Keep the educating yourself and stand with the Palestinians 🇵🇸❤️
Mike Driver
YOU ARE THE REASON
Misplaced Lens Cap
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

tannertan36
Stranger Things

Kaledo Art
Lint Roller? I Barely Know Her
h
almost home
One Nice Bug Per Day

roma★
No title available
dirt enthusiast
Game of Thrones Daily
styofa doing anything

祝日 / Permanent Vacation
ojovivo

Discoholic 🪩
wallacepolsom

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Slovakia

seen from Germany
seen from United States
seen from T1
seen from Argentina

seen from Russia
seen from Türkiye

seen from Spain

seen from T1

seen from Germany
seen from United States

seen from Japan
seen from Australia

seen from United States

seen from France

seen from T1
seen from Germany
@ariandesfi
Keep the educating yourself and stand with the Palestinians 🇵🇸❤️
“Kekhawatiran kita kadang melebihi takdir, kita sudah ketakutan pada hal-hal yang belum terjadi. Padahal, harusnya kita lebih takut pada hal-hal yang sudah terjadi karena kita akan diganjar atas apa-apa yang sudah kita perbuat, bukan apa yang belum kita lakukan.”
— ©kurniawangunadi
Saat Akad Digaungkan...
Akan tiba masanya, seorang anak lelaki menentukan pilihan untuk menggenapkan separuh agamanya. Ya, istilah gaulnya menemukan dan memilih pasangan hidup dunia dan akhirat. Cie ;)
Kalau ditanya, banyak ga sih laki2 yang sudah memasuki usia di atas 20-an tahun galau dengan masa depannya? Hehe. Anggap aja iya. Nah, jadi inilah persoalan kita untuk bisa menghadapi segala seluk beluk kegalauan di masa-masa ini, haha.
Tapi, eh tapi nih ya. Galau sih boleh-boleh aja. Merundung tiap hari menatap kegalauan kita itu yang perlu kita hindari. :)
Nah sob, hadapilah masa-masa menanti pasangan hidupmu dengan semangat. Yakinlah jodoh itu engga ke mana. Krna kamu perlu yakin dengan janji Allah SWT bahwa perempuan yang baik untuk lelaki yang baik.
Jelas ya, bersemangat lah memantaskan diri kamu untuk terus semangat memperbaiki diri lebih baik.
Ada saatnya tiba ketika janji suci agung itu keluar dengan tenang dari mulutmu. Melafalkan kata demi kata yang mengikat janji suci dua insan yang ingin mengukir cinta sejati di jalan Ilahi.
Ada saatnya kau akan tersenyum dan denyut jantungmu bertambah-tambah saat melihat perempuan yang sejak lama kau rindukan berdiri di sampingmu.
Maka, teruslah menjadi insan yang berusaha menjemput bidadarinya dengan cara yang suci.
#CatatanAri #JodohTanpaPacaran #JanjiSuci
Islam itu mudah, tp jangan dimudah kan
islam itu gampang, tp jangan dianggap gampangan
islam itu bicara tentang akidah, tp jangan lupa juga tentang muamalah
islam itu keras, tp bukan menghalalkan kekerasan
islam itu tegas, tp bukan berati tak ada toleransi
islam itu aku kamu dan dia yang mau melakukanya, yang lainya lakum dinukum wal yadin
islam itu syamil dan kamil
Kehidupan saat ini, adalah kehidupan yang amat kita inginkan nantinya.
Saat ini kita hidup, sesuatu yang oleh orang-orang mati begitu diinginkan meski hanya sehari. Hidup kembali ke dunia untuk beramal salih, bersedekah. Sementara kita yang masih hidup, tenggelam dalam kesia-siaan waktu dan kesehatan. Tidak melakukan hal-hal yang bermanfaat, setidaknya bagi diri kita sendiri.
Sibuk memaki hidup yang kita jalani, padahal kehidupan ini, adalah sesuatu yang akan sangat kita inginkan ketika nanti kita mati. Meski sehari. Kesempatan untuk hidup ini akan benar-benar kita inginkan.
Menyeramkan sekali rasanya kalau mengingat-ingat kematian, tapi memang tidak ada nasihat yang lebih bijaksana dari kematian.
©kurniawangunadi | 31 Mei 2020 | 01.07
Bergeraklah, tak hanya berdoa.
Doa adalah senjata, berikhtiar adalah tentang bagaimana kita menggunakan senjata itu. Agar senjata itu tidak hanya disimpan tatkala kita akan berangkat berperang, mengikhtiarkan apa-apa yang ingin kita miliki dalam kehidupan kita.
Agar kita segera tahu, jawaban apa yang kita dapatkan dari doa-doa itu. Agar kita tidak lama-lama mendoakan sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kita. Agar kita bisa segera beranjak, menuju doa-doa yang baru, mengikhtiarkan yang lain. Agar kita tak berlama-lama hidup dalam asumsi, dalam menduga-duga, dalam ketidakpastian yang kita buat sendiri.
Nanti, selepas bertahun kita melewati jawaban-jawaban itu. Kalau memang tidak ditakdirkan untuk kita. Kita akan mendapati bahwa takdir itu adalah yang terbaik, apalagi setelah kita pernah memperjuangkannya. Kita akan memiliki himpunan hikmah yang lengkap, kita akan mememiliki pengalaman berharga dari semua doa dan ikhtiar yang pernah kita lakukan. Meski, tak pernah menjadi takdir kita.
Hingga kini kita menjalani takdir yang lain. Mungkin, sesuatu yang tak pernah ada dalam bayangan kita sebelumnya, sesuatu yang sama sekali tak pernah ada dalam rencana-rencana kita sebelumnya. Tapi, satu hal yang kita tahu, bahwa kita menjalani takdir ini dengan lapang dada.
Karena kita pernah berjuang sekeras itu, berdoa sekhawatir itu. Dan kini kita paham, bahwa apa-apa yang terbaik tidak pernah ada dalam pengetahuan kita sama sekali.
©kurniawangunadi | 27 Mei 2020 | 03.50
Renungan Pribadi Soal Takwa
Disclaimer: ini bukan tulisan edukasi tentang konsep takwa. Ini sepenuhnya refleksi pribadi saya. Tidak disarankan untuk menjadikannya referensi. Mohon diproses dengan pikiran sendiri, tidak ditelan bulat-bulat. Jika tergelitik, silakan lakukan penelitian dan perenungan sendiri.
* * *
