Resume Buku Tokoh Pergerakan 'Habis Gelap Terbitlah Terang'
R.A Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1987. R.A Kartini merupakan pitri dari seorang bupati Jepara bernama Raden Mas Dipati Sastrodiningrat dan sekaligus cucu perempuan dari Tjondronegoto, bupati Demak pada masa itu.
Ketika R.A Kartini menginjak usia dewasa, ia menilai kaum wanita penuh dengan kehampaan, kegelapan, serta ketiadaan dalam perjuangan yang tidak lebih sebagai alat untuk kaum laki-laki yang bekerja secara alamiah hanya mengurus dan mengatur rumah tangganya saja atau bisa dikatakan pada masa itu kaum wanita hanya bekerja pada 3R, yaitu kasur, sumur, dan dapur.
Karena hal itu lah, R.A Kartini tidak bisa menerima keadaan tersebut. Walaupun R.A Kartini berasal dari keluarga berada atau lebih tepatnya keluarga bangsawan, tetapi ia tidak mau ada perbedaan tingkat derajat. R.A Kartini sering berbaur dengan masyarakat bawah yang bercita-cita merombak perbedaan status sosial pada masa itu, dengan semboyan, “kita harus membuat sejarah, kita mesti menentukan masa depan kita yang sesuai keperluan kita sebagai kaum wanita dan harus mendapat pendidikan yang cukup seperti halnya kaum laki-laki.”
R.A Kartini menuntut pendidikan tinggi yang setara dengan pemerintah kolonial Belanda dan terus memberi semangat kepada kaum perempuan untuk tampil sama dengan kaum laki-laki. Selain itu, di dalam buku ini juga diceritakan bagaimana perjuangan R.A Kartini setelah dijodohkan dan akhirnya menikah dengan seorang bupati Rembang bernama Raden Adipati Joyoningrat. Pada saat itu, perjuangan R.A Kartini semakin meningkat. Ia meningkatkan perjuangannya melalui sarana pendidikan, dan sebagainya.
Jika dijelaskan lebih rinci lagi, pada bagian awal menceritakan mengenai cita-cita R.A Kartini yang tidak sesuai dengan kebiasaan masyarakat pada masa itu. Sehingga membuat banyak orang yang menentang dan tidak setuju akan cita-cita R.A Kartini. Walaupun banyak yang menentang dan tidak setuju, maish ada segelintir orang yang setuju dengan cita-cita mulia R.A Kartini, yaitu para sahabatnya yang berada di Belanda.
Lalu pada bagian tengah buku, menceritakan tentang perjuangan R.A Kartini dalam mendaptkan izin dari kedua orang tuanya yang tidak setuju dengan cita-cita mulia R.A Kartini. Namun semangat yang ia dapatkan dari para sahabatnya membuat R.A Kartini tidak menyerah dengan begitu saja, R.A Kartini terus berusaha sampai akhirnya ia mendapatkan izin dari kedua orang tuanya. Dan pada bagian terakhir, menceritakan tentang perjuangan yang telah dilakukan R.A Kartini yang akhirnya membuahkan hasil.
R. A Kartini wafat pada usia 25 tahun selang beberapa hari setelah ia melahirkan anaknya, buah penrikahan dengan Raden Adipati Joyoningrat. R.A Kartini pergi meninggalkan Bangsa Indonesia dalam usia yang snagat muda yang masih penuh dengan cita-cita perjuangan dan daya kreasi yang melimpah.













