"Yours Truly, Jens Lekman” dan Secara Umum Musik-musik yang Dipilih oleh Yours Truly
Kalau dihitung sampai sekarang, sekitar enam bulan sudah dilewati dengan dengerin Jens Lekman terus. Beberapa minggu diselingi dengerin Alvvays-nya Alvvays, Simon & Garfunkel (album Parsley, Sage, Rosemary and Thyme; Sounds of Silence + The Collection), Suburban Light-nya The Clientele, Ari Reda, Bin Idris, Sinestesia-nya ERK, Teriakan Bocah-nya KPR, Another One-nya Mac Demarco, sama karbit A Moon Shaped Pool-nya Radiohead waktu begadang terus karena ngerjain Tugas Akhir dan tiga album + dua ep Jens Lekman cuma cukup membeli sekitar 3,5 jam dari berjam-jam tidak tidur dalam sehari. Nomor-nomor di atas kelihatannya banyak padahal kalau distatistikkan, ya memang cuma itu yang didengarkan dalam kurun waktu enam bulan.
Akhir-akhir ini malah lebih aneh lagi, semenjak resmi jadi pengangguran dan balik ke rumah di mana ada adik kakak mama bapak, suara-suara jadi lebih banyak dari tempat tinggal biasanya. Hujan dan angin juga swish-swish kendaraan pun makin dekat suaranya. Telinga sudah puas as it is, kalau ditambah bunyi lainnya malah akan malas lalu ia tidur. Satu-satunya momen butuh dengar musik, jadinya, cuma di isolasi ruang kamar mandi. (Ditambah telah ter-develop juga sebuah kebiasaan saat tinggal sendiri untuk memilih sebuah album untuk menemani ricik-ricik pancuran; yang kurasinya agak lama sampai waktu siap-siap jadi makin molor; dengan parameter kelewat fleksibel seperti suasana hati/kesesuaian dengan air dan wangi/durasi/kejadian yang baru terjadi)
Di momen-momen kamar mandi itulah, pilihan jadi sangat terbatas, karena sudah pasti laptop tidak bisa dibawa ke dalamnya yang penuh air sementara pustaka musikku yang paling lengkap ada disitu (selain di external harddisk yang nasibnya malang sekali karena sudah jatuh dua kali). Satu-satunya cara adalah memutarnya dari smartphone (yang nggak smart-smart amat ternyata karena memorinya lebih sedikit dari ikan dori), dengan lagu-lagu yang tidak terbaharui dari tahun lalu; isinya beberapa album seperti Crimson Eyes-nya Sigmun, dua album Mac Demarco, soundtrack Frank, serta Depression Cherry-nya Beach House.
Bahkan dengan pilihan yang sangat sedikit itu, yang akhirnya dipilih ternyata tidak semua, melainkan lebih sedikit lagi. Sudah dua minggu ini tidak dengar album lain selain Depression Cherry dan Salad Days, dan rasanya itu bukan karena pilihan yang singkat tetapi otak yang berkognisi mandiri (ngga deng, mungkin ada tukar-tukar informasi dengan hati) memang bekerja dengan cara aneh + rasanya ngga mau coba-coba yang baru kalau dalam hal ini.
Mendengarkan musik dalam single-single juga bukan pilihan yang menarik. Rasanya musik baru utuh, baru punya cerita, kalau didengarkan sebagai bentuk kesatuan lagu pertama hingga lagu terakhir. Pilihan ini juga sudah jadi kebiasaan sejak lama (kemungkinan karena saat menggiati kaset lagi, lagu-lagu tidak bisa dipilih seenaknya kalau ngga mau capek tekan tombol ffwd/rewind yang ngga presisi itu) sampai-sampai malas rasanya untuk ikut dan update single yang baru rilis. Sementara, secara umum, kurang lebih seperti attachment pada Jens, rima-rima cepat yang dia bangun adalah faktornya setelah kenalan dengan musiknya. Konsistensi cerita juga, di mana nama-nama wanita di hidupnya bertaburan di setiap lagu di setiap album, beda-beda. Pada Depression Cherry juga, terjemah yang kaya dari ranting dan cahaya adalah apa yang membuatnya sanggup gak di-delete-delete selama satu tahun lebih dari playlist hpxkamarmandi. Beberapa nomor kesukaan juga, kalau diperhatikan dan dicari-cari kesamaannya, punya faktor-faktor bercerita yang sama, padahal musiknya bukan yang paling megah atau paling rumit, tapi paling mendukung untuk cerita yang dibangun agar membran timpani langsung terkoneksi dengan hati.
Bukan pada manusia saja, ternyata, hal-hal kayak gini terproyeksi. Dan terutama bagi saya, musik memang lebih personal ketimbang buku atau filem, ditambah sebenarnya ngga paham sama sekali tentang not dan kunci, jadinya yaa.. riviu-nya gak bisa kalau mesti objektif!
Bukan riviu, tapi curhat.
*post ini akan di-update di kemudian hari dengan list nama-nama wanita yang nongol di album Jens Lekman.