Sebuah Tamparan (yang tersurat) untuk Mereka dan (yang tersirat) untukmu
Kalau ditanya, berapa banyak sumber daya manusia yang dimiliki Republik Indonesia? Jawabannya adalah banyak; berjuta-juta bahkan puluhan juta jiwa â mereka datang dari generasi muda sampai generasi tua (secara usia), dari praktisi sampai akademisi (secara profesi), dari sarjana sampai professor (secara gelar pendidikan). Tentu mereka tersebar di berbagai spesifik ilmu sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Maka, dengan berbagai spesifik ilmu yang dimiliki, mereka sejatinya menjadi faktor penentu terhadap kemajuan Indonesia dalam berbagai sektor, seperti ekonomi, teknologi, dan juga ilmu pengetahuan. Sebab, sudah pasti akan selalu hadir berbagai macam inovasi dan gagasan baru yang berguna untuk kemajuan bangsa ini. Artinya, memiliki sumber daya manusia dalam kehidupan yang berbangsa dan bernegara adalah suatu hal yang amat penting. Karena jika tidak ada mereka, sebagai sumber daya, maka bumi pertiwi ini hanya akan maju sedikit saja atau malah tidak sama sekali â yang ada malah kemunduran.
Di sisi lain, kita sejatinya perlu menyadari satu hal, yaitu hadirnya satu golongan yang memiliki kedudukan tertinggi di antara sumber daya yang lain. Golongan ini memiliki jiwa yang berseri-seri dan semangat yang berkobar-kobar jika berurusan dengan hal-hal yang menyangkut semangat membangun kesejahteraan umum dan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Semangat ini mereka konversikan dalam wujud karya. Mereka menjual karya sekaligus metunjukkan kepada bangsa sekaligus dunia, bahwasannya rakyat Indonesia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan pihak lain. Tidak lain tidak bukan, golongan ini adalah para generasi muda.
Namun, kisah-kisah tentang keberanian generasi muda untuk memajukan negeri ini mungkin hanya sering terjadi di zaman-zaman dahulu, seperti pada orde lama dan orde baru. Sebab kita tahu pada waktu itu betapa Indonesia masih menginjak usia yang terbilang masih sangat muda dimana seluruh rakyat, termasuk generasi muda, masih sadar bahwa  memajukan Indonesia dalam sektor yang mereka tekuni sama saja artinya dengan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tapi, sekali lagi, rasanya ini hanya terjadi di masa lampau.
Berbicara tentang mempertahankan kemerdekaan Indonesia, pada era pasca-kemerdekaan, artinya merencanakan bagaimana supaya momok Indonesia menjadi Negara yang makmur di mata dunia. Tentu saja, ini tidak akan terjadi jikalau rakyat Indonesia kalah itu tidak bersatu. Ditambah dengan ketegasan bangsa kita melalui konsepsi-konsepsinya, seperti âBerdikariâ dan âTrisaktiâ, yang membuat seluruh rakyat Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan tanah air kita untuk dieksploitasi kembali oleh pihak asing.
Lalu, berbicara tentang eksploitasi kekayaan bumi Indonesia, artinya ada peran serta sumber daya manusia. Sedangkan eksploitasi, seperti yang kita tahu, selalu dilancarkan bangsa lain yang mengambil kesempatan ketika sumber daya manusia Indonesia, khususnya generasi muda, tidak memadai atau tidak mampu untuk memanfaatkan kekayaan negeri nya sendiri.
Sekarang mari kita berbicara tentang generasi muda Indonesia masa kini. Bukan lagi sebuah keraguan bahwa generasi muda sudah mampu bersanding di dunia pekerjaan. Ini disebabkan karena mudahnya akses edukasi kita di hampir seluruh bagian Indonesia. Namun, jangan lupa, bahwa semata-mata kemudahan akses edukasi tersebut adalah untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air dan, khususnya, mendorong generasi muda untuk membuat karya. Tujuan dari misi cinta tanah air dan membuat karya adalah untuk menjadikan Indonesia yang mandiri.
