Menjadi Seorang Nasionalis: Pilihan Hidup atau Jati Diri yang Melekat Sejak Lahir?
Kalo ngomongin tentang ke-nasionalisme-an seseorang, pasti kita bakal ngeliat track record dia dalam membela bangsa dan negara. Biasanya orang-orang begini, kalo di kampus, dia sering jadi aktivis jalanan (yang suka menuntut kebijakan pemerintah). Atau seorang nasionalis itu juga bisa diukur dari buku-buku yang dia baca. Buku apapun lah, asal di depannya itu ada gambar Soekarno, Hatta dan judulnya itu penuh dengan kata-kata yang identik dengan perjuangan atau ideologi, seperti ‘kemerdekaan’, ‘pancasila’, ‘demokrasi’, ‘Republik Indonesia’. Itu udah otomatis, kita dianggap sebagai seorang nasionalis.
Mungkin bisa dibilang saya orang yang begitu. Maksudnya, saya bukan seorang aktivis, tapi saya demen membaca buku-buku, seperti Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Demokrasi Kita (bukan buku sih), Aksi Massa, sampai Naar de Republik Indonesia. Kebetulan, namanya juga anak teknik (stigma macam apa ini?), saya gak ada waktu luang buat baca buku. Jadi, ya, saya sempatkan baca buku kapanpun. Entah pas jalan menuju kampus dan sebaliknya, menunggu rapat-rapat yang (sering) ngaret mulainya, atau, yaa intinya kapan saja. Selagi saya mampu membaca 1 bab, itu bakal saya lahap. Praktis, beberapa dari temen saya ada yang mencap saya sebagai “pemuda-pemudi bangsa”. Merasa aneh, saya coba menilik apa sebab-musabab saya dipanggil kayak gitu.
Penilikan yang saya lakukan waktu itu berangsur-angsur. Pertama, saya langsung menerjemahkan panggilan tersebut sebagai nasionalis: orang yang punya cita-cita untuk memajukan bangsa. Atau istilahnya, mereka yang cinta mati sama tanah air. Lebay? Mungkin. Atau gak juga. Kedua, kalo emang saya begitu, emangnya salah ya? I mean, bukannya sebagai warga yang bernegara kita harusnya begitu ya? Tapi ternyata gak begitu faktanya, lur.
Faktanya menjadi nasionalis adalah sesuatu yang dinilai berbeda. Sama kayak misalnya kita jadi orang yang shalat 5 waktu dan shalat sunnah rawatib lengkap dengan tahajud dan dhuha, praktis kita dipanggil apa? Orang alim. Atau seorang siswa yang tekun belajarnya, pagi siang sore malam, bolak-balik perpus minjem buku, dipanggil nya apa? Anak ambis. Padahal sebenarnya istilah tersebut adalah hal yang (harusnya) sudah melekat dalam diri kita. Kenapa? Karena menjadi nasionalis, alim, dan ambis merupakan sebuah tujuan menuju kesuksesan; Kesuksesan menuju kemerdekaan, kesuksesan tinggal di surga, kesuksesan mendapatkan ilmu yang bermanfaat (ingat, nilai bagus itu bonus!).
Jadi, kalo ditanya “tapi kenapa kok ada dari kita yang gak nasionalis? Gak peduli sama bangsa dan negara?” Simpel, intinya kita belum paham dan ngerti betul hikmah dari itu. Tetapi bagaimanapun, secara gak langsung, kita akan selalu turut menjadi bagian dari misi nasionalis itu; membangun masyarakat sekitar kos menjadi lebih baik, menjalin persaudaraan antar sekolah/universitas, atau menjadi pekerja pun sebenarnya udah hampir mewakili diri kita menjadi seorang nasionalis. Intinya, nasionalis itu bukan sebuah pilihan, tapi hal yang sudah melekat pada diri seseorang. Karena pada dasarnya, menjadi seorang nasionalis itu artinya berkontribusi untuk memajukan kesejahteraan umum negaranya dalam berbagai skala apapun!
Yang Benar, datangnya dari Dia. Yang salah, datangnya dari manusia. Jadi jangan pernah merasa benar.
Fanjar Arif Wijaksono








