Laut itu bagaikan seorang wanita
Indah tapi menyimpan segudang misteri didalamnya.
Dari kejauhan pun tampak kenidahannya yang terpancar,
Meskipun kadang kaindahan itu sirna ketika kita
mencoba untuk mendekatinya.
Hembusan ombak bergerak sesuai dengan aturan laut,
Manifestasi dari emosi seorang kaum hawa.
Jika engkau mencoba melawannya,
Pasti hidupmu tidaklah mudah,
Akan berbeda jika engkau mengikuti
Kemana pun arah ombak itu pergi.
Lautan itu tak selalu terlihat ujungnya,
Layaknya wanita yang memiliki segudang
Keinginan, hasrat yang selalu
Menginginkan sesuatu tanpa ada habisnya.
Jadilah sebuah kapal temanku,
Kapal yang kokoh, yang siap
Mengarungi luasnya lautan,
Menuju ke tempat yang engkau inginkan,
Sehingga kebahagiaan ini akan selalu
menjadi milik kita berdua.
Dibuat dengan hati yang tulus
tanpa ada intervensi dari pihak luar, terima kasih
Sungguh bejat kelakuan Raka kemaren sore. Sepatuku yang kujaga dan kusayangi selalu kini telah menjadi sebuah sepatu yang bau, busuk hingga sudah tak sudi aku mau memakainya. Kini aku pun hanya bisa lesu. Sepatuku tak kunjung bisa hilang bau busuknya setelah kemaren jatuh ke dalam selokan depan sekolah. Ya dasar Raka keparat.
Hidupku sungguh tak mujur sekali. Hidup di daerah pedesaan yang terpencil membuatku tak tahan untuk segera lepas dari genggaman budaya yang terlalu absurd. Burung - burung yang terbang pun seolah - olah mengejek keadaanku sekarang. Sungguh malang, sungguh sialnya nasibku. Raka bajingan itu hanya bisa meminta maaf atas kelakuannya itu, namun sayang sepatuku sudah tak bisa tertolong lagi.
Disaat - saat seperti ini aku selalu ingat akan ayahku yang selalu mengingatkanku, bahkan hampir setiap hari aku mendengar nasehat monotonnya yang keluar dari mulutnya.
" Sebagai bagian dari keluarga Sastra kamu itu harus kuat, jangan mudah menyerah. Kalau belum hidup setengah abad janganlah menyesali hidup ini dahulu."
Agaknya meskipun hati ini sudah risih mendengarkan nasehat ini, ada benarnya juga. Suara Ayah masih terngiang - ngiang jelas di dalam pikiranku. Nasehat ini tak bisa lepas saja dari pikiranku meskipun ayahku sedang tidak berada di sampingku.
Lain halnya dengan ibuku, seorang ibu yang dengan polosnya tidak memiliki ambisi didalam hidupnya. Kesengannya semata adalah melihat anak - anaknya hidup dalam kebahagiaan seperti yang dialami oleh kakak perempuanku, Kinasih yang sekarang hidup dengan suaminya yang telah meminangnya. Namun sudah 3 tahun ini dia tidak berkunjung ke rumah kami di kampung. Paling - paling hanya melalui telepon atau hanya sekedar SMS. Meskipun begitu Ibuku tetap menyayangi dia selayaknya seorang anak kandung.
Ibuku bernama Retna, namun lebih suka dipanggil dengan nama panggilan "ibu ben" marena kepiawaiannya menjahit di kampung kami. Agak absurd juga namun ibu tidak mempermasalahkan hal tersebut malahan menjadikannya sebagi motivasi. Ibuku adalah orang yang baik, tapi sayang dia tidak terlalu terbuka dengan budaya baru apalagi budaya - budaya yang terlalu absurd seperti yang terlihat di Televisi sekarang.
Cuaca hari ini tidak bersahabat, sepatuku yang belum kering terpaksa aku bawa ke dalam rumahku untuk aku kipas - kipas supaya cepat kering.
"dasar cuaca sialan" gerutuku.
"Hush, jangan menyalahkan cuaca lah nak ! ga baik ! salah siapa kemaren pake acara surprise ultah segala" sela ibuku.
"tapi buuu....semua orang melakukan itu di jaman sekarang. Apalagi anak - anak baru gede macam aku ini !" balas diriku.
"Dasar kau nak ! telur dan tepung itu mendingan buat makan saja go, ngapain dilempar - lempar ke orang lain. Kasian nak! mubadzir pula !"
Sudah kubilang kan, dia tak terlalu suka dan tertutup dengan budaya yang kebarat - baratan.
