Video potret kecil mengenai Indonesia yang kelompok saya buat adalah mengenai dinamika kehidupan. Dalam video ini terdapat beberapa bagian bahkan hampir dari keseluruhan bagian dari video menunjukkan perbedaan kelas yang sangat mencolok yang terjadi di Indonesia. Ya.. kelas yang dimaksud dalam video ini adalah antara kelompok orang dengan ekonomi diatas rata-rata bahkan sangat jauh dari batas rata-rata penghasilan rata-rata perorangan dengan kelompok orang yang memiliki penghasilan dari di bawah rata-rata yang telah ditetapkan pemerintah.
Dimulai dari bagaimana cara orang-orang menikmati secangkir kopi. Untuk kalangan orang dengan perekonomian yang berada di bawah rata-rata, mereka pasti akan pergi ke suatu tempat dengan ukuran tak besar yang biasanya hanya bertiupkan angin dari luar yang disebut dengan warkop atau warung kopi. Sedangkan untuk orang-orang atau keluarga yang berasal dari perekonomian yang cukup dan bahkan amat cukup, mereka pastilah akan memilih pergi ke suatu tempat dengan harga kopi yang bahkan bisa lebih dari tiga kali lipat dari harga kopi pada umumnya.
Jika ditelisik lebih jauh lagi mengenai alasan orang-orang itu kenapa mereka lebih memilih menikmati secangkir kopi di tempat yang teramat mewah seperti itu, pasti jawaban yang akan mereka katakan adalah karena suasananya lebih nayman dan kopinya lebih enak untuk dinikmati. Tetapi tak jarang dari para penikmat kopi di tempat seperti itu terkadang memiliki masalah yang lebih besar dan pelik dibandingkan dengan orang-orang yang menikmati kopi dengan harga tak lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Selain itu juga, dalam video potret kecil tersebut, terdapat juga orang-orang yang brdagang di dekat rel kereta. Atau orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan bekerja di dekat rel kereta. Semua itu sangat berbeda sekali dengan orang-orang yang bekerja atau bahkan menghabiskan waktu mereka di sebuah tempat yang menggunakan pendingin ruangan. Mereka terlindung dari debu-debu kotor, suara bising kendaraan, atau ahl-ahl mengganggu lainnya. Namun berbeda sekali dengan orang-orang yang berada di dekat rel kereta tersebut. Debu, kotoran, dan suara bising merupakan hal-hal yang selalu mereka temui atau bahkan mungkin telah menjadi teman mereka.
Walaupun begitu, mereka sama sekali tak menunjukkan rasa ketidaksukaan atau rasa sedih karena harus berada di tempat seperti itu. Mereka sangat menikmati apa yang telah mereka dapatkan. Wajah-wajah senang serta tawa mereka tetap ada walaupun harus bekerja lebih keras dibandingkan orang lain. Sedangkan orang-orang yang bekerja dengan berbalutkan jas, smeua itu tak menjamin bahwa mereka akan hidup dengan tawa yanng selalu menghiasi hari-hari mereka.
Dan karena itulah dapat diartikan bahwa tak selamnya orang yang berada atau hidup dengan keadaan ekonomi yang teramat baik akan memiliki kehidupan yang bahagia karena suatu kebahagian tak dapat dibeli atau didapatkan dengan harta yang dimiliki.