Pasti kita udah sering denger terminologi “takwa”.
Kalau ditanya apa itu takwa, kebanyakan orang akan menjawab: “Menaati segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.”
Saya ngga pernah puas dengan definisi itu. Maaf ya, izinkan saya jujur secara brutal, definisi itu normatif dan ngga inspiring. Ngga menggugah selera untuk bersemangat mendapatkannya. (Pahami bahwa saya bukan bilang takwa itu ngga menarik, tapi pemaknaan/penafsiran kita atas konsep takwa yang belum memuaskan).
Iya, menurut saya, kalau sesuatu itu penting menurut sunnatullah (atau hukum alam, versi bahasa universalnya), maka secara alamiah pasti kita akan tertarik ke arah sana. Maka, saya curiga, jangan-jangan ada definisi yang lebih dalam, lebih menggugah, lebih membuka kesadaran daripada yang diajarkan di sekolah-sekolah.
Misalnya, siapa sih orang waras, berakal yang dalam hidupnya ngga pernah bertanya “Kenapa aku ada?”, “Untuk apa aku ada?”, “Apa yang penciptaku inginkan dengan menciptakan aku ke alam ini?”. Saya percaya ini pertanyaan yang universal, yang kalaupun ngga diajarkan di sekolah, secara alamiah kita akan mempertanyakan ini, cepat atau lambat.
Pertanyaan-pertanyaan itu penting. Mereka akan mendorong kita mencari Tuhan, memahami diri kita, mencari petunjuk dari Sang Pencipta–yang semua jawabannya sudah dipersiapkan oleh Allah untuk kita temukan. Karena itu, Allah sudah tanamkan stimulusnya berupa rasa penasaran yang instingtif. Kita tertarik untuk mengenali pencipta kita secara alamiah.
Nah, takwa itu disebutkan di berbagai ayat Al-Quran, menjadi tujuan dari berbagai perintah–yang salah satunya puasa di bulan Ramadhan, maka pastinya penting. Kalau penting, pastinya insting alamiah kita akan bereaksi secara positif (tergugah, terinspirasi) jika kita memahaminya dengan cara yang seharusnya.
Temuan Saya Akan Makna Takwa
Singkat cerita, saya menemukan definisi takwa yang memuaskan bagi hati saya. Saya menemukannya dalam tafsir Al-Quran “The Message of the Quran” karya Muhammad Asad. Definisinya:
Kesadaran akan kemahahadiran-Nya dan keinginan seseorang untuk membentuk eksistensinya berdasarkan kesadaran ini.
Atau sederhananya, takwa adalah “kesadaran akan hadirnya Allah”.
Buat saya, definisi ini lebih memuaskan daripada yang selama ini saya terima. Coba kita tempatkan kedua definisi takwa dalam konteks perintah puasa Ramadhan.
Dalam definisi takwa pertama, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam definisi takwa kedua, kita diwajibkan berpuasa dengan tujuan agar kita selalu sadar akan kehadiran Allah.
Kita tempatkan juga kedua definisi takwa itu dalam konteks ayat permulaan Al-Baqarah.
Dalam definisi pertama, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Dalam definisi kedua, Al-Quran adalah petunjuk bagi orang-orang yang sadar akan kehadiran Allah. Yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang Allah berikan.
Gimana?
Apa lebih bisa dipahami? Apa lebih membuka kesadaran? Apa lebih menggugah? Kalau buat saya, iya banget.
Contoh Implementasi Pemaknaan Takwa
Ketika berpuasa, kita bisa aja minum atau ngemil di siang hari, selama ngga ada manusia yang liat. Tapi yang menahan diri kita apa? Kesadaran akan hadirnya Allah, yang mungkin ngga begitu kita ingat kalau kita ngga puasa.
Ketika berbuka, kita seneng banget tuh, kita berdoa sebelum berbuka, “Ya Allah, terimalah puasaku dan segala amal ibadahku hari ini”. Lagi-lagi, kita distimulasi untuk menghadirkan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ini disaksikan oleh Allah.
Dari situ, sebenarnya kita bisa lihat bahwa menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (khususnya shaum Ramadhan) adalah jalan menuju kesadaran akan kehadiran Allah.
Dengan syarat, ketaatan dalam perintah dan larangan-Nya dilakukan dengan benar ya: kalau shalat khusyu’, kalau puasa ikhlas (mindful, aware, niat dari dalam hati), kalau sedekah bukan untuk ngebuang recehan.
Nah, kesadaran akan kehadiran Allah juga akan memperkuat kemampuan seseorang untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (”Oke, mau menghadap Allah nih, masa’ aku shalat pake baju bekas bobo?”). Jadi, saya pikir ini seperti continuous feedback loop.
Tips Mengasah Kesadaran Akan Kehadiran Allah
Oke, meskipun ini perenungan pribadi, karena ini dipublikasikan maka saya tetap harus bertanggung jawab menutupnya dengan baik.
“Mengasah kesadaran akan kehadiran Allah” adalah closing yang berat, tapi paling engga saya bisa bagikan beberapa usaha saya untuk melatihnya.
Pertama, bangun mental model hubungan antara kita dan Allah yang lebih personal. Alih-alih berpikir bahwa kita cuma satu makhluk yang ngga signifikan dan mungkin ngga Allah pedulikan karena Dia “sibuk” dengan alam semesta dan manusia lain yang istimewa, ingat bahwa Allah juga Maha Dekat, Maha Tahu, Maha Mendengar, Maha Menyayangi, Maha Memperhatikan sehingga kamu bisa berkomunikasi secara personal dengan Allah.
Dia tidak seperti manusia yang kalau banyak kerjaan pusing dan skip, Dia menunggu kamu untuk datang kepada-Nya. Berkomunikasi, berterima kasih, meminta maaf, berharap, menangis.
Ingat juga bahwa Dia available setiap waktu, ngga cuma di waktu shalat–misalnya. Lagi kerja, lagi ngasuh anak, lagi beberes rumah; lagi senang, lagi marah, lagi sedih; kamu bisa berkomunikasi dengan Allah tentang hal seremeh apapun.
Kedua, pahami bacaan dan doa-doa dalam ibadah. Iya, misalnya bacaan shalat, coba dipahami. Caranya jangan cuma baca artinya secara keseluruhan, tapi pelajari kata per kata.
