Pasien-Dokter #3
Datang seorang ibu bersama suami dan anak perempuannya yang masih kecil.
Pasien: Dokter, minta tensi suami saya ya dok.
Dokter: Wah bapak gimana keadaannya bu? Sudah enakan dari 2 minggu lalu? Sudah bisa ngomong?
P: Alhamdulillah, dok. Tapi ya masih nggak jelas. Lama ya dok kalau kayak gini?
D: Iya bu. Bisa berbulan-bulan bahkan.
P: Ya harus sabar ya dok ya.
D: Iya bu. Harus dilatih, biar lancar ngomongnya dan dijaga betul keadaannya. Kalau ndak, bisa lebih parah nanti, bisa lumpuh separo badannya. Berhenti ngerokok.
P: Nah tuh pak. Masih ngrokok terus ini dok.
D: Mulai dikurangi ya pak. Kalau bisa ndak usah ngrokok. Santen santen, goreng goreng juga.
P: Kalau santen ndak begitu suka ini dok.
*mulai nensi pasien*
P: Kayaknya saya pernah lihat dokter. Dokter dulu koas di RSUD tahun 2005 ya? Saya ingat betul anak saya dulu ditangani sama dokter. *sambil tersenyum sumringah
D: Wah, ini adeknya bu? *sambil rada kaget tapi tetep menanggami dengan ramah-sok iyes lah
P: Iya dok. Ini adeknya. Kakaknya sekarang sudah usia 16 tahun.
Ternyata si ibu enggak maksud dengan pertanyaan saya. Mungkin pertanyaannya salah juga ini mah. Sebenarnya ibu ini mungkin tidak sadar, saya sedang duduk di balai pengobatan ini memakai jas seragam. Saya mah positif thinking aja ya, siapa tahu memang profesionalitas yang nampak sudah sangat sesuai dengan harapan masyarakat. Haha..
-Ummu, 25062016









