SILENT TREATMENT
Kemampuan berempati dan tingginya adab seseorang salah duanya dapat dilihat dari bagaimana seseorang membangun komunikasi secara asertif dan mendengarkan lawan bicara secara aktif. Termasuk didalamnya tidak suka memotong pembicaraan lawan bicara (meski berbicara dengan anak kecil sekalipun), dan tidak meninggalkan begitu saja pembicaraan yang "belum selesai". Hal ini adalah salah satu hal penting dalam sebuah hubungan, terkhusus dalam sebuah keluarga; antara suami dan istri, orang tua dan anak, antara kakak dan adik. Juga hubungan yang lebih umum, diluar hubungan keluarga. Kemudian jika kita tarik bahasannya kepada silent treatment yang mayoritas dari kita menilai buruknya sikap ini adalah dikarenakan sikap ini dinilai dapat merusak mental seseorang. Yaitu dengan cara melakukan penolakan untuk berkomunikasi ataupun mendiamkan dan menghiraukan keberadaan seseorang, sebagai hukuman. Bagi saya pribadi, sebelum menilai buruknya sikap ini. sebaiknya kenali dan telusuri terlebih dulu
Apa sebabnya dan kenapa seseorang melakukan 'silent treatment". Baru kemudian setelahnya dapat kita simpulkan, apakah sikap ini sebagai sikap yang buruk atau malah pilihan terbaik untuk dilakukan. Buruknya sikap ini adalah ketika seseorang melakukannya benar-benar tanpa mengajak bicara, memberikan pemahaman, membangun dialog yang
baik ataupun pengingat sebelumnya. Sedangkan jika seseorang memilih 'silent treatment" sebagai pilihan terakhir; setelah ia berusaha menurunkan egonya untuk mengajak bicara, memahamkan, namun tidak diindahkan. maka pilihan ini tidaklah dapat dinilai keliru. Bisa jadi diamnya seseorang juga adalah pilihan sikap yang diambil untuk menenangkan dirinya terlebih dulu, ia khawatir tidak dapat mengontrol emosinya jika tidak menenangkan dirinya dengan diam. Namun sikap diam yang paling baik ketika hal ini dilakukan adalah setidaknya memberikan sedikit pengertian, semisal dengan kalimat: "Aku ingin kita bicarakan ini setelah aku/kita sama-sama tenang, boleh?"
jangan membiarkan masalah dibiarkan menumpuk tanpa dibicarakan dan diselesaikan, dan jangan menganggapnya sepele. Meskipun pada perkara yang dianggap kecil sekalipun. Hubungan yang berujung menjadi "asing" pemicunya adalah tidak adanya komunikasi yang baik, tidak adanya sikap ingin mendengar secara aktif ataupun tidak ada empati didalamnya, yang berujung "losing interest", tidak ada kelekatan atau "bonding" yang kuat, sehingga ikatan emosionalnya tidak terjalin dengan baik. Sebaliknya, jika dalam sebuah hubungan satu sama lain selalu
mengedepankan komunikasi yang baik, satu sama lain mau mendengarkan secara aktif, selalu menganggap penting untuk dibicarakan bersama.. maka bondingnya akan kuat; tidak akan mudah 'pecah" oleh keadaan, satu sama lain merasa di "penting" kan. Saya setuju dengan kalimat ini: "I don't like to ignore and being ignored. I don't easily give up on people. But when I feel like they don't care about me, and they don't show any interest in me, I think I should stop to stay around."
nyambung gak ? disambungin aja :)
#abdullahyusuf11

















