Sore itu jalur Bukittinggi-Padang Panjang padat merayap, membuat semua orang yang didesak waktu tak lagi menjaga jarak temu agar kendaraan mereka tak beradu.
Bam!
Tiba-tiba ada suara benturan dari belakang, dan benar saja sebuah sepeda motor menabrak bagian kiri mobil travel yang kami tumpangi.
"duh, bakal lama ini", keluhku dalam hati.
Durasi perjalanan Pekanbaru-Padang hari itu jauh lebih lama dari yang seharusnya. Libur semester tiba dan macet dimana-mana. Badan lengket, perut lapar, dan bosan membuat permasalahan tabrak-menabrak itu menambah resah gelisah. "Berapa lama lagi."
Tapi nyatanya keluhanku tadi tak memakan banyak waktu. Driver travel masuk mobil dan curhat sebisanya.
"Mentang-mentang saya supir travel, terus saya bisa ditekan gitu.", tuturnya agak ngedumel.
"Wong dia yang nabrak, malah dia yang minta ganti rugi.", lanjutnya.
"Sabar. Seharusnya nggak boleh begitu. Kita ini semuanya sama di hadapan Allah. Mau menteri, mau supir, mau pedagang di pasar, mau apapun jabatannya, semuanya sama di hadapan Allah. yang membedakan adalah ketaqwaannya.", jawab seorang penumpang di bagian tengah yang ternyata adalah pensiunan guru.
Nyess..
Aku yang sedari tadi duduk ngantuk di barisan kursi paling belakang langsung tersadar. MasyaAllah, barangkali itu hikmah dari tabrakan kecil tadi.
Lewat kalimat ibu itu Allah mau mengingatkan diri ini dan kita semua bahwa kita sebagai manusia nggak boleh rendah diri, nggak boleh sombong dengan apapun pencapaian, karena yang dilihat Allah adalah ketaqwaan.
Yuk sama-sama memperbaiki diri, saling mengingatkan, dan semoga kita kembali dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin ♡
Pekanbaru | 10 Dzulhijjah 1443 H | 10 Juli 2022 | 9.28 PM.










