Suatu hari hiduplah seorang gadis kecil sederhana di salah satu kota besar di negaranya. Ia banyak belajar tentang bagaimana bermimpi. Suatu hari pamannya berbincang dengannya "Apa cita-citamu kelak, sayang?" tanya pamannya lembut. "Dokter! Dokter paman." jawabnya sangat bersemangat. "Kalau begitu tunjukan padaku bahwa kelak kau akan menjadi dokter seperti apa yang kau impikan, Nak" ujar pamannya lagi sembari mengelus rambut hitam keponakannya. Gadis kecil itu mengangguk mantap. Kini gadis kecil itu telah tumbuh remaja. Ia masuk salah satu sekolah terkenal dengan prestasi yang cukup mumpuni. Hari pertama, kedua, sampai hari terakhirnya di sekolah itu ia jalani dengan sebaik mungkin. Ia mendapat rata-rata 8,6 di akhir semester. Tapi itu tak cukup untuk masuk ke sekolah yang ia impikan dulu. Setelah bergulat dengan batinnya, serta orangtua yang sangat ia sayangi ia memutuskan meninggalkan mimpi masa kecilnya dulu. "Mungkin bukan dokter.." batinnya saat masuk di hari pertama sekolah barunya. Ia benci adaptasi. Ia lebih senang menyendiri. Sendirian. Walau begitu, ia ramah. Banyak orang menyukai sikap dan betapa cerdasnya ia. "Seharusnya kau bisa masuk ke sekolah yang lebih bagus dari sekolah ini, Nak. Kau pun bisa menjadi dokter kalau prestasimu terus kau tingkatkan." ujar salah satu gurunya setelah 2 semester ia belajar disana. Ia pasif. Sangat. Tapi setiap tugas ia kerjakan dengan baik. Banyak teman yang ikut semangat belajar bila bersamanya. "Kau tau, ibu malu bila nilaimu seperti ini!!" bentak ibunya saat untuk pertama kalinya gadis itu mendapat nilai rendah. Ia sangat sedih. Bagaimana tidak, ibunya sendiri malu memiliki anak seperti dia. Satu hal yang selalu ada di hatinya. "Banggakan orangtuamu!" hanya itu. Ia bermimpi orangtuanya dapat bahagia karnanya. "Kenapa kau tak sepandai dia? Ia bisa menggambar dengan indah dan sangat bagus." kata ibunya lagi beberpa hari kemudian. "Bukan bidangku, Bu. Ia memang mahir." jawabnya pelan "Maka mahirkan dirimu! Tanyalah pada guru untuk mengajarimu itu! Kau terlalu pasif. Tak ada yang bisa kau lakukan sememukau itu." jawab ibunya. Kini gadis itu terdiam. Ia membendung air matanya, menahannya agar tak jatuh lagi. Malamnya ia merenung di kamar kecil miliknya. Ia telah memberikan apa yang terbaik pikirnya. Ia juga ingin. Ingin sekali membuat ibunya bangga. Ia ingin mendengar ibunya tersenyum karna hasil kerjanya. Padahal kemarin ia baru mendapat nilai hampir sempurna dalam beberapa bidang di sekolahnya. Ia sengaja tak memberitahu ibunya. Ia ingin merahasiakan ini. Karna ia tahu ibunya pasti bertindak biasa. Seperti waktu itu di sekolah lamanya. "Ibu!! Aku mendapat nilai sempurna!! Whoaa" teriaknya saat ibunya kembali setelah bekerja. "Bagus.." jawab ibunya santai. Raut wajah gadi itu memudar. Hanya senyuman terpaksa dari bibirnya yang ia berikan. Ya seperti itu faktanya. Suatu hari ia menemukan sesuatu yang sangat menarik baginya. Mimpi. Ia mulai bermimpi lagi. Lagi. Dan lagi. Bahkan dengan mata terbukapun ia dapat terus bermimpi. Sejenak ia dapat melupakan segala keluhnya di dunia nyata. Setidaknya untuk sementara. "Hal apa lagi ini? Kau terus saja berbuat apa yang tak penting!" ibunya lagi-lagi memarahinya. "Bu, ini hobi baruku. Semua tugas telah kuselesaikan. Setidaknya berikan aku waktu untuk ini." jawab gadis itu. Ibunya menggeleng dan memaksanya tidur. Dengan putus asa gadis itu menutup bukunya, meletakkannya begitu saja dan berlari menuju kamarnya dengan deru air mata. Ibunya mengambil buku bertema pudar yang tergeletak itu. Ia membaca satu cerita pendek dari buku itu. "Suatu hari hiduplah seorang gadis kecil sederhana di salah satu kota besar di negaranya. Ia banyak belajar tentang bagaimana bermimpi....." Di akhir cerita terdapat beberapa kalimat yang membuat ibunya menangis. "Ibu, aku sangat mencintaimu. Maaf selama ini aku tak dapat membanggakanmu. Aku tak dapat menjadi apa yang kau inginkan. Tapi sungguh aku mencintaimu."