Menjadi Indonesia mandiri pun artinya untuk menjadi sebuah Negara yang tidak bergantung kepada siapapun jua dalam aspek apapun. Kita hanya dikendalikan oleh rakyat kita sendiri; semata-mata untuk menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Tetapi itu  tidak akan berhasil tanpa persatuan yang utuh, atau kesadaran yang hadir dari rakyatnya sendiri untuk mengubah nasibnya. Karena kekuatan itu datangnya dari suara dan aksi massa atau sebuah demokrasi, bukan berdasarkan individualisme.
Tapi, lihatlah fenomena yang terjadi di tanah surga kita sekarang â jauh dari kata persatuan dan kedaulatan rakyat. Bangsa kita sejatinya sedang di ambang kehancuran. Lihat saja bagaimana intoleransi sudah merejalela di bumi pertiwi. Intoleransi masuk dalam pergaulan rakyat Indonesia bagaikan virus yang menular. Hingga akhirnya, satu persatu rakyat kita terseret dalam sebuah paradoks.
Perkara intoleransi di Indonesia dapat diinterpretasikan melalui data. Hal ini dibuktikan dengan survey yang diadakan oleh Lembaga Survey Indonesia (LSI) terhadap 1.520 responden yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Melalui survey tersebut, didapatkan 59,9 persen dari total responden memiliki kelompok yang dibenci; kelompok yang dibenci meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan sebagainya. Sebanyak 82,4 persennya bahkan tak rela anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka. Melalui data statistik saja, kita bisa melihat betapa rakyat Indonesia masih jauh dari kata toleransi.
Belum selesai di situ, perpecahan bangsa kita diperparah dengan hadirnya hoax yang disebarkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Berbagai fitnah yang memprovokasi banyak sekali dilontarkan melalui gambar, kata-kata, maupun postingan di media sosial. Berkedok demokrasi, orang-orang yang tidak bertanggung jawab itu membuat propaganda terhadap rakyat kita. Pada akhirnya, kita terpecah-belah membela apa yang menurut diri kita sendiri benar â lalu melupakan konsepsi-konsepsi NKRI.
Padahal susunan konsepsi bangsa kita sudah dibentuk dengan asas-asas kesejahteraan umum, seperti yang dikatakan Bung Hatta: âtiap-tiap golongan rakyat dalam Republik Indonesia hanya berarti sebagai bagian daripada rakyat seluruhnya. Segala tindakannya harus ditujukan untuk keselamatan rakyat seluruhnya, bukan untuk kepentingan daerah atau golongan sendiri-sendiri. Tidak boleh ada golongan rakyat atau daerah yang melakukan tindakan sendiri, yang bertentangan dengan dasar-dasar yang ditentukan bagi Negara seluruhnyaâ (Hatta, Mohammad. Demokrasi Kita). Maka bukankah perbuatan hoax, fitnah, intoleransi adalah semata-mata menjauhkan kita dari keselamatan rakyat seluruhnya? Terlebih, hal tercela tersebut tidak membuat kita menjadi bangsa yang mandiri karena hanya bergelut di dalam urusan ârumah sendiriâ.
Lalu, tidakkah kalian sadar bahwa perbuatan tersebut umumnya dilakukan oleh mereka yang mentalnya mudah dijajah? Mereka seharusnya malu karena telah meninggalkan warisan yang sama sekali tidak berguna untuk generasi penerusnya.
 Maka bagaimana generasi muda, yang dinobatkan sebagai generasi pemenang, mampu untuk memperjuangkan Indonesia yang mandiri?
 Tentu saja, hanya generasi muda yang sanggup untuk melakukan perjuangan tersebut. Sebab, di saat golongan tertentu memecah bangsa kita karena kepentingan suatu elit tertentu, mereka hadir layaknya bayi yang baru lahir â suci dan tidak di bawah kendali siapapun. Tidak pernah ada di pikiran mereka untuk membiarkan bangsa kita terpecah-belah, bahkan satu retakan pun.
Mereka memang tidak tahu bagaimana rasanya memperjuangkan kemerdekaan. Namun jangan meragukan generasi muda. Mereka bukan tidak paham sama sekali rasa sakit yang harus ditanggung bangsa kita ketika memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Oh, itu semata-mata karena mereka membaca buku. Melalui buku-buku, mereka tahu tentang bagaimana proses terjadinya persatuan di Indonesia.