“Rabbi”–wahai Tuhanku, “ighfirli”–ampuni dosaku, “warhamni”–sayangi aku, “wajburni”–cukupilah aku, “warfa’ni”–tinggikan derajatku, “warzuqni”–berilah aku rezeki, “wahdini”–berilah aku petunjuk, “wa’afini”–sehatkan aku, “wa’fu’anni”–maafkanlah aku.
Bisa pelajari juga akar katanya, misal “ighfirli” dari kata “ghafara”, yang artinya “mengampuni”, asal maknanya “menutup”. Wah ini bisa didalami lebih jauh lagi, silakan cari sendiri ya.
Sedikit belajar Bahasa Arab, biar setiap kita mengucapkan doa dalam shalat, hati kita tahu betul kita sedang berkomunikasi apa dengan Allah. Biar setiap beristighfar, bertasbih, bertahmid, hati kita benar-benar mean it.
Ketiga, sering-sering mikirin what this life is all about. Bayangin setelah membaca ini kamu terkena serangan jantung lalu meninggal, kamu ngerasa siap apa engga? Kalau engga, kenapa? Karena ngga ada amal yang bisa dibanggakan? Kalau gitu itu PR kamu, segera bikin amal yang bisa kamu banggakan saat dihisab nanti.
Atau karena banyak dosa? PR kamu adalah taubat + mengubur dosa-dosa dengan amal baik yang banyak.
Kalau ingat bahwa kita belum siap dihitung amal dan dosanya di hadapan Allah, kita jadi bisa melihat apakah karir, bisnis, investasi yang kita upayakan itu adalah sarana mempersiapkan diri atau menjadi distraksi dari apa yang benar-benar penting.
Coba bikin daftar yang harus kamu siapkan agar jika suatu hari kamu terbaring di rumah sakit, sadar ga lama lagi kamu akan mati, hati kamu ngerasa tenang dan siap menghadap Allah, seperti yang dideskripsikan di Al-Fajr:
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.”
Misalnya, jika profil kamu adalah seorang ayah dan suami:
1. Sedekah rutin untuk anak yatim (misalnya ini amal andalan kamu) 2. Istri dan anak yang siap ditinggalkan secara mental dan bertekad untuk menyusul saya di surga (melanjutkan berbagai amal sholeh sepeninggal kamu) 3. Rumah untuk anak dan istri biar mereka punya tempat bernaung 4. Passive income untuk menafkahi keluarga meski saya ngga ada, biar mereka ngga susah dan menyusahkan orang lain (3 dan 4 sekilas materialistis, tapi tujuannya bernilai amal sholeh)
Itu daftar simplistik dan contoh aja.
Poinnya adalah sering-sering melatih diri kita mengingat apa yang paling esensial dalam hidup (yaitu siap ketika sudah saatnya kita menghadap Allah) dan mengkalibrasi terus menerus kesibukan kita supaya selalu dalam kerangka membuat Allah ridha sama kita.
So, mari kita membangun, mengasah, dan menjaga kesadaran kita akan ke-Maha-Hadiran Allah.
Wallahu’alam.
Ini tentang apapun yang tiba-tiba muncul di pikiranmu begitu kamu membaca tulisan ini.
Waktu terbaik adalah waktu yang tepat. Bukan waktu yang terburu atau waktu yang terlambat.
Waktu yang tepat berarti kamu telah siap karena menyiapkan dan tidak menyesal karena gegabah dalam memutuskan.
Dan kamu tak akan pernah sampai pada waktu yang tepat mana kala kamu hanya menunggu tanpa bersiap apa-apa.
Karena waktu yang tepat adalah titik temu antara rencana yang terukur dan realitas yang mujur.
Apapun masalahmu dan apapun yang sedang kamu usahakan, semoga Allah memberkahimu. Semangat, ya!
© Taufik Aulia 2020
Peran Kita
Ramadan sudah berjalan beberapa hari, mungkin masih ada dari kita yang merasa sulit dan bersusah payah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Pada kondisi seperti ini, hampir sebagian besar dari kita merasakan krisis eksistensi diri. Juga merasa rendah diri, karena tak ada yang bisa kita lakukan lagi.
Dalam pikiran kita bertanya-tanya, apa peran kita sebagai manusia tak berdaya? Wabah ini memuat kita menjadi tak bisa apa-apa. Kita bukan lagi siapa-siapa.
Di saat kawan-kawan kita yang lain masih bisa bersedekah di sana-sini, kita masih bimbang, bagaimana menghidupi diri. Karena baru saja dirumahkan oleh perusahaan yang menggaji kita selama ini.
Di saat yang lain bisa beribadah bersama keluarga, kita di sini masih sendiri. Menuntut ilmu di tempat perantuan. Tak bisa pulang, demi memutus rantai penyebaran.
Namun, jangan salah sangka. Nabi telah bersabda, bahwa peran kita sangatlah luar biasa.
“Sesungguhnya Allah SWT menolong umat ini melalui orang-orang lemahnya, yaitu dengan do'a-do'a mereka, dan sholat yang mereka tegakkan, dan keikhlasan mereka dalam amal ibadah.” (HR. An-Nasa'i)
Inilah peran kita, banyak-banyaklah beribadah dan berdo'a. Mungkin kita tak punya jabatan maupun harta. Tapi kita masih punya Allah Yang Maha Pencipta. Inilah peran kita, sebagai tokoh kunci dalam turunnya pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala.
Bisa jadi dengan do'a kita, yang menyebabkan orang lain masih bisa bekerja. Bisa jadi dengan do'a kita, yang menyebabkan orang-orang bisa sembuh dari penyakitnya. Bisa jadi dengan do'a kita, Ramadan kali ini menjadi Ramadan yang paling bahagia.
Maka, manfaatkan bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Di saat kita tidak punya keahlian apa-apa, tapi kita masih bisa berdo'a. Kita masih bisa menolong umat Islam di dunia.
Kegembiraan Berpuasa
“Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan; yakni kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia berjumpa dengan Rabbnya.” (HR. Muslim)
Inilah beberapa alasan mengapa kita harus #RamadanBahagia. Yaitu karena orang berpuasa, bergembira ketika berbuka dan bergembira ketika berjumpa dengan Allah Sang Pencipta.
Bergembira berbuka karena orang berpuasa telah berhasil menyempurnakan puasanya. Telah berhasil tidak melalaikan puasa dan menahan hawa nafsunya.
