Posisi nya kamu tahu apa yang harus dan wajib kamu lakukan. Tapi karena beberapa alasan klasik yang kamu buat sendiri, jadi lah terkesan bahwa kamu terlampau sibuk hingga apa yang seharusnya kamu kerjakan dari dulu tidak kau kerjakan.
Katamu, itu memang penting tapi ada hal yang lebih penting lagi dari itu. Toh juga Allaah juga memaklumi hambaNya kan? Katamu, lagi.
Padahal kita sama2 tahu, sesuatu yang di kerjakan tepat pada waktu saat panggilan pertama adalah bentuk kepatuhan kita, tapi kamu seperti nya terlalu mendahulukan yang lain.
Saat di panggil majikan, kamu buru-buru menghadapnya, lalu mengerjakan apa yang di suruh nya. Tapi ketika ada panggilan Adzan, kamu terus menunda-nunda. Katamu waktunya masih lama. Katamu lagi, 15menit lagi atau sehabis mengerjakan tugas yang ini dulu deh.
Padahal kita sama-sama tahu, mengurusi dunia tidak akan ada habis nya. Akhirnya kamu benar-benar mengerjakan perintah saat waktu nya udah hampir mau abis. Bahkan pada saat matahari sudah mulai berwarna orange di ufuk barat sana - yang matahari nya pun hampir tenggelam. Dan tak lupa juga pada saat matahari sudah agak terbit yang kurang lebih sudah 1 jengkal.
Katamu, besok masih bisa kok dengan tekad (lagi) besok akan di kerjakan tepat waktunya. Alih-alih menyesali perbuatannya saat ini. Dan lagi-lagi kamu mengulanginya lagi.
Katamu, Allaah memaklumi nya kok.
Dengan alasan yang tidak masuk akal itu? Majikan mu menyuruhmu hari ini beli ikan di pasar karena mau di makan hari ini yang persediaan nya sudah habis lalu dengan mudahnya kamu bilang, "nanti dulu ya bu, masih ada urusan yang lebih penting".
Kamu kira kamu siapa, kamu yang butuh, kenapa kamu yang jadi ngatur.