Ketika Ayat Al-Qur’an Dipakai untuk ‘Menembak’ Seseorang
Pagi ini di motor, perjalanan menuju kantor, aku ingat sesuatu yang kulihat tempo hari di Instagram. Story deh aku bilangnya. Dia, si perempuan ini, mengepos potongan ayat Al-Qur’an. Aku sedikit lupa ayat berapa dan surah apa. Intinya, soal kemunafikan seseorang gitu.
Kemudian nggak lama setelah itu, aku makin sering melihat banyak story yang sama--mengepos potongan ayat Al-Qur’an. Sebenarnya fenomena ini sudah terjadi cukup lama. Di Instagram, atau sosial media manapun marak postingan macam begitu. Seolah ini bagian dari pop culture.
Sayangnya, sebagian besar dari orang-orang yang membuat postingan ayat Al-Qur’an itu ditujukan untuk orang tertentu, mengandung nada sinisme bahkan sarkasme. Tujuannya tentu jelas untuk menyindir orang yang dimaksud.
Ayat Al-Qur’an dijadikan alat untuk ‘menembak’ seseorang dalam konotasi yang tidak baik. Emm, apa ya? Aku rasa ini sedikit jauh dari fungsi kitab umat Islam itu sendiri. Mungkin jika menyindir dengan ayat Al-Qur’an terkesan lebih bijak, lebih lembut, dan lebih islami. Iya? Mereka menemukan satu ayat yang dirasa pas untuk seseorang yang sedang ia benci sikapnya. Kemudian langsung ia publish bahkan dilakukan berkali-kali.
Menurutku, masih banyak ayat-ayat yang sebenarnya menyindir kita sendiri. Oke, bukan menyindir dalam arti buruk. Semacam peringatan dan pengingat untuk kita dalam hal apapun. Atau bisa jadi kita termasuk ke dalam ayat yang dipakai untuk menyindir orang lain itu. Pernahkah orang yang memposting ayat berpikir bahwa dirinya bisa saja termasuk ke golongan yang disebutkan dalam ayat tersebut? Analoginya begini, kita menembak seseorang dengan satu panah, sementara di belakang kita tertembak oleh ribuan panah.
Sementara itu, mereka yang membuat postingan ayat tersebut sebenarnya juga tidak terlalu paham dengan ayat yang dia bagikan. Seperti kebanyakan orang masa kini yang menelan informasi apapun bulat-bulat tanpa dibedah terlebih dahulu. Tapi, memang tidak semua orang mau repot-repot belajar makna. Kemudian tanpa sadar membiarkan dirinya mengalir di arus yang salah. Terus merasa benar dan hanya melihat segala sesuatunya dari satu sisi. Padahal sudut pandang itu tidak tunggal, kan?
Aku memang tidak hapal banyak ayat. Melainkan share opini aja bahwa menyindir seseorang menggunakan ayat Al-Qur’an itu buatku kelewat canggih. Buatlah cover yang sesuai dengan isinya ya.