Bergembira berbuka karena kita yakin bahwa akan ada ganjaran dari setiap perjuangan. Bahwa setelah setengah hari kita bersusah payah menahan, pada akhirnya hal membahagiakan pun datang.
Orang berpuasa juga bergembira, karena suatu saat nanti akan bertemu Allah subahanhu wa ta'ala. Karena Allah, yang selalu ada bersama kita disaat suka maupun duka.
Dialah Allah, yang mencintai kita lebih dari siapapun di dunia. Lebih dari keluarga kita dan bahkan lebih dari pasangan kita. Dan tentu kita juga mencintai-Nya.
Maka, tidakkah kita senang luar biasa jika bertemu dengan yang kita cinta?
Semoga kita semua bisa memperoleh kegembiraan orang yang berpuasa. Semoga puasa kita diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
Bakti Pertama Laki-Laki dan Cinta Pertama Perempuan
Karena salah satu pertimbangan tersulit saat kelak kamu memutuskan menikah, adalah kamu harus meninggalkan orang tua yang kamu cintai, sementara kamu takkan pernah merasa cukup waktu untuk mengabdi
Beberapa hari silam, usai melantunkan Al-Ma’tsurot pagi, aku menghabiskan waktu di kamar ibuku. Sembari bercerita apapun, mendengar ceritanya, sambil memijitinya yang masih terlihat lelah usai memasak untuk sahur kami sekeluarga. Sepertinya beliau sudah mengantuk, lantas kubiarkan saja beliau agar tertidur. Saat tidur itulah, aku melihat lamat-lamat wajahnya. Pancaran cahaya semangatnya tetap tak pernah padam walau sudah dimakan usia senja. Rambutnya pun sudah memutih, menandakan beliau semakin tua. Kerutan-kerutan di wajahnya yang semakin terlihat. Saat aku memijatnya pun, ibu terlihat jauh lebih kurus. Porsi makan ibu sudah tak sebanyak dulu lagi, sudah mulai melakukan pembatasan makanan ini itu, karena alasan kesehatan. Wajah itu, yang tanpa sadar membuat air mataku menetes.
Aku menggenggam tangannya, yang sudah tak sekuat dahulu lagi. Merasakan tangan yang pernah menimangku kala dahulu masih bayi, menggandengku saat masuk TK kali pertama, mencubitku karena kenakalan-kenakalan yang pernah aku perbuat, mengobatiku saat aku sakit, menyuapiku bahkan saat aku disibukkan dengan tugas sekolah yang tak sempat membuatku makan, serta banyak kebaikan-kebaikan lainnya yang pernah dilakukannya.
Bagi laki-laki, ibu tentu saja adalah bakti pertama yang harus dihormati. Dari ketulusannya, menjadi supporting system bagi ayah, mengasuh dan mengasih saat kita di rumah, sudah jauh lebih dari cukup menjadi alasan untuk memuliakan dan menghormati.
Maka jika nanti seorang lelaki telah beristri, barangkali di awal akan ada kecemburuan-kecemburuan sesaat yang akan hadir dari ibu yang telah membersamainya bertahun-tahun. Ibumu tahu dan mengerti akan hal itu, namun ketulusan cintanya lah yang membuatnya pada akhirnya merelakanmu. Bahkan memberikanmu pertimbangan saat kamu mendiskusikan sebuah nama dengannya.
Tapi justru Ibumu akan mengikis rasa cemburu dalam hatinya, dengan memilihkan orang yang terbaik untukmu. Sebab ia tahu, ketulusan cinta istrimu, kelak yang akan membuatnya ia tenang. Membuatmu mampu tetap berbakti walau tak lagi intens setiap hari seperti sebelumnya.
Mungkin pula ibumu yang kelak justru bisa berubah menjadi cerewet terhadap istrimu, bukan semata-mata membencinya, namun justru karena masih terlalu mencintaimu, menganggapmu seperti anak kecil yang dahulu masih harus disuapinya. Dan kamu kelak, bukanlah pemihak ke salah satu, namun engkaulah yang akan menjadi perantara di antara keduanya.
Tak mau mengganggu ibuku yang sedang tertidur pulas, aku pun beranjak ke ruang keluarga. Di sana aku melihat ayah dan adikku sedang bercakap-cakap. Seperti biasa adikku curhat masalah kuliahnya yang susah, masalah teman-temannya di organisasi yang aneh-aneh, hingga terkadang masalah sepele. Aku tersenyum melihatnya, sementara ayahku mencoba mendengarkan walau aku tahu beliau sambil terkantuk-kantuk mengingat semalam beliau lembur.
Pemandangan tersebut membuatku merenung, dan semakin yakin, bahwa ayah memang benar dalah cinta pertama anak-anak perempuannya. Ayah yang akan menjadi pundak tempatnya bersandar akan segala permasalahannya. Ayahnya yang menampung segala curhatan dan air matanya. Ayahnya pula yang kelak akan menyeleksi calon menantunya agar memastikan bahwa putrinya akan dibersamai dengan orang-orang yang tulus melindunginya.
Kelak di hari pernikahan anak perempuannya, ayah pula yang akan menggenggam tangan seorang laki-laki asing, menyiratkan tanggung jawabnya yang kini berpindah pada sosok yang baru saja dikenalnya. Di masa itu, ayah pasti akan terlihat berupaya tegar, walau sesungguhnya ia ingin menumpahkan segala air matanya yang tertahan. Tidak, ia adalah seorang lelaki. Ia tak boleh menangis di depan putrinya. Ia harus tersenyum walau senyum itu terkesan dipaksakan.
Setelah membesarkanmu bertahun-tahun, melindungimu, menjadi sosok pengayom bagimu, kelak ayahmu lah yang justru menyerahkanmu kepada seorang laki-laki, yang barangkali belum teruji sama sekali komtimennya saat ia memintamu baik-baik.
Cinta ayahmu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, terlebih saat kamu berbahagia dengan laki-laki lain. Tapi ia tak pernah mempersoalkannya, dan bahkan ia siap menjadi tempat kembali jika laki-laki pilihanmu malah mencampakkanmu.
Di balik wajah tenangnya, sesungguhnya ia harap-harap cemas, mungkin ia akan lebih banyak diam beberapa hari setelah kamu dibersamai oleh laki-laki yang baru ia kenal. Tapi lambat laun, ia pasti akan merelakanmu, hanya satu kalimat darimu yang mampu menenangkannya, *Aku melihat sosok ayah pada suamiku”
