Hai Agustus, apa kabarmu? 31 hari telah kunikmati dirimu. Segala memori, manis, pahit, indah, getir, dan lainnya. Kamu berikan secercah mimpi untuk kukejar lagi. Sejuta perasaan yang tak mampu kulukiskan dengan kata-kata. Sekelumit kisah ini akan tetap kukenang. Kenangan. Ya, semua hanya akan menjadi kenangan. Untuk itulah aku berusaha menggali lebih dalam lagi. Meski telah lewat temponya. Karena kenangan ini, ingin kujadikan memori yang manis. Jujur, kamu memberikanku segala yang kamu mampu. Aku sangat menghargainya. Tapi hari itu, tanggal 31, bukanlah hari yang indah. Selalu membayangiku, membuatku menerka-nerka. Entah sampai kapan. Mungkin terdengar egois, tapi bila pun aku harus melewati mu tahun ini, aku ingin menutupnya dengan gula-gula. Aku ingin melepas pahit yang menyekat lidah ini. Supaya tahun depan, aku akan mampu menerimamu seperti aku menerimamu tahun ini. Dan kuharap, begitu juga seterusnya. Kamu tahu? Semua memang tak mudah. Aku menghargaimu yang tak begitu saja menyerah. Sakit memang. Tapi semua telah terjadi. Kamu telah memilih, akan kuterima walau dengan berat hati. Aku hanya berharap bahwa kamu mampu belajar satu hal, " Bahwa memilih adalah sebuah kewajiban. Tapi menjalani komitmen atas suatu pilihan, untuk itu butuh sebuah kedewasaan." I will never give up on you. Karena aku yakin, haq-ul yaqiin, bahwa suatu saat nanti kamu akan mengerti. Jutaan kenapa yang melintas di pikiranmu dulu, akan terjawab. Entah kapan, aku tak tahu. Tapi bila saat itu tiba, kamu tahu pintuku selalu terbuka untukmu. Oleh sebab itu aku tak akan menyerah. Akan terus mengejarmu, melindungimu, dan menyayangimu. Tak peduli apapun yang akan kamu katakan. Karena aku memilihmu. Suatu saat kamu akan merubah, " kok ada ya orang kayak dia", menjadi, "ternyata ada ya orang kayak dia." Semoga bahagia. Kita bertemu lagi tahun depan, Agustus.