Mari kita belajar dari para salaf:
Diriwayatkan dari Abu Qalabah, bahwa Abu Darda pernah bertemu dengan seorang laki-laki yang melakukan suatu dosa, dimana mereka (orang-orang) telah mencacinya. Maka Abu Darda berkata, “Bagaimana menurut kalian jika kalian menemukan dosa itu pada hati kalian, apakah kalian akan mengeluarkannya?’
Mereka menjawab, ‘Ya benar’
Abu Darda berkata, ‘Maka janganlah kalian mencaci saudara kalian. Sebaiknya pujilah Allah karena Dia-lah yang telah menyelamatkan kalian dari dosa’.
Mereka bertanya, ‘Apakah sebaiknya kita membencinya?’
Abu Darda menjawab, ‘Innama ubghidhu amalahu, fa idza tarokahu fa huwa akhi -sesungguhnya yang aku benci adalah perbuatannya. Jika ia sudah meninggalkan perbuatannya, maka ia tetap saudaraku’. (HR. Thabrani)
Begitulah sikap mulia Abu Darda dalam menyikapi pelaku dosa. Padahal kalau dilihat dari persfektif kesucian hati beliau, tentu saja beliau lebih pantas untuk mencaci para pelaku dosa.
Sebagaimana kita ketahui, Abu Darda radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal dengan figur taat beribadah dan terkenal karena zuhudnya.
Begitu pula dengan Abu Dujanah.
Abu Dujanah berkata, “Tidak ada sebuah amalan yang paling aku yakini bisa memberi manfaat bagiku di akhirat selain dua perkara. Yang pertama, aku tidak pernah berbuat sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku. Dan yang kedua, selamatnya hatiku terhadap kaum muslimin (tidak berburuk sangka dan tidak menyakiti kaum muslimin.” (Siyar A ‘lam an-Nubala’ I/243).
Dapat pesannya? Posisikan ketika diri kita berbuat dosa/maksiat, apakah kita mau dibenci orang lain sedemikian? Tentu inginnya adalah mereka cukup membenci dosa/maksiat yang kita lakukan, bukan semua yang ada di diri kita bukan? Seperti yang saya posting beberapa hari lalu,
“Jangan pernah membenci orangnya, benci lah hanya kepada hal tidak baik yang sudah dilakukannya, karena manusia itu BISA BERUBAH.“
Barangkali kalimat tersebut akan lebih mudah di install kedalam hati, dengan menempatkan diri kita sebagai orang yang PERNAH BERBUAT SALAH, dan menginginkan diberikan kesempatan kedua, ketiga, ke empat, atau kesempatan kesekian kalinya, yang sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.
Karena bisa jadi kita sendiripun adalah manusia yang tidak mampu berubah dengan cepat, tetapi tidak ingin menerima penghakiman sebagai manusia yang dibenci oleh orang lain, wal ‘iyadzu billah.
Wallahu a’lam.