Bagi setiap orang tua, melepas anak-anaknya ke jenjang pernikahan sudah tentu bukan hal yang mudah. Butuh pertimbangan, butuh istikharah panjang, bahkan perenungan berhari-hari. Tapi mereka sadar, bahwa cinta kepada anak-anaknya adalah cinta karena illahi. Dan merelakan mereka ke jenjang pernikahan, barangkali adalah salah satu bentuk makrifat, untuk menggapai cinta Illahi.
Malang, 29 April 2020 09.55
Allah Ada...
Di tengah keterhimpitan yang kau alami, Allah ada. Di peluhnya hidup nan kau rasai, Allah ada. Di setiap episode hidup; naik turunnya, Allah ada.
Dia kuasa meninggikan dan menjatuhkan kita. Maka sial sekali rasanya jika kita bergantung pada makhluk-Nya.
Kamu, tidak sendirian. Kamu, tidak akan pernah ditinggalkan. Rasa sayang-Nya melebihi seorang ibu yang amat cinta pada anak kandungnya.
Maka, rasanya sial sekali jika hidup ini menjadikan mahkluk sebagai tempat ridha. Padahal mahabesar-Nya menjamin kita, dan itu pasti.
UJIAN SEBENARNYA
Apakah kamu akan tetap bersedekah ketika kamu kesulitan?
Apakah kamu akan tetap melaksanakan ibadah-ibadah mu ketika kamu semakin sibuk?
Apakah kamu akan tetap menjaga ucapan dan perkataanmu ketika kamu semakin emosi?
Apakah kamu akan tetap bersabar ketika orang lain menggodamu untuk melakukannya?
Apakah kamu akan tetap menyayangi keluarga ketika justru masalah muncul dari keluargamu sendiri?
Apakah kamu akan tetap menjadi baik ketika kondisinya justru mendorongmu untuk melakukan keburukan?
Seringkali, ketika kita dalam kondisi yang normal, kondisi yang stabil, kondisi yang nyaman, kita sangat rajin beribadah dan melakukan berbagai kebaikan. Namun, ketika kondisi mulai tidak ideal seperti yang kita bayangkan, kita malah jauh dari melakukan kebaikan, bahkan tidak melakukannya sama sekali.
Banyak orang yang rajin sedekah, tak lagi bersedekah ketika dia kesulitan uang.
Banyak orang yang rajin ibadah, tak lagi beribadah rutin ketika dia semakin sibuk.
Banyak orang yang lemah lembut, tak lagi berlemah lembut ketika orang menyulut emosinya
Banyak orang yang menyayangi keluarga, tak lagi menyayangi ketika keluarga melakukan kesalahan yang bahkan tak disengajat
Jangan menjauh dalam ibadah, jangan abai dalam melakukan kebaikan, karena justru dalam kondisi yang sulitlah, kita diuji keseriusan dan kesungguhan kita dalam melakukan ibadah.
Saya percaya, Allah itu maha adil. Ada beda, antara sedekah dari orang berada dengan orang yang kurang mampu walaupun jumlah donasinya sama. Allah itu maha adil, tidak mungkin salah memberi porsi balasan kebaikan.
Semakin sulit suatu kebaikan, amal dan ibadah untuk dilakukan, maka semakin besar pahalanya, karena semakin besar perjuangannya.
Ketika ujian sebenarnya datang, apakah kamu tetap berusaha sebaik mungkin menjalankan kebaikan, atau justru kamu menghindar dan lari darinya?
UJIAN SEBENARNYA Bandung, 27 April 2020 @choqi-isyraqi
Mencuri Mimpimu
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sudah lama ingin menuliskan ini, pada akhirnya malam ini memberanikan diri untuk menulis setelah perenungan ini berputar-putar dalam angan selama beberapa hari terakhir. Terlebih dengan kejadian terakhir, membuat hati ini kembali terngiang pesan salah seorang teman yang sudah menikah:
“Kalau kamu sudah memutuskan untuk menikahi seseorang, berarti kamu harus siap pula untuk menikahi mimpi-mimpinya”
Bagi saya hadis di atas sudah seyogianya menjadi alarm yang kuat untuk para lelaki kelak jika menjadi seorang suami agar benar-benar memuliakan istrinya. Saya menjadi teringat akan novel Love Sparks in Korea tulisan Bunda Asma Nadia yang pernah saya baca beberapa tahun silam
“Kau mencuri mimpi-mimpiku dan aku suka” - Hyun Geun pada Rania Timur Samudra
Bayangkan saja, seorang wanita yang mungkin baru mengenalmu, masih menganggapmu sebagai orang asing dan orang lain dalam kehidupan, memberanikan diri menerima tawaranmu untuk hidup bersama, setelah sudah tentu melalui istikharah panjang. Dia yang selama ini hidup bersama mimpi-mimpinya, dia yang selama ini memiliki kebebasan untuk beraktivitas layaknya manusia lainnya pada akhirnya harus mengabdikan diri dalam kehidupan rumah tangga. Dia yang selama ini hidup nyaman bersama keluarganya, memilih keluar untuk berjuang bersamamu.
Pada praktiknya memang sering demikian, pun ketika diskusi dengan ayah beberapa hari terakhir. Beliau berkata, dari pengalaman teman-temannya, kebanyakan adalah seorang istri yang nanti akan mengikuti suaminya. Jika nanti suaminya bekerja terlebih dahulu, maka setelah ritme kehidupan stabil dan menyesuiakan, istri baru bisa mengikutinya. Jika nanti suaminya melanjutkan pendidikan terlebih dahulu, dan menuntaskan semuanya, maka di situlah nanti istri menyusulnya mungkin baru beberapa tahun silam. Hal inilah yang cukup lumrah di kalangan teman-teman beliau, dan mungkin juga di kehidupan rumah tangga yang sudah terjadi pada umumnya.
Dalam Buku Men are from Mars, Woman are from Venus, John Gray menuliskan bahwa memang salah satu karakter penduduk venus adalah nantinya ia akan banyak memberi selama hidupnya. Hingga bisa jadi sampailah nanti pada suatu fase bahwa penduduk venus sadar bahwa ia sudah terlalu banyak berkorban dalam hidup. Demikian pula penduduk mars akan sampai pada fase sadar bahwa ia selama hidupnya sudah banyak menerima, kebalikan dari penduduk venus.