"Aduh terserah ibu saja deh, yang penting sepatuku harus kering malam ini supaya bisa buat sekolah besok, kalo nggak aku ga bakalan sekolah"
"Loh bukannya masih ada sepatu yang satunya ya ? " ucap ibuku dengan nada kaget.
"Anu bu , udah jelek jadi males pake"
"Dasar alasan, mana ibu lihat sepatunya !"
"Anu bu, nanti aj adeh bu hehe"
"Hayo , cepetan ibu lihat.. Tak mungkin lah sejelak itu wong belinya baru satu tahun yang lalu. "
Ibu pun terus bertanya tentang keberadaan sepatuku yang satunya hingga akhirnya aku menyerah. Kuambil sepatu tersebut dari kamar dan mengaku kepadanya.
"Ini bu, tapi bagian atasnya sobek hehe" dengan nada bersalah
"Ya sudah nanti ibu jahit biar bisa dipakai. Kalau ada masalah bilang - bilang dong biar Ibu tahu"
Bukannya aku tak peduli dengan sepatuku yang satu, tapi aku tak mau merepotkan ibuku. Membuat ibuku sampai menjahit pakaian kami yang rusak bukan masalah yang sangat mudah bagiku karena hal tersebut sudah aku wanti - wanti untuk tidak terjadi.Pokoknya jangan sampai bisa terjadi.
Meskipun begitu kepiawaian ibuku bermain dengan benang telah membuatku tersenyum lega. Ucapan terima kasih dari mulutku pantas kuucapkan kepadanya.
Sebenarnya dahulu aku tidak seperti ini, semenjak kakak perempuanku meninggalkan kami dan tak pernah memberikan kami sisa penghasilannya untuk kami di kampung dan kabar dari ayah yang tak kunjung kami terima darinya, telah membuat ibuku secara tidak langsung menjadi tulang punggung keluarga untuk dirinya dan diriku. Kebahagiaan yang dulu kini telah sirna dihapus oleh gelombang kesedihan yang terus manyapu keadaan keluarga kami.
Dari benang ibulah, kini aku masih tetap bisa makan,
dan dari benang ibulah masih bisa kujalani hidup ini
dan aku berjanji untuk membalas jasanya yang sangat besar terhdapku
Gilaaaa, langsung 4 hari sekaligus nih? Kenapa ga bikin ceritanya per-day aja? kepanjangan ngga ntar artikelnya?
Sabar ya sabar, ini ga seperti yang kalian pikirkan.
Oke langsung saja aku jawab ya jadi cerita ini bakalan saya mampatin jadi satu sekaligus karena ketidakhadirannya saya didalam acara ini.Jadi kurangkum saja sekilas kegiatan yang mereka lakukan di Semarang yang katanya menyenangkan. Gua ngga akan cerita ko tapi cuma merangkum kegiatan mereka hehe.
Insyaallah untuk cerita selanjutnya bakalan saya buat tiap day kok ( mirip osjur gitu ). Oke lanjuuuuut, Anyway..................
"Trus lo kemana dong kok ngga ikut?"
Jadi gini ceritanya guys, saya duluan pulang ke kampung halaman saya yaitu kota Pati tercinta. YA, kota dimana jadi sentra perusahaan kacang terbesar di Indonesia yaitu PT Dua Kelinci dan PT Garudafood. Bangga? iya dong bangga. .
Kuhabiskan sisa sisa liburanku di Pati dengan saudara - saudaraku yang pulang dari tempatnya merantau ( jarang - jarang bisa pulang loh), sehingga kuputuskan tidak mengikuti kegiatan Eksplorasti dari awal karena alasan diatas dan jarak Semarang - Pati sendiri cuma sekitar 2 jam loh hoho.
Cerita sedikit tentang kota Pati, hampir tidak banyak orang yang mengenal kota ini mengingat memang kota ini sangan kecil ukurannya. Sungguh ironi, tapi hal ini menjadi salah satu nilai tambah kota Pati di mata saya.
Sejenak saya iseng browsing mencari julukan kota Pati ini saya mendapatkan hal yang cukup mengagetkan bahwa beberapa julukan Kota Pati yang saya dapati sebagai berikut :
- Kota Pensiunan,
Ya, bahkan orang tua saya bilang sendiri bahwa pati ini kota pensiunan dari mulut manis mereka hoho
- Kota Sawah,
Bisa jadi, karena di sini masih terdapat banyak hamparan sawah yang digunakan orang untuk menanam padi. Terlebih kegersangan kota ini hampir saja terjadi jika saja pabrik semen terkemuka di Indonesia jadi membuka cabang pabrik produksinya di sini. Alhamdulillah meskipun penghasilan daerah tidak jadi meningkat.
