Pagi tadi ke kampus buat ketemuan sama dosen pembimbing. Cerita dikit sana-sini terus akhirnya selesai, dan tiba saatnya memberikan bingkisan kue-kue khas kampung halaman ke bu dospem. Tapi ternyata ditolak. Alasannya sih masuk akal dan rigid: sudah ada peraturan bahwa itu tidak diperbolehkan. Well, it’s okay, I said. Toh niatnya juga cuma ingin berterimakasih saja pada bu dospem yang mau menerima saya kembali, itu aja. Harusnya kejadian itu bisa dilupakan begitu saja, tapi ternyata pikiran dan perasaan bersalah yang enggak-enggak nempelnya lama banget. “Gimana ya kalo ibunya mikirnya aku punya maksud yang lain (nyogok)?” “Gimana ya kalo ibunya jadi bersikap beda sama aku nanti?” “Gimana kalo…” “Gimana kalo…” Terus kalo sudah kayak gini, pengenya…