Barangkali sempat merasakan hidup di Swedia yang menjunjung tinggi equality, sedikit mengubah pola pikir saya tentang kesetaraan, bahwa kelak seorang istri pun berhak untuk berkarya bersama di masyarakat, mereguk pendidikan setinggi-tingginya, bertumbuh bersama-sama suaminya agar sama-sama menjadi orang yang bermanfaat. Bahkan Sayyidah Khadijah r.a. pun setelah menikah dengan Rasulullah tetap menjalankan semua bisnisnya yang kesemuanya dipergunakan untuk perjuangan dakwah Rasulullah. Namun sudah tentu tidak melupakan perannya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.
Hal inilah yang barangkali menjadi perenungan, sekaligus mungkin sempat menjadi ketakutan jika kelak kita menikah, apakah kita hanya sekedar menjadi pencuri mimpi-mimpinya, ataukah kita justru membantu melangitkan mimpi-mimpinya?
Pertanyaan ini terus terngiang mengingat betapa besarnya pengrobanan istri kita kelak di awal pernikahan, terlebih nanti saat sudah memilki anak, bagaimana ia harus menjalankan perannya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, membagi waktu dengan urusan rumah tangga, melayani suaminya, juga jika ia beraktivitas di luar harus mampu menyeimbangkannya. Barangkali sebab inilah Allah menciptakan wanita sebagai makhluk yang multi-tasking, yang terkadang saya sendiri masih dibikin takjub melihatnya, tidak usah jauh-jauh yaitu ibu saya sendiri.
Semoga tulisan ini senantiasa menjadi pengingat bagi para lelaki khususnya, agar kelak jika terbersit keinginanmu untuk menyakiti istrimu, jika kelak ternyata ada konflik antara dirimu dan pasanganmu, ingatlah tentang bagaimana saat kamu mengajaknya keluar dari istana nyamannya utnuk membersamaimu. Ingatlah bagaimana ketulusan dan keikhlasannya menunda mimpi-mimpinya untuk mewujudkan mimpi-mimpi baru bersamamu. Ingatlah, bahwa bilamana ketaatan istri adalah surga baginya, namun itu bukan menjadi alasanmu untuk bertindak semena-mena.
Jika dalam kitab Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menulskan bahwa:
Hanya dengan cinta yang dapat menjadikan setiap permulaan menuju pada penyelesaian.
Maka semoga kelak dalam pernikahan:
Hanya dengan cinta yang dapat menjadikan apa-apa yang telah terlihat selesai, kembali menjadi awal untuk memperjuangkan dalam mahligai ikatan
Selamat berkontemplasi, Selamat berefleksi. Semoga kita semua tidak henti dan lelah-lelahnya untuk selalu mengukir sabar. Untuk selalu mengukir prasangka yang baik kepadaNya.
Malang, 25 April 2020 02.20
History Insight; Menghadapi Bencana Tanpa Ilmu, Berujung Bertambahnya Petaka
@edgarhamas, Founder Gen Saladin | @gen.saladin | t.me/gensaladin
Dalam sejarah Islam, kita mengambil banyak hikmah. Tak hanya sekadar menikmati kehebatan masa lalu, tapi juga untuk belajar dari musibah di zaman dulu agar tak terulang lagi di zaman kita. Apalagi dalam bab bencana, ternyata Ulama kita banyak menulis buku-buku tentang treatment menghadapi bencana.
Dr Ali Muhammad Audah menghimpun 24 kitab sepanjang zaman yang mengisahkan bagaimana Umat mengalami bencana —dalam hal ini wabah penyakit— dan bagaimana pemerintah mereka melakukan penanggulangannya. Salah satu pelajaran penting yang perlu kita garis bawahi adalah kisah yang ditulis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani.
Apa itu?
Dalam kitabnya, 'Badl Al Maun fi Fadhli At Tha'un', Imam Ibnu Hajar mengisahkan bahwa tahun 749 Hijriah atau sekitar tahun 1348 Masehi, terjadi wabah penyakit menyerang Kota Damaskus. Banyak Ulama memberi arahan agar manusia tidak berkumpul dan agar menjauhi keramaian.
Namun apa yang terjadi?
Orang-orang malah tak mendengarkan, "kemudian manusia keluar menuju lapangan luas, disertai para sesepuh. Mereka berdoa dan meminta pertolongan Allah secara beramai-ramai. Tapi wabah itu malah makin besar, padahal sebelum mereka berkumpul, korbannya hanya sedikit." (hal. 329)
Imam Ibnu Hajar pun mengisahkan apa yang terjadi di eranya, "pernah juga terjadi di zaman kita ketika sebuah wabah menjangkiti Kairo. Pada tanggal 27 Rabiul Akhir tahun 833 Hijriah (tahun 1430 Masehi)
Awalnya korban meninggal kurang dari 40 orang. Namun kemudian orang-orang keluar ke tanah lapang pada 4 Jumadil Ula setelah sebelumnya melakukan puasa 3 hari sebagaimana yang mereka lakukan ketika akan Shalat Istisqa. Mereka berkumpul untuk berdoa kemudian pulang ke rumah masing-masing."
Imam Ibnu Hajar melanjutkan, "tak sampai sebulan setelah mereka berkumpul, jumlah korban malah meningkat menjadi 1000 orang perhari dan terus bertambah." (hal. 329)
Beberapa orang waktu itu asal memberi fatwa bahwa berkumpul untuk berdoa itu perlu karena beranggapan "umumnya begitu", dan ada juga yang menerangkan legenda mitos bahwa dulu di zaman seorang raja bernama Al Muayyad hal itu terjadi dan wabah bisa hilang.
"Jama'ah dari Ulama kala itu memberi fatwa bahwa tidak berkumpul adalah hal yang utama untuk menghindari fitnah penyakit."
Sahabat, di saat-saat genting seperti ini, sangat penting kita ikut arahan ulama dan ahli medis. Jika hanya bermodal semangat tanpa ilmu, maka akan lebih banyak merusak dibandingkan memperbaiki.
Kita hanya takut pada Allah, tak takut pada korona. Betul. Sangat betul. Namun justru karena takut pada Allah maka laksanakanlah sunnatullah yang perlu diikhtiarkan.
Dr Majdi Al Hilali menulis dalam Kitabnya "Innahu al Qur'an Sirru Nahdhatina", bahwa sebuah umat yang menyepelekan ikhtiar manusiawi artinya sudah mengkhianati Allah. Sebab Allah memberikan pada manusia hukum sebab-akibat, dan yang tak peduli dengan itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah.