- Kota 1000 Dukun,
Kalau aku sih ini no comment ya. Wong yang nyaleg aja ada yang emang profesinya kaya beginian. Sabar :D
- Kota manggis
Manggis emang banyak tapi lebih sering jadi konsumsi pribadi. Saya sendiri pun tak memiliki pohon manggis dirumah -_-.
Udah segitu aja ya soalnya ngomong - ngomong serita saya udah mulai ngelantur. mohon dimaafkan hehe.
Jadi, teman - teman saya berangkat dari Bandung menggunakan kereta Pasundan kalau ga salah namanya (iya ga sih??) tujuan ke Solo, But wait a second,(Nada bram) kok ke Solo sih? bukannya Semarang ya? iya mereka abis itu nyambung naik bis ke arah Semarang terus ke rumah teman kita Ricko yang akan menjadi tempat kita bersinggah selam 2 hari di Semarang. Dari bandung 27 Malam, sampai Solo 28 Pagi hingga 28 Siang sampailah mereka ke rumah Ricko.
Berikut perupakan penampakan teman - teman saya ketika di dalam kereta Pasundan perjalanan ke arah Solo ( disini ga ada Fadhil dan Ricko karena mereka berdua udah stand by di Semarang serta saya)
DI SEMARANG
"Foto dulu sebelum jalan2"
"di depan rumah fadhil"
Haduh...jadi intinya mereka bersenang - senang di Semarang tanpa aku dari tanggal 28 sampai tanggal 30 pagi. Mereka main ke curug sesuatu gitu ( maaf lupa namanya nih), terus jalan - jalan ke candi Gedong Songo dan katanya sempet sowan ke rumah Fadhil juga yang merupakan orang Semarang pula.
Jadi langsung ke intinya aja deh ke lokasi wisata mereka, soalnya aku juga tidak terlalu tahu menahu apa saja yang mereka lakukan disana, hoho.
Curug Sesuatu
Sumpah aku lupa namanya curug apa gitu. Tapi satu hal yang aku tahu terlihat dari muka mereka yang capek dan cukup hina menandakan perjalanan mereka untuk mencapai curug ini membutuhkan tenaga yang ekstra. Pasalnya konon medan jalannya tidak bersahabat serta mereka sempat tersesat dengan dalih mereka sempat salah belok. Bahkan mereka sampai melihat oarang terjatuh loh , TERJATUH dan TERJATUH dan sampai badannya memar - memar, wew cukup mengerikan juga (nevermind they`re fine untung rombongan kita tidak ada yang terluka). Meskipun begitu mereka akhirnya sampai ke curug sesuatu itu meskipun katanya kaki mereka serasa menjadi batu, tangan menjadi tak bertulang, dada kembang kempis, keringat yang bercucuran sampai - sampai mulut pun susah untuk menyatakan cinta yang terpendam ini.Tapi semua itu terbayar oleh keindahan curug yang sangat menawan
Selanjutnya menikmati indahnya Candi Gedong Songo. Katanya disini terdapat songo(sembilan) candi tapi tinggal 5 yang masih berbentuk karena empat lainnya sudah hancur. So overall disini juga terdapat kawah panas gitu dan emang hot loh katanya. Nilai tambah dari tempat in yaitu pemandangannya yang sungguh aduhai. Harga tiket masuknya pun tak terlalu mahal kok. Jadi jangan lupa kalau ke Semarang mampir ke sini yaaa.
Beberapa foto penampakan jalan2 di Semarang :
Jadi sebelumnya saya minta maaf karena tidak bisa mengupload semua foto yang lucu - lucu dan unyu - unyu di sini. mungkin kalau sempet bakal diupload di tempat lain.
Setelah puas muter - muter di Semarang akhirnya pada tanggal 30 pagi mereka meninggalkan Semarang untuk melanjutkan perjalana mereka di Solo, But first let us take a selfie photo ! (nada bram)
"foto terakhir sebelum meninggalkan Semarang"
Akhirnya para eksplorer meninggalkan kota Semarang untuk menuju ke kota Solo. Meskipun rasanya kaki berat untuk melangkah, perjalanan tetap dilanjutkan untuk dapat segera menjajakan langkah kami ke kota yang memiliki julukan "The Spirit of Java."
Thanks guys buat para pembaca yang budiman dan yang saya hormati dan sayangi. Terima kasih dan sampai jumpa di cerita berikutnya hoho.
Rencana yang Bukan Hanya Wacana.
Salah satu kelebihan kami dari STI angkatan atas,
adalah kegiatan yang selalu berujung tidak hanya
wacana belaka. Salute!!