A Late Post : INDONESIA, Tanah Airku, Kebangsaanku, Kebangganku.
Time flies so very fast. Sepertinya baru kemarin sibuk baris untuk upacara di lapangan basket Smada. Sekarang, yang seharusnya juga mengikuti upacara 17 Agustus dengan status sebagai mahasiswi baru bersama teman-teman baru, terpaksa tidak bisa mengikuti karena harus berbaring di rumah sakit. Akhirnya, hanya bisa menyaksikan upacara di Istana Negara melalui televisi kamar rumah sakit. Padahal biasanya.. Semangat buat berangkat pagi sama temen-temen satu kelas. Setelah upacara, pulang duduk di depan tv, atau kadang ikut upacara di alun-alun. Tetapi sekarang, berbeda..
Mendengar Indonesia Raya berkumandang.. dalam hati sambil make a wish. (sambil membuka memori juga, bahwa 3 tahun lalu juga pernah jadi pasukan 17, at least di sekolah haha).
Bukan sedang mengkeramatkan upacara 17 Agustus itu sendiri, tapi lebih kepada menjadikan peringatan itu sebagai “reminder” saya sebagai rakyat Indonesia, sebagai bagian dari bangsa ini.
Indonesia Raya
(W. R. Supratman)
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sana lah aku berdiri, jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru, Indonesia bersatu
Hiduplah tanahku, hiduplah negriku
Bangsaku rakyatku, semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku negriku, yang ku cinta
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya
Sewaktu menyanyikan lagu ini lagi, rasanya seperti digampar, bukan lagi ditampar. Bait pertama yang begitu menunjukkan kalau ini lah tanah airmu, tanah tumpah darahmu, dan di sini lah keberadaanmu dan hidupmu. Tetapi sering kali ketika kita melihat lagi keberadaan bangsa ini, seakan malu hidup di dalamnya. Macet, korupsi, kecurangan, banjir, konflik, diskriminasi, dan lain-lain. Ada banyak hal yang membuat kita, bahkan saya sendiri terkadang berpikir, kenapa dulu nggak dilahirkan di negara lain? Kenapa harus Indonesia?
Tetapi seperti diingatkan lagi, bahwa di sini lah ibu pertiwiku, tanah airku, dan bangsaku. Apapun keadaannya, tetaplah menyerukan, “Indonesia bersatu”. Sebab persatuan suatu bangsa tidak hanya berasal dari perorangan ataupun kelompok, tetapi seluruh elemen yang ada di dalamnya.
Bangunlah jiwanya, badannya, untuk Indonesia Raya. Yang harus ‘bangun’ bukan hanya pejabat atau pemerintah, tetapi seluruh rakyat Indonesia.
Seringkali saya sendiri mengkritisi pejabat atau pemerintah yang saat ini memegang tanggung jawab menjadi wakil rakyat untuk menjalankan roda pemerintahan.Tetapi tidak melihat ke dalam diri saya sendiri bahwa sebenarnya saya juga menjadi bagian dari pembangunan bangsa, perubahan bangsa, dan pemerintahan itu sendiri untuk membawa bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Bagaimana bisa memprotes pejabat yang melakukan korupsi, kalau di dalam proses belajar sebagai seorang siswa kita masih melakukan kecurangan untuk mendapatkan nilai yang baik? Bagaimana bisa memprotes pejabat yang tidak bisa mengatur keuangan negara, kalau di dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang anak yang diberi kepercayaan untuk mengelola keuangannya sendiri saja masih kacau balau? Bagaimana bisa memprotes pejabat yang tidur dalam ruang rapat, kalau di dalam proses belajar di sekolah / universitas saja juga melakukan hal yang sama?
Hiduplah tanahku, negriku, bangsaku, rakyatku, semuanya. Tidak hanya pejabat, tidak hanya pengusaha, pedagang, anak gelandangan, anak-anak terlantar, pemulung, pegawai, tidak hanya yang bekerja, tetapi juga yang tidak maupun belum bekerja. Tidak hanya para pengajar, tetapi juga para pelajar. Pelajar? Ya, pelajar. Karena salah satu aspek penting untuk membangun suatu bangsa adalah pendidikan. Semua berawal dari satu aspek ini. Sejarah, etika, moral, pengetahuan, didikan, dan lain-lain. Sebagai seorang “mahasiswa baru”, pada akhirnya saya sadar bahwa saya tidak sedang datang, duduk, dan mendengar guru/dosen berbicara di depan kelas lalu pulang dengan membawa pengetahuan yang saya miliki dan semuanya selesai. Tetapi, saya sadar bahwa sebenarnya di dalam setiap hal yang saya sedang lakukan saat ini, entah itu sedang menulis, atau membaca, atau mengerjakan tugas, kuliah, dan apapun proses yang saya alami dan saya jalani di dalam “belajar” tadi sebagai sikap dan peran untuk membangun bangsa ini. Tidak perlu menunggu sampai tua untuk berperan, tidak perlu menunggu menjadi presiden dan baru melakukan perubahan. Bahkan saat ini pun bisa, dengan memiliki kemauan yang keras untuk melakukan segala sesuatunya dengan maksimal, baik di dalam pekerjaan maupun pendidikan yang saat ini sedang ditempuh. Karena pembangunan, kemajuan, dan kehidupan suatu bangsa tidak dimulai dari seorang presiden, tidak juga dari seorang anggota dewan, tetapi dari diri setiap orang yang mengaku serta menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari bangsa itu sendiri.
Dirgahayu Indonesiaku! Bangun, terus hidup, terus maju, dan teruslah berdiri sebagai Tanah Airku, Ibu Pertiwiku, kebanggaanku!
Salam Merdeka!
Dirgahayu juga teruntuk my very lovely sista dan salah satu sahabat terbaik, Ilma Alifia Mahardika.