Ikhtiar manusiawi itu bisa dalam bentuk physical distancing, di rumah aja. Dengarkan fatwa Ulama tentang menghindari keramaian, termasuk himbauan untuk sementara waktu tidak shalat Jum'at dulu di masjid. Keputusan itu semuanya dengan dalil dan dengan musyawarah yang panjang. Bukan dengan ego dan kepentingan pribadi.
Sebab nyawa seorang manusia itu mahal harganya. Umar bin Khattab imannya tinggi, tapi ketika diberi pilihan suatu hari untuk datang ke daerah wabah atau kembali ke Madinah, Umar memilih untuk pulang ke Madinah. Kalimatnya terkenal,
"kita pergi dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain."
Maka ambillah pelajaran dari sejarah ini. Agar kita mawas dan tak jatuh dua kali. Agar kelak ketika wabah selesai, masjid kembali ramai dengan kamu. Agar kajian bisa kembali penuh dengan kamu. Semuanya bermula dari jaga dirimu dan ikuti arahan orang-orang berilmu.
Lebih Dekat Dengan Ibunda Aisyah
@edgarhamas
Wah, viral ya lagu Ibunda Aisyah dimana-mana. Berhari-hari YouTube penuh dengan trending video aransemen lagu Sayyidah Aisyah, mulai dari Syakir Daulay, Sabyan Gambus sampai bahkan Brisia Jodie pun ikut menyanyikannya.
Lirik lagunya memang kekinian banget. Deskripsi Ibunda Aisyah dengan romatikanya bersama Rasulullah ﷺ, dilantunkan akhirnya oleh banyak anak-anak muda. Satu sisi, banyak yang akhirnya mulai berkenalan lebih dekat dengan Sang Ibunda; siapakah Sayyidah Aisyah? Bagaimana hidupnya? Apa saja kehebatannya?
Namun di satu sisi, ada sebuah nasihat dari Buya Yahya yang menyejukkan jiwa. Lagu itu ditulis dengan maksud baik, dengan alasan yang baik, namun barangkali cara penyampaiannya kurang beretika pada Ibunda Aisyah dengan terlalu menitikberatkan pada sisi fisiknya. Padahal sejatinya, sebagaimana kata beliau,
"kalau kita sayang pada ibu kita atau saudari kita, kita tidak akan mungkin mau menceritakan berlebihan fisiknya pada orang lain."
Fi sisi lain, beberapa redaksi lagu seperti "Sungguh sweet Nabi mencintamu, Hingga Nabi minum di bekas bibirmu", sejatinya tidak terlalu pas dengan maksud hadits yang sebenarnya hanya menjelaskan "bekas gelas" bukan "bekas bibir."
Yah, ala kulli haal, bukan untuk membedah lagu itu kita membahas ini. Kita perlu bersyukur pada Allah bahwa ini barangkali cara di antara cara-cara-Nya agar banyak lagi muslimah yang makin kenal wanita hebat ini. Wanita yang dideskripsikan oleh Rasulullah ﷺ ketika seseorang bertanya padanya, "siapa manusia yang paling engkau cinta wahai Rasulullah ﷺ?"
Beliau ﷺ menjawab, "Aisyah.", Seseorang itu bertanya lagi, "kalau dari kalangan laki-laki?" Dan Rasulullah ﷺ menjawab, "ayahnya."
(HR Tirmidzi 4264)
Fakta-fakta Tentang Ibunda Aisyah
Tahukah kamu? bahwa Ibunda Aisyah dinikahi oleh Rasulullah ﷺ setelah kemenangan Kaum Muslimin di Perang Badar. Pernikahan ini terjadi di Bulan Syawwal 2 Hijriah, sebulan setelah Badar dan menjadi sangat fenomenal karena Kaum Muslimin sedang dalam keadaan yang bahagia atas anugerah pertolongan Allah di pertempuran heroik itu.
Tahukah kamu? Bahwa Ibunda Aisyah terkenal dengan kedermawanannya pada penduduk Madinah dan mengutamakan kepentingan umat dibandingkan kepentingan pribadi. Suatu hari Ummu Durrah memberikan hadiah 100 ribu dirham kepada Ibunda Aisyah, kemudian beliau membagikannya seluruhnya pada orang-orang padahal beliau sedang berpuasa. Ummu Durrah bertanya, "apakah sekiranya Engkau mengambil beberapa dirham untuk membeli daging untuk berbuka?"
Ibunda Aisyah menjawab, "andai saja kau tadi ingatkan aku, mungkin akan aku lakukan."
(Dikisahkan oleh Ibnu Sa'd dalam Thabaqat Al Kubra)
Tahukah Kamu? Ibunda Aisyah terkenal dengan kehebatan ilmu dan kecerdasan hafalannya. Hal itu membuat seorang Ulama Tabiin terkenal bernama Atha bin Abi Rabah rahimahullah berkata, "Ibunda Aisyah adalah salah seorang manusia yang paling dalam Fiqh-nya, yang sangat didengarkan oleh manusia."
Kesaksian itu dilengkapi oleh seorang sahabat besar Abu Musa Al Asy'ari Radhiyallahu Anhu, "jika ada sesuatu hadits yang tidak diketahui ilmunya oleh majelis sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ, kemudian kami tanyakan kepada Aisyah, maka kami selalu mendapat ilmu darinya."
Selain ilmu-ilmu agama, Ibunda Aisyah juga mewarisi kehebatan keperawatan yang diajarkan oleh Ibunda Ummu Ruman. Salah seorang Tabiin masyhur Urwah bin Zubair rahimahullah berkata, "aku tidak pernah melihat orang yang paling hebat pengetahuan tentang halal dan haram, ilmu dan syair, dan juga kedokteran melebihi Ibunda Aisyah."
Ibunda Aisyah Salah Satu Perintis Madrasah Ilmu Pertama dalam Islam
Meskipun Kaum Muslimin membuka banyak sekali negara di kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, Madinah tetap menjadi pelita yang didatangi banyak orang untuk menimba ilmu. Masjid Nabawi menjadi lebih ramai oleh murid-murid dari seantero mata angin, seperti Kufah, Bashrah, Mesir, Damaskus, dan kota-kota besar lainnya.
Nah, di dekat tempat yang dulunya menjadi kamar Rasulullah ﷺ, saat itu telah berubah menjadi tempat kajiannya Ibunda Aisyah. Disana, banyak orang-orang meminta fatwa, banyak wanita menanyakan pengetahuan Islam dan Ibunda Aisyah menjadi "guru favorit" di Masjid Nabawi tersebut.
Berapa jumlah Hadits yang pernah diriwayatkan oleh Ibunda Aisyah?
Beliau masuk menjadi satu-satunya wanita dari 7 besar sahabat yang memiliki riwayat hafalan terbanyak dari Rasulullah. Siapa sajakah beliau-beliau ini?
