Titik
Akhirnya, sampailah aku pada tanda itu. Titik. Berhenti. Pena di tanganku yang membubuhkannya ke dalam kalimat panjang kisah berulang yang menyakitkan.
Akhirnya, sampailah kita pada tanda itu. Sebuah perhentian. Agar aku bisa berlanjut menuliskan kalimat baru, yang tidak berisikan namamu di dalamnya.
Goresan-goresan yang pernah melukai kertas putih ini, harus disudahi. Walau titik yang terbubuhkan, belum tentu mengisahkan sebuah penghabisan.
Kalimat itu mungkin belum selesai, namun titik sudah digambarkan. Sehingga namamu harus selesai dibicarakan.
Titik.
Titik.






