Perempuan adalah Perempuan adalah Perempuan
Malam ini pukul 11:11. Baru sampai setelah menonton About A Woman-nya Teddy Soeriaatmadja di sebuah pemutaran + diskusi dari kumpulan orang-orang yang senang mengadakan pemutaran + diskusi. Belum nonton dua buah film Teddy sebelum ini (yang masuk ke triloginya juga; Lovely Man dan Something in the Way), jadi gak bisa bicara banyak saat orang-orang bilang apakah ini tentang agama, seks, dan (apa gitu satu kata lagi lupa) yang dibilang trikotomi oleh seseorang lainnya. Lucu memang. Bukan filmnya, tapi diskusi yang mengikutinya. Entah memang karena diskusi itu dikonduksi di ruang publik (setidaknya ada satu-dua orang lain yang kita anggap lebih penting dari kita; atau sama pentingnya; yang kita senang kalau mereka tau eksistensi dan pemikiran dan pendapat-pendapat eklektik kita; yang terlihat berisi dan berwawasan semesta), atau memang ada seliweran-seliweran frasa mengganggu di kepala, jadinya beberapa orang kalau sudah mulai ngomong seperti ga akan bisa berhenti, mulutnya seperti punya kepala sendiri.
Kalau filmnya sendiri saya suka. Isunya memang sangat bisa dieksploitasi menjadi sesuatu yang beda dari apa-apa yang biasa. Tentang jarak. Peran. Kelas-kelas dan pembagian acak yang kamu dapetnya kayak lotre dari Tuhan. Ya, kamu nanti jadi ibu janda kaya raya yang gausah lagi kerja. Ya, kamu anaknya ya yang pakai kerudung karena coba-coba. Kalau kamu menantunya yang bisnis-bisnis dari madu sampai kambing buat Idul Adha. Kalau kamu… jadi pembantu baru yang tinggal di paviliun belakang kolam renang rumah janda.
Kefiksian, yang gak fiksi-fiksi amat, karena satu dari kita pasti ada yang seperti itu, jadi sesuatu yang kuat dan membuat penonton relate, tapi gak relate-relate amat. Menyenggol sesuatu yang barangkali intim, barangkali tabu, namun dengan perandaian yang membuat kita ingin tahu. Tidak ada yang dipaksakan dari laku ibu janda, bagaimana ia memandang dengan batas jendela, dari kotak bernama rumah yang tak pernah kita lihat ditinggalkannya (bahkan tersedia treadmill juga agar tak perlulah beliau jalan sore rumpi dengan tetangga). Cahaya-cahaya samar di dapur, di kamar belakang, memberikan kesan gelap-terang yang menciptakan ilusi kabur dari pikiran-pikiran kedua sentral cerita, si pembantu baru maupun si ibu janda.
Hidangan cap sosial memang selalu menarik untuk disajikan, tapi menarik pula untuk selalu dilakukan kembali di kenyataan (saya mencap, kamu mencap, kita semua dicap). Sulit untuk memiliki tujuan lain menyajikannya bila memang bukan untuk ditampilkan dan ditelan bulat-bulat. Hidangan seperti ini tidak akan menghasilkan yang baik dari saluran pembuangan badan, karena memang bukan untuk perubahan. Peran-peran tetaplah peran-peran tetaplah peran-peran dalam kungkung lingkaran orang-orang-orang. Perempuan tetaplah perempuan tetaplah perempuan, dengan latar seperti apapun, keadaan bagaimanapun, usia berapapun.
(Seperti perempuan juga, hari ini saya sedang puncak-puncaknya PMS. Menyebalkan karena dengar seseorang bilang klise jadi klisyé aja sebalnya bukan kepalang. Tapi karena emosi juga jadi bisa menyusun kalimat walaupun rasanya tak perlu dibaca siapa-siapa selain saya... hehe)
Bandung,
Sabtu, 19 Maret 2016.









