penelope needs to come back then we will have the posie rain kiss
seen from United Kingdom

seen from Azerbaijan

seen from United States

seen from United States

seen from China

seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Spain
seen from United Kingdom

seen from United States
penelope needs to come back then we will have the posie rain kiss
Harap
Aku dapat merasakan detakan jantungku berdegup kencang. Hari ini tepat hari bersejarah bagiku. Mengenakan seragam ini membuatku berkeringat hingga membasahi bagian dalam pakaianku.
“Kau tidak apa-apa, Chris?”
“Aku hanya sedikit basah disini,” kusambung dengan tawa kecil. Wanita muda di hadapanku ikut tersenyum.
“Tak apa. Saat sudah mengudara kau akan terbiasa dengan seragam itu”.
Mau tidak mau aku harus mengenakan seragam astronot ini. Beratnya yang mencapai lebih dari 60 kg ini memang dirancang agar para astronot yang berada di luar angkasa mampu bertahan hidup. Seragam ini juga mampu menyesuaikan tekanan dan suhu bagi tubuh manusia.
Perasaanku saat ini antara perasaan senang dan takut. Aku sangat senang saat terpilih menjadi satu-satunya orang yang akan menjadi saksi sejarah sebagai manusia pertama yang menjelajahi luar angkasa seorang diri. Di lain sisi, aku merasa sangat takut, pengembaraan yang hanya kulakukan seorang diri ini lebih seperti misi bunuh diri. Menjelajahi antariksa yang tak terbatas seorang diri nyaris mustahil untuk dilakukan. Dengan pikiran-pikiran itu, sekali lagi kucoba untuk meyakinkan diri sendiri.
“Kau sudah siap, Chris?” suara Prof. Jeffrey mengagetkanku.
“Tentu, Prof,” jawabku dengan mantap.
“Baguslah. Jangan lupa untuk mengaktifkan portal tepat pada waktunya”.
Tentu saja aku tidak akan lupa. Aku telah mengingat semua intruksi yang diberikan kepadaku dengan sempurna. Beberapa menit pun berlalu dengan cepat. Semakin dekat pada momen peluncuran penjelajah antariksa pertama di dunia. Itulah aku.
Tiba waktunya keberangkatan, kulangkahkan kaki menuju pesawat di hadapanku. Sekilas, kutengok ke belakang, kepada orang-orang yang selalu mendukungku hingga saat ini. Anna selalu yang menarik perhatianku. Wanita muda itulah yang tanpa lelah selalu menyemangatiku. Dari balik seragam, kulambaikan tangan kepadanya, dan kepada mereka semua. Aku pun berbalik dan dengan yakin memasuki pesawat. Selang beberapa saat setelah pintu tertutup, keadaan di sekelilingku terasa lengang.
Setelah masuk, aku langsung mengambil posisi duduk senyaman mungkin di kursi kemudi. Layar dan tombol-tombol di hadapanku sangat meriah memenuhi kendali kemudi. Di bagian atas, tuas-tuas kemudi bergelantung dengan kokohnya.
Dari arah luar, sayup kudengar hitungan mundur peluncuran terdengar. 7, 6, 5, 4,.. jantungku tak henti-hentinya berdegup kencang.
3, 2, 1,… beberapa saat menjadi keheningan yang sangat mencekam. Kurang dari sedetik, tubuhku bergetar hebat dikarenakan getaran mesin roket bertenaga super. Roket pun terbangdan semakin menjauhi bumi. Tubuhku terdorong. Semakin tinggi, bagian-bagian pendorong roket mulai terlepas hingga hanya menyisakan badan pesawat yang kutumpangi.
Semakin lama getaran mesin mulai berkurang hingga nyaris tak terasa lagi. Itu artinya aku telah melewati masa-masa kritis saat peluncuran. Melalui jendela di sampingku, aku dapat melihat jelas Planet Bumi dan Bulan yang mengitarinya. Di baliknya, cahaya matahari menembus jendela menyilaukanku. Pemandangan inilah yang selalu kuimpikan sejak kecil.