7 Sahabat Paling Banyak Meriwayatkan Hadits
1. Abu Hurairah 5374 hadits
2. Abdullah bin Umar 2630 hadits
3. Anas bin Malik 2286 hadits
4. Aisyah binti Abi Bakr 2210 hadits
5. Abdullah bin Abbas 1660 hadits
6. Jabir bin Abdillah 1540 hadits
7. Abu Said Al Khudri 1170 hadits
Wafatnya Sang Ibunda
Karena jauhnya jarak kita dengan Ibunda Aisyah, kita jadi mendapatkan beberapa riwayat kapankah beliau wafat. Namun semuanya sepakat bahwa Ibunda Aisyah dimakamkan di pemakaman Baqi, yang sekarang sangat dekat dari Masjid Nabawi.
Dikatakan bahwa beliau wafat pada tahun 58 Hijriah di usianya yang ke 67 tahun. Beliau wafat di malam Selasa tanggal 17 Ramadhan dan beliau sebelum wafatnya berwasiat untuk dimakamkan malam-malam.
Maka beliau dimakamkan setelah shalat witir dan dishalati oleh orang-orang shalih diantaranya sahabat besar Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Dan ada 5 tokoh besar yang turun langsung ke liang lahat memakamkannya: Abdullah bin Zubair, Urwah bin Zubair, Al Qasim bin Muhammad, Abdullah bin Muhammad bin Abi Bakar, dan Abdullah bin Abdurrahman bin Abi Bakar Radhiyallahu Anhum.
Besikap Terhadap Wabah
Kita semua tahu, bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Ada sebuah wabah yang sedang mengancam kita semua. Jangan sampai kita menganggap remeh hingga membuat kita terlena.
Pemerintah sudah mengeluarkan berbagai kebijakan. Orang-orang mulai membeli banyak bahan makanan dan obat-obatan. Berbagai kegiatan atau pertemuan mulai dibatalkan.
Namun, ada hal yang tak boleh kita lupa. Ialah Allah Sang Maha Pencipta. Yang menciptakan wabah dan juga yang memusnahkannya. Maka terhadap wabah, ada beberapa sikap yang harus kita lakukan sebagai hamba-Nya.
Berusaha
Ialah yang pertama, berusaha sebisa kita untuk mencegah penularan. Mulai dari menjaga kesehatan, rajin mencuci tangan, serta menghindari keramaian. Seperti yang pernah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan.
“Apabila kalian mendengar tentangnya (wabah penyakit) di sebuah tempat, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, dan bila kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar daripadanya sebagai bentuk lari daripadanya”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Berusaha menghindari wabah, bukanlah berarti menghindari takdir-Nya. Tetapi, adalah salah satu cara berpindah dari takdir Allah yang satu ke takdir lainnya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab ketika menghadapi wabah di zaman kekhalifahannya.
Abu Ubaidah bertanya, “Apakah kamu akan lari dari takdir Allah, wahai Umar?” Umar bin Khattab menjawab, "Benar, ini lari atau berpaling dari takdir Allah ke takdir Allah yang lain. Tidakkah engkau melihat, seandainya saja engkau memiliki unta dan lewat di suatu lembah dan menemukan dua tempat untamu; yang pertama subur dan yang kedua gersang. Bukankah ketika engkau memelihara unta itu di tempat yang subur, berarti itu adalah takdir Allah. Demikian juga apabila engkau memeliharanya di tempat yang gersang, apakah itu juga takdir Allah?
Berusaha untuk menghindari penyakit, bukan berarti kita takut mati atau kita terlalu cinta dunia. Tetapi ini adalah tanda bahwa kita manusia, yang mempunyai akal dan pikiran untuk berusaha. Ini adalah tanda bahwa kita umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang menjalankan tuntunannya. Sebagaimana Nabi pernah bersabda, "Ikatlah dulu untamu, lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Berdo’a
Yang kedua, berdo’a meminta perlindungan kepada-Nya. Karena sesuatu di dunia ini terjadi atas kehendak-Nya. Karena Allah-lah Yang Mahakuasa atas segalanya. Maka kita bisa melafalkan do'a-do'a yang pernah dicontohkan Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wasallam.
Do’a Berlindung dari Berubahnya Kesehatan
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ
Alloohumma innii a’uudzu bika min zawaali ni’matik, wa tahawwuli ‘aafiyatik, wa fujaa’ati niqmatik, wa jamii’i sakhothik.
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu. (HR. Muslim)
Do’a Berlindung dari Keburukan Penyakit
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ
Allaahumma innii'auudzu bika minal baroshi wal junuuni wal judzaami wa sayyi il asqoom
Ya Allah, Aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, lepra dan keburukan segala macam penyakit. (HR. Abu Daud)
Lalu rutinkan dzikir pagi dan petang pula. Karena ada do'a untuk meminta perlindungan di dalamnya.
بِسمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهَ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَمَاءِ وَهُوَ السَمِيعُ العَلِيم
Bismillaahil-ladzii laa yadhurru ma'as-mihi syai-un, fil ardhi wa laa fis-samaa’, wa huwas-samii'ul 'aliim.
Dengan nama Allah yang tidak membahayakan dengan nama-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan bumi, dan Ia lah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (HR. Abu Daud)
Bertawakkal
Yang ketiga, bertawakkal kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Setelah kita semaksimal mungkin berusaha, maka serahkan sisanya kepada-Nya. Percayalah bahwa Allah akan memberi yang terbaik kepada kita.
“ … Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. …” (QS. At-Talaq: 3)
Pada akhirnya, semoga kita semua diberi kekuatan dan perlindungan dari Allah subhanahu wa ta'ala. Semoga diberi kesabaran dan kesembuhan, kepada siapa saja yang sedang menderita.