Matahari, ia selalu kembali dengan sinar yang sama setiap harinya, membagi kehangatan ke seantero dunia, menjadi tameng setiap kisah yang pernah, dan akan tercipta.
Siang itu, kala matahari merambatkan energi panasnya ke bumi, dua orang gadis tengah berdesak-desakan di atas sebuah angkutan umum, menuju sebuah tempat untuk menaiki angkutan umum berikutnya.
“Halte berikutnya, halte bandara Sultan Syarif Kasim II. Bagi penumpang yang akan turun di bandara harap mengambil posisi ke dekat pintu bus. Terima kasih.”, kondektur bus memberikan instruksi.
Ya, dua orang gadis itu menuju bandara. Koper ungu bermotif bunga-bunga jadi salah satu bawaan besar mereka, ukurannya menggambarkan sebuah kepindahan.
“Kamu benar-benar tak ingin mengambil beasiswa itu, Ndin? Kamu rela membiarkan aku pergi ke tanah Jawa seorang diri? Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?”, salah seorang gadis membuka pembicaraan, sembari mereka berjalan keluar dari halte.
“Iya, sudah yakin, Ri”, jawab si gadis, singkat.
“Ah, aku tak sanggup menjalani hari tanpamu. Sekian lama kita bersama akhirnya harus terpisah karena cita-cita.”, keluhnya.
“Kamu tak boleh begitu, Ri. Di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Mana mungkin ada orang yang sama menetap lama dalam hidup kita. Kamu harus ikhlas berpisah denganku. Demi kehidupanmu yang lebih baik, demi kebahagiaan di hati orang tuamu.”, pembicaraan mendadak serius.
“Tapi aku takut sepi menyerangku saat kau tak ada di sampingku.”, keluh Riri pada Andin.
“Hei, kenapa kalimatmu bagaikan seorang kekasih? Haha.”, tawa Andin, geli.
Andin dan Riri, mereka adalah teman, sahabat, saudara, entahlah apa namanya. Pertemuan mereka tak lama, mungkin tak cukup 500 hari. Tapi, ada ketergantungan di antara mereka tanpa mereka sadari.
Tempat kursus jahit, disana mereka pertama kali bertemu. Riri adalah anak baru di tempat kursus itu, dan Andin adalah salah satu tutornya. Umur mereka tak sebaya benar, tapi hampir sebaya. Perbedaan usia bukan penghalang untuk lahirnya sebuah persahabatan.
Entah dari mana datangnya ketergantungan yang tak mereka sadari. Andin, baginya ada kisah hidup yang baru sejak kehadiran Riri. Ia anak tunggal yang selalu berimajinasi memiliki adik sejak lama. Andin membutuhkan Riri untuk memenuhi keinginannya menjadi seorang kakak yang sebenarnya. Dan Riri, ia adalah seorang anak perantauan dengan segala jenis tingkah polah yang memerlukan seorang Andin untuk menyelesaikan semua masalahnya di tempat kursus.
“Kita memang bukan sepasang kekasih, tapi sepaket adik kakak yang saling membutuhkan.”, serempak mereka menjawab, berlagak bagaikan bintang iklan kosmetik.
Berjalan lagi mereka menelusuri bandara sambil mengenang-ngenang kekonyolan yang pernah mereka lalui.
“Kamu masih ingat waktu kita darma wisata dan camping ke sebuah desa di daerah Seberang?”, Andin mulai mengenang.
“Masih. Memangnya ada apa?”, Riri berlagak lupa.
“Waktu itu kan kamu merengek sama aku minta ditemenin beli underwear baru karna punya kamu basah semua kena hujan. Haha. Geli banget tau ga sih beli yang begituan di kampung orang. Mana aku lagi yang buka bungkusan dan mengira-ngira pas atau nggak buat kamu. iuhh…”, Andin tak kuasa menahan geli.
“Haha. Jangan ingat itu lagiii. Aku maluuh. Cukup itu jadi rahasia kita.”, Riri berusaha menutup mulut Andin yang tertawa agak terbahak.
Mereka masih berjalan santai dengan semua kenangan sampai akhirnya mereka tiba di batas pengantaran pemumpang.
“Okay, sudah waaktunya kita berpisah.”, Andin mulai menutup perjalanan mereka.
“Ah..Andin”, Riri menghela nafas, matanya mulai berkaca.
“Sebelum kita berpisah, biarkan aku memberikan petuah. Dengarkan aku. Sejauh apapun kau pergi, kamu harus ingat satu hal. Kau adalah adik kecilku, dan akan selalu begitu. Tak masalah kau akan mengenangku juga atau justru melupakan semua kenangan kita.. Benar-benar bukan masalah. Aku hanya ingin kau kembali lagi seperti dulu, seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku hanya ingin kau tak kehilangan dirimu. Kau juga harus ingat, bahwa tak ada seorangpun yang bisa memperjuangkan hidupmu selain kamu sendiri yang memperjuangkannya..”, nasihat Andin, panjang lebar.
Riri tak kuasa menunda pelukan, tangannya langsung menggapai bahu Andin dan mendekapnya seerat mungkin.
“Andin, aku tak ingin pergi.”,deras air matanya méngalir.
“Kau harus pergi, kau tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Pergilah.. Ini kesempatanmu untuk membuktikan diri.”, Andin membujuk.
“Andin, aku takkan melupakanmu. Kau kakak terbaik yang pernah ada. Walaupun tak ada setetes pun darah yang sama mengalir di tubuh kita, tapi kau sangat menyayangiku. Walaupun aku sering membuatmu kesal, tapi kau tak pernah berhenti peduli padaku. Terima kasih.”, Riri makin terisak.
“Iya aku percaya itu, walaupun kau sering membohongiku. Haha.” Andin lagi-lagi berusaha membujuk Riri.
“Sudahlah, pergi sana. Nanti kamu ketinggalan pesawat.”, lanjut Andin.
“iyaa.”, Riri mengeluh dalam tangisnya.
“Dimanapun kamu berada, selalu jaga sholatmu, jaga kesehatanmu, dan jaga rasa syukurmu. Kamu harus bahagia.”, pesan terakhir Andin.
“iyaaa.”, desah Riri yang tak mau beranjak.
“ kalau kamu butuh bantuan, call center ku menyala 24 jam. Ya sudah, pergi sana.”, Andin memaksa Riri.
Riri, gadis itu akhirnya melangkahkan kakinya pergi, merelakan kepergiannya seorang diri ke perantauan sana. Meninggalakan Andin yang tertindas sepi kehilangan adik kecilnya. Sepi yang entah kapan akan berakhir.
Riri pergi. Andin terperangkap rindu. Akankah mereka bertemu lagi dengan kebaikan yang baru? Entahlah, hanya Allah yang tau. Percayakan saja pada-Nya, Dia lah Yang Maha Tau atas pertemuan-pertemuan baik untuk hamba-Nya.
PS : tak ada seorangpun yang akan menetap lama dalam hidup. Ikhlaskan, dan biarkan dirimu terbiasa dengan kehidupan yang baru. Tenang saja, nanti akan datang skenario terbaik lainnya. Kau hanya perlu sabar menunggu dan bersyukur. Itu saja.
bersama tulisan ini ku sampaikan rindu yang tak tersampaikan oleh waktu. Hei adik kecil, kakakmu rindu (:
Fenni Marriza. Pekanbaru 7 Ramadhan 1438 H