Terlepas dari itu semua, aku harus fokus pada tugasku disini. Pergi ke Planet Gliese 667Cc merupakan yang pertama bagi umat manusia. Planet ini sudah lama menjadi objek penelitian antariksawan-antariksawan dunia. Planet ini dinyatakan sebagai planet yang paling menyerupai Bumi karakteristiknya , dan paling menjanjikan sebagai planet berpotensi layak huni, Gliese 667Cc terletak di zona layak huni bintang induknya dan hanya berada 22 tahun cahaya jauhnya dari Bumi, yang berarti berada di lingkungan kosmik kita.
Angka di layar kemudi pun terus menghitung mundur. Waktu pengaktifan portal tinggal beberapa menit lagi. Di saat yang tepat, aku harus menekan tombol pengaktifan, tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat, atau hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Portal itulah yang nantinya akan membawaku jauh ke Planet Gliese 667Cc. Ilmuwan dunia menamakan portal itu dengan “Lubang Cacing” atau “Wormhole”. Aku lebih senang menyebutnya dengan portal ruang dan waktu. Portal itu memungkinkanku untuk berpindah ke galaksi yang jauh hanya dalam hitungan menit bahkan detik.
Sesampainya disana, aku harus meneliti dan memastikan bahwa Planet Gliese 667Cc layak huni dan mampu ditempati makhluk hidup. Saat ini, ilmuwan dunia tengah berusaha mencari dan meneliti planet-planet yang mampu ditinggal manusia. Para ilmuwan memprediksi Bumi tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi untuk ditinggali. Layaknya makhluk hidup, planet juga memiliki umur yang suatu saat akan habis. Oleh karena itu, misi yang kujalankan ini menjadi sangat penting, karena menyangkut keberlangsungan hidup manusia. Tanpa sadar, diriku yang penuh dengan banyak pikiran mulai terlelap. Dunia di sekitarku menjadi gelap.
***
Perlahan aku terbangun dari tidur. Kontrol kemudi dan tombol-tombol lah yang pertama menyambutku. Mendadak kantukku hilang dalam sekejap. Layar di hadapanku yang tadinya menghitung mundur kini berbalik menghitung maju. Disertai lampu merah yang berkedip-kedip dia atasnya, angka di layar kini menunjukkan hitungan maju yang sudah melebihi beberapa menit. Aku terlambat mengaktifkan portal.
Setengah panik, buru-buru aku menekan tombol pengaktifan. Selama beberapa detik menegangkan itu, tidak ada sesuatu pun yang terjadi. Aku hanya bisa menahan napas. Selang cukup lama, portal pun aktif dan membuka di hadapan pesawat. Tanpa pikir panjang langsung kumasuki portal dan tenggelam ke dalamnya.
Selama beberapa menit aku mengarungi lorong panjang tanpa ujung hingga pada titik tertentu berhasil keluar dari dalamnya. Mungkin sekarang aku sudah semakin dekat dengan Planet Gliese 667 Cc. Untunglah aku dapat keluar dari lorong dengan selamat. Kupikir, aku akan terjebak karena keterlambatanku.
Kujalankan pesawat dengan kecepatan sedang dan lancar. Aku berhasil, pikirku.
***
Pesawat masih terus terbang dengan kecepatan sedang. Cukup aneh, seharusnya aku sudah sampai sekarang. Keluar dari portal, navigasi dan komunikasi pesawat mendadak tidak berfungsi. Menganggap ini hanya gangguan teknis, aku tidak terlalu ambil pusing. Tetapi, gangguan yang berkepanjangan ini lama-lama membuatku panik. Sampai saat ini aku hanya terbang tak tahu arah di angkasa yang luas.
