Sempat ada yang ber-statement kalau A Music Network Gigs adalah “Acara Musik Lintas Genre” yang konsisten hingga sekarang. Hampir setahun event yang dibuat oleh Deathrockstar dan Hyperreal Movement dan disponsori penuh oleh Sampoerna A Mild berjalan dengan sukses, juga mendapatkan antusias positif dari penonton dari pihak media atau pun musisi.
Winter Issue dipilih menjadi penampil yang pertama di Hard Rock Cafe. Dengan folk/indie/pop yang kental dengan nada-nada seperti Mumford And Son baik dari segi musik atau juga liriknya seperti mengajak kita ke perjalanan panjang masuk ke suatu hutan dibelakang pedesaan daerah britania. Dibuka oleh Intro dan ucapan sambutan selamat malam yang penuh ke-grogi-an dari Ben Jacobson (Vokal/Gitar), dan juga teman-temannya Rommy (Gitar), Bons (Bass), Feddy (Drum), Vey (Keyboard) langsung melanjutkan aksi mereka dilagu Pelangi Jingga Selepas Hujan. Banyak perkembangan dari mereka, yang dimana saat mendengarkan single pertamanya harus banyak berlatih lagi dalam meng-compose musik. Translove In Zoo menjadi pilihan mereka yang kedua. Berusaha berinteraksi dengan penonton sudah dilakukan untuk mendapatkan perhatian atau applause meriah kepada pemuda/i ini. Seperti liriknya Bersama Ria ikut menceriakan saya hingga ikut bernyanyi bersama karena lagu ini pernah dibagikan secara gratis di soundcloud. Dan Adorer menjadi lagu penghantar terakhir bagi Winter Issue.
Ini kedua kalinya buat Windyasari solois yang berbakat dalam mengulik gitarnya, bermain di A Music Network. Wanita berparas manis asal kota Bandung ini hanya menggunakan kedua gitarnya (Ephipone dan Accoustic) dan memukau crowd di Hard Rock dengan petikan-petikan bernada folk/country/blues. Diawali dengan The Big Give, Windy (begitulah panggilan akrab dari sahabat-sahabatnya) mengeluarkan seluruh kemampuan dia dalam bermain gitar. The Best For Us, When I Said, dan lagu dari Jack And For Men yaitu Tone no. 1 ikut masuk dalam songlist dia. Saya langsung merindukan kembali band yang sudah entah kemana ini. Diakhiri dengan Urban Song, Windy yang mengaku sangat terinspirasi dari The Tallest Man On Earth menutup aksi hebat dia pada malam itu.
Mungkin band selanjutnya adalah salah satu yang paling ditunggu-tunggu. Yup, Jirapah. Band yang terbentuk di kota Brooklyn dan beranggotakan Ken Jenie (Vokal/Gitar), Mar Galo (Keyboard/Synth), Januar Kristianti (Drum), Yudhis Tira (Gitar), Nico Gozali (Bass) pernah juga meramaikan dalam AMN Gigs. Dimulai dengan Intro dan dilangsungkan oleh Milkyway Galaxy membuat sontak kemeriahan hingga akhir lagu. Ken menyambut penonton dengan kefasihannya dalam berbicara bahasa Inggris. Dan juga beberapa judul yang menurut saya sangatlah epic seperti Crimes, Teenager, Madonna, Hazy Sunday, sampai lagu terakhir Violence. Aksi penutup yang keren, ketika Ken menggosokan gitarnya ke Stand Mic dan mengeluarkan noise yang tidak beraturan.
Setelah penampilan Jirapah, seperti biasa sang MC, Jimi. Membagikan kupon bir dan CD gratis kepada pengunjung yang beruntung di sekitar meja atau bar Hard Rock, sebelum menuju band berikut 70’s Orgasm Club. Jimi juga menyempatkan bercerita tentang pengalaman pertama dia bertemu dengan Anto Arief (70’s OC) sampai menghantarkan kita ke penampilan berikutnya.
Anto Arief a.k.a Antruefunk kali ini tidak sendirian dalam memberikan nuansa Funk/Blues di masa kejayaan Jimi Hendrix. Bersama Galant di Bass dan Gantira di drum berhasil membuat nge-funk berjamaah dalam 25 menit kedepan. Walaupun keadaan kaki yang kurang sehat sang drummer tetap menggebuk drum dengan enerjik mulai dari Intro hingga akhir. Supersonicloveisticated menjadi lagu pembuka dan merupakan judul yang sama di EP mereka. Nada bicara cepat layaknya pembawa acara radio 70an mungkin sudah di konsepkan jauh-jauh hari oleh vokalis berkumis tipis ini. Amunisi lagu 70’s Orgasm Club bisa dibilang di mayoritasi dari EP-nya seperti lagu Libido Schizophrenia danYellow Mellow. Belum lengkap kalau kita tidak dinostalgiakan oleh lagu Peppermint Insects yang mengharuskan kita ber sing-along di part “U..U..UUUU” dan membawa kita ke lagu terakhir Love Bus.
Semakin larut terhadap kebisingan yang dibuat oleh band sebelum-sebelumnya. Sebagai band penutup Black Star dipilih menjadi pernetralisir kuping penonton dengan musik Eksperimental/Pop nya. Sudah lama sekali tidak melihat atau mendengar Black Star disuatu gigs seperti sekarang, terakhir yang saya dengar lagu mereka berjudul Abnormal Aku featuring sama Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca). Terinfluence oleh Radiohead dan Muse, membuat pemuda-pemuda berasal dari Lebak Bulus, Jakarta berhasil menciptakan album sendiri dan diberikan judul yang sama layaknya nama band mereka “Black Star”. Sebagai aksi mengembalikan memori saya terhadap band ini, Emir (Vokal), Yudi (Gitar), Q-Nos (Bass), dan Rob (Drum) memberikan beberapa contekan lagu atas album teranyarnya seperti Bebek Cantik, Never Leaves, Euthanesia, dan Sunday. Setelah disuapi oleh keempat lagunya, membuat saya berharap, akankah encore penampilan mereka malam ini adalah lagu Abnormal Aku? Ternyata Si Buta, Tulis, Bisu dipilih menjadi lagu terakhir dalam acara AMN Gigs 10.
Ternyata di A Music Network Gigs 11 bulan depan akan meriah untuk merayakan setahunnya acara ini berlangsung. Tentunya dengan band-band berkualitas dan berloyalitas tinggi terhadap musik.
Rebecca Theodora adalah salah satu vokalis perempuan yang menurut saya memiliki kualitas dalam menulis lirik plus kemampuannya bernyanyi nada-nada pop dengan gaya yang 'effortless".
Saksikan Bite di #amngigs 4 pada tanggal 6 Desember 2011 di Hard Rock Cafe Jakarta nanti dan biarkan mereka mengubah persepsi mu tentang lagu cinta.
Band ini tampaknya akan menggebrak industri musik Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.Tetapi sebelum itu, mereka akan mengguncang panggung #amngigs terlebih dahulu pada tanggal 6 Desember 2011 di Hard Rock Cafe Jakarta pukul 21.00.