Generasi muda kita saja lahir pada era modernisasi â jelas hidup mereka serba (relatif) nyaman. Tetapi ternyata hal ini tidak membuat mereka menjadi generasi yang individualis. Buktinya, mereka sering membangun komunitas untuk mendiskusikan hal-hal teknis untuk menjunjung tinggi Indonesia yang mandiri. Kalau bisa, mereka pun akan mengeksekusi nya langsung.
Tentu, jangan samakan mereka dengan para generasi tua sekarang yang hobi nya membuat kericuhan dan membela golongan nya sendiri. Mereka memiliki idealisme, tapi tidak keras kepala. Generasi muda masa kini pandai meleburkan ide dan gagasan siapapun menjadi satu. Hal ini kemudian melahirkan gagasan baru yang diterima oleh seluruh elemen masyarakat.
Lalu, jangan ragukan kalau generasi muda kita tidak mampu menjadi sumber daya manusia yang bisa diandalkan. Buktinya, banyak dari mereka yang menciptakan berbagai macam karya, yang bahkan diakui dunia. Selain itu, jangan tanya berapa banyak dari generasi muda yang sering dipanggil bolak-balik dari Indonesia ke Negara barat untuk melakukan penelitian. Selebihnya, sebagian lagi dari mereka saat ini sedang menuntut ilmu. Hal tersebut mereka lakukan semata-mata untuk memberikan kontribusi yang nyata agar Indonesia menjadi bangsa yang mandiri kelak. Pada dasarnya, generasi muda ini memiliki caranya sendiri, yang kelak pasti menjadi faktor penentu akan kemandirian Indonesia.
Maka itu sudah jelas, generasi muda Indonesia memiliki semangat nasionalisme yang tinggi. Sebab, menjadi seorang yang nasionalis artinya ia memperjuangkan bangsa nya demi keselamatan rakyat dari bangsa tersebut â dan itulah yang dimiliki generasi muda kita.
 Tetapi, semoga hal-hal di atas benar demikian.
 Mari bangun dan buka mata serta hati kita. Kita ternyata terlalu sibuk membuat polemik yang menyusahkan diri kita sendiri. Rasa ketidakpercayaan satu sama lain membuat kita buta dan membuat malahan membuat kita jauh dari Pancasila sebagai konsepsi dasar yang akhirnya menyatukan bangsa Indonesia.
Maka itu, sebelum kita merumuskan secara teknis bagaimana membuat Indonesia menjadi bangsa mandiri, pertama haruslah kita paham bahwa konsep nation and character building perlu ditanamkan pada seluruh masyarakat Indonesia. Dalam praktiknya, memang tidak mudah. Apalagi pada momen-momen seperti sekarang ini, ketika tiap orang sudah mulai sensitif akan sebuah isu.Â
Banyak dari generasi tua kita meninggalkan jejak kotor dalam catatan sejarah bangsa melalui perseteruan yang tak berujung. Lalu, kita hanya dititipkan aib-aib sebagai peninggalan mereka. Dan jangan tanya bagaimana cara mengatasi hal tersebut, karena sejatinya itu semudah membalikkan telapak tangan. Namun, hal tersebut tidak dapat terlaksana dengan baik kalau kita pun lupa akan jati diri sendiri sebagai rakyat Indonesia. Kepintaran, kepemimpinan, dan bakat apapun tidak akan berguna jika tidak dibungkus dengan rasa nasionalisme yang tinggi. Sebab, nasionalisme Indonesia, yang berlandaskan Pancasila, bukanlah sebuah kata-kata mutiara belaka.
Jadi perlulah membenahi pribadi diri kita sendiri dan benar-benar inshaf akan mengapa dan apa tujuannya dititipkan pada kita konsepsi-konsepi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika kita sudah khatam betul akan hal tersebut, dan rakyat sudah bersatu, mari kita diskusikan langkah-langkat konkrit apa saja selanjutnya, untuk membuat bangsa Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang mandiri.