Masih adakah budaya buang sampah sembarangan di sungai?
Sebagai masyarakat Indonesia kita pasti sudah tidak asing dengan pemandangan sungai yang penuh dengan sampah dan limbah. Kurangnya tanggungjawab serta sanksi yang setimpal kepada pelaku pembuang sampah membuat kejadian serupa terus berulang.
Mengutip data Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton), setiap tahun ada 8 juta ton sampah plastik se-Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. 2,6 ton diantaranya merupakan sampah yang dibuang ke aliran sungai. Dari jumlah tersebut, 3 juta ton bisa diolah sementara 5 ton tidak terkelola.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat setidaknya 46 persen sungai di Indonesia berada dalam kondisi tercemar berat. Di Jakarta sendiri, National Geographic (Maret, 2020) mencatat bahwa dari 57 persen sampah yang ada, 8,2 persennya merupakan limbah tekstil.
Keberadaan sampah di sungai tak hanya mengganggu pemandangan, melainkan juga mengancam keberlangsungan hidup biota yang ada di dalamnya. Terlebih lagi kesehatan masyarakat yang tinggal disekitar aliran sungai. Tak sedikit masyarakat Indonesia masih bergantung pada aliran air sungai, adanya sampah serta limbah di dalamnya tentu akan membawa masalah.
Dilansir dari World Health Organization, air yang tercemar dapat menularkan penyakit seperti diare, kolera, disentri, tipus, dan polio. Adapun air minum yang menyebabkan penyakit diare, diperkirakan bertanggung jawab atas kematian 485 ribu orang setiap tahunnya. Selain menjadi tempat bakteri, sampah juga melepaskan berbagai senyawa beracun ke sungai.
Sampah yang dibuang di sungai juga akan menyebabkan penumpukan pada dasar sungai, akibatnya sungai akan menjadi lebih dangkal. Masalah menjadi kian rumit ketika bencana banjir melanda. Pendangkalan sungai akibat sampah yang menumpuk membuat sungai tidak dapat menampung lebih banyak air sehingga sungai akan lebih cepat meluap ketika hujan menimpa. Bencana banjir pun tak dapat dihindari.
Kesadaran diri untuk membuang sampah pada tempatnya dimulai dari diri kita sendiri. Bersama menjaga sungai kita untuk Indonesia yang lebih baik. Kalau bukan kita, siapa lagi?









