penuh tantangan. Bagaimana tidak, jalanan kini senantiasa dihiasi lalu lalang kendaraan yang semakin tak terkendali. Baik jumlah maupun jenis kendaraannya.
Belum lagi jika bicara tentang perilaku para pengendara. Banyak ragam perilaku pengendara yang membuat tak habis pikir dan mengelus dada. Sebut saja pengendara yang suka mengebut dan ugal ugalan atau pengendara yang berjalan sesuka hati (belok kanan atau kiri tak selaras lampu sein, menyeberang langsung terobos tak tengok kanan kiri). Semua itu dilakukan seperti tanpa memikirkan keselamatan diri sendiri dan pengendara lain yang kebingungan bahkan nyaris celaka karena aksinya.
Kalau diperhatikan lagi, pengendara saat ini pun nampaknya banyak yang mengalami krisis kesabaran dan kesadaran. Lihat saja bagaimana perilaku pengendara yang tak sabar menunggu lampu lalu lintas. Baru saja lampu berubah warna kuning sudah langsung tancap gas sekencang mungkin atau saat masih lampu merah pun, jika ada celah jalanan kosong, maka akan langsung jalan kencang tanpa menunggu lagi lampu yang berubah hijau. Bahkan yang terparah sampai menimbulkan korban jiwa adalah kasus pengendara yang menerobos palang kereta api.
Dan yang paling sering kualami, yaitu saat akan menyeberang jalan atau memutar balik kendaraan. Barisan kendaraan yang melihat seseorang akan menyeberang jalan bukannya mengurangi kecepatan dan memberi kesempatan, justru malah menge-gas kendaraannya agar melaju secepat mungkin. Seolah-olah sangat rugi jika harus memberikan jeda walau hanya sedetik bagi pengendara atau pengguna jalan yang lain. Aku sampai pernah mengalami tertabrak motor di bagian belakang kendaraanku hanya karena pengendara motor yang tak sabar dan sangat grasak grusuk.
Maka, di dunia jalanan yang semakin penuh huru hara ini, aku selalu tersentuh dengan kebaikan hati para pengendara yang dengan kesadaran dan kesabaran penuh berusaha memberikan jalan dan ruang untuk pengendara lainnya. Pengendara yang rela berhenti dengan sengaja untuk memberikan kesempatan bagi kendaraan atau pengguna jalan lain untuk sekedar menyeberang jalan. Bahkan membantu memberikan tanda agar kendaraan lain di belakangnya mengurangi kecepatan. Terkesan sangat sederhana, namun sungguh ini sangat berkesan.
Aku selalu mendoakan kebaikan untuk para pengendara yang masih ada kebaikan di hatinya untuk peduli pada para pengendara lainnya. Sebisa mungkin, aku pun belajar untuk menjadi pengendara seperti itu, serta menanamkan kesadaran bahwa jika kita memudahkan urusan orang lain, niscaya perjalanan kita pun akan dimudahkan dan dilindungi selalu.
Begitupun dalam situasi kehidupan di jaman ini. Dimana kondisi ekonomi semakin sulit, kondisi negara penuh berita nestapa, ujian akhir jaman yang penuh dinamika, sudah selayaknya kita saling peduli dan melakukan kebaikan apapun yang kita mampu bagi lingkungan sekitar. Menjauhkan diri dari prasangka buruk, ujaran kebencian, apalagi sampai menjatuhkan dan mencelakakan orang lain.



















