Kucondongkan badanku kearah meja. Dengan tangan kiri yang menopang kepala, kutepuk-tepuk pelan pipiku dengan jari-jari. Kali ini asap rokokmu menebal, melesap ke sela-sela jendela. Wajahmu menduduk, bola matamu bergerak mengikuti ujung rokok yang kau ketuk-ketukan ketepian asbak.
Pertemuan kita kali ini tidak jauh berbeda dengan biasanya. Kita menunggu jarum-jarum jam dinding berputar-putar dan berima monoton. Berlarut-larut malam, bergumpal-gumpal asap kau bumbungkan. Hanya ada kita di ruangan ini, namun anehnya aku merasa sesak. Mungkin, kata-kata di dalam kepala kita masing-masing menyelinap keluar tanpa sengaja. Satu-persatu beradu desak. Satu-persatu mereka menyublim menjadi partikel-partikel penyusun udara yang perlahan menyesaki kita sampai jenuh. Penuh.
“Sudah tahu alasannya?”, ujarmu.
Aku menggeleng. Kali ini kuhempaskan punggungku ke bantalan kursi. Sungguh betapa tololnya. Kita berusaha menepi dari arus sungai mimpi. Tidak adalagi riak-riak kecil yang muncul ke permukaan sesaat setelah kerikil-kerikil hitam tenggelam. Aliran sungai menderas. Jangkar perahu kita terhempas dan perahu yang kita tumpangi pun terombang-ambing. Entah, peraduan seperti apa yang kita hadapi sekarang. Nyatanya, apa yang senantiasa kita gumamkan tidak pernah kita dapatkan. Dulu, kita menamakannya keseimbangan.
Seperti karung pasir yang bertubi-tubi dihujam pukulan. Hati kita sudah lebam. Membiru bahkan menghitam. Burung-burung kecil menahan isak tangis diatas lonceng gereja tua. Dari kejauhan, mereka mengamati laki-laki dan perempuan. Berjalan ke pinggiran kota dan menghabiskan waktu untuk meruntut makna. Duduk berhadapan, berharap selintas petunjuk tentang perpisahan.
“Sepertinya memang tidak ada.”
Duri-duri itu tidak pernah ketemu. Benalu-benalu itu kita coba ulik satu-persatu, juga tidak ada. Lantas apa? Lantas bagaimana? Guyonan ini semakin hari semakin mengkhawatirkan. Ada dan tidak nya alasan tidak bisa dijadikan alasan. Bukan berarti harus ada sesuatu yang kita persalahkan. Tapi, tidak adakah remah-remah waktu yang bisa kita susun diatas piringan kenangan? Agar jelas bahwa bukan hanya kita yang pernah lelah mendulangi diri sendiri dengan harapan.
“Sepertinya, begitu. Tidak ada yang sia-sia. Karena kita pun tidak pernah memulai apa-apa.”
Aku ingat saat naik ke atas mercusuar hingga tepat di puncak. Tempat lampu suar dikokohkan. Sebelumnya, laki-laki tua penjaga mercusuar itu telah berkisah kepadaku. “Saat purnama tiba, di puncak mercusuar ini, bulan akan terasa sangat dekat. Ia akan datang menghampiri sepasang mata yang luruh dalam tangis pekat. Akan diciumnya sepasang mata itu, dan diterbangkannya setiap air mata menjadi bintang.”
Dari sana, aku bisa melihat pulau-pulau kecil berjajar panjang. Karang-karang timbul dari tengah lautan. Dan, air laut yang kebiruan menyelimuti ikan-ikan yang berenang diantara celah-celah perahu karam. Ajaib bukan? Apa yang kita sisakan dari sebuah tragedi pun ternyata masih bisa menjadi sebentuk kebahagiaan untuk kehidupan lain.
Lalu, aku melongok ke bawah. Dari sana kau berteriak kepadaku. Bahwa perairan ini tidak pernah ada. Ikan tidak pernah berenang. Insang mereka kering sayu. Tidak ada perahu yang karam. Tidak terlihat kaki sauh yang diceritakan menjauh. Karang-karang laut yang kulihat hanyalah sisa kabut pagi. Mungkin, saat itu kau sedang mabuk laut.
Kudorong kursi kayu yang dari tadi kududuki agar tergeser ke belakang. Dinding ruangan ini tidak bergeming saat aku mendekat dan merebahkan diri di lantai. Kuangkat kedua kaki dan kutempelkan ke dinding, menyudut hingga tubuhku membentuk huruf ‘L’. Kedua telapak tangan kutelungkupkan di dada. Bumi kembali menjadi sandaranku untuk sementara.
Tak lama, kau memilih untuk beranjak keluar dari ruangan ini.
Kau mulai sadar. Satu saja yang kuinginkan sejak tadi.