Semakin jauh pesawatku terbang, aku dikagetkan dengan pemandangan yang terhampar di hadapanku. Tepat di depanku tampak planet yang begitu kukenali. Dengan bulan yang setia mengitarinya, Bumi yang ada di hadapanku tidak seperti yang kukenal sebelumnya. Bumi penuh dengan satelit-satelit yang mengitarinya. Aku bahkan tidak ingat manusia pernah menerbangkan satelit hingga sebanyak ini.
Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain mendarat karena navigasi dan koneksiku yang terputus. Langsung saja aku mendekati Bumi dan mencari tempat untuk mendarat.
Semakin mendekati Bumi aku semakin heran. Pemandangan yang ada di hadapanku tidak seperti yang kukenal sebelumnya. Aku yakin sekali aku mendarat di Kota New York, tapi yang kulihat hanya jejeran gedung-gedung tinggi berarsitektur futuristik yang sangat modern. Sebuah perubahan yang sangat drastis sebelum aku meninggalkan kota kelahiranku ini. Yang kukenali dari kota ini sekarang hanyalah Patung Liberty yang masih berdiri kokoh layaknya dahulu kala. Hampir tidak ada satu pun orang di kota ini.
Aku pun terus terbang rendah untuk mencari keberadaan manusia yang ada. Hingga sampai di sebuah lapangan rumput yang luas, aku melihat beberapa remaja tanggung tengah bermain sepak bola. Aku pun segera merapatkan pesawat berbadan besar ini dan mengambil posisi mendarat yang sesuai. Para remaja yang tengah bermain itu pun tampak kaget dan berlari tunggang langgang saat melihat pesawatku mencoba mendarat. Mereka terlihat sangat ketakutan dan bersembunyi di balik pepohonan di sekitar lapangan.
Setelah memastikan pesawat mendarat dengan sempurna, aku pun langsung keluar pesawat dan melepaskan seragam astronotku.
“Angkat tangan atau kau akan kami tembak!!” salah seorang remaja dari balik pohon mengarahkan pistolnya kepadaku. Diikuti oleh remaja yang lain yang ikut mengarahkan pistol kepadaku. Aku hanya pasrah dan mengangkat tangan.
“Apa yang kau lakukan disini , manusia tamak?” timpal remaja yang lainnya.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi disini,” jawabku agak panik.
Salah satu dari mereka mulai menelitiku dari ujung kaki hingga kepala. “Kau tahu sekarang tahun berapa?”
“2087?” satu alisku terangkat.
“Sepertinya kau tertinggal 150 tahun yang lalu,” tambah remaja yang lainnya.
“Apa maksudnya?” aku semakin kebingungan.
“Sekarang kau berada di tahun 2237, kawan”.
“Apa? Benarkah? Oh tidak. Sepertinya aku telah terjebak selama 150 tahun di dalam lubang cacing”.
“Apa yang kau lakukan dengan lubang cacing?” tanya remaja itu dengan sinis.
“Aku sedang dalam tugas penting dan rahasia. Maaf tidak bisa memberitahukannya pada kalian,” balasku tak kalah sengit.
“Tapi apa yang terjadi disini? Kenapa kota ini sangat sepi?” tanyaku mencoba mencairkan suasana yang semakin panas itu.
Dengan enggan salah seorang dari mereka menjawab, “beberapa tahun yang lalu, manusia yang sudah lama membicarakan keberadaan planet yang menyerupai Bumi pun akhirnya mencapai puncaknya. Setelah memastikan Planet Gliese 667Cc mampu ditempati makhluk hidup, perusahaan-perusahaan transportasi antariksa mulai menjual tiket kesana dengan harga yang sangat mahal. Dengan embel-embel “Bumi Akan Musnah” pun menyebabkan manusia melakukan migrasi besar-besaran. Akan tetapi tentu saja hanya orang-orang yang mampu membayar tiket lah yang bisa pindah. Orang-orang kaya dan pejabat-pejabat pemerintah terbang meninggalkan orang-orang yang tak mampu membayar tiket.”.
Aku hanya diam membisu. Kalau mereka tahu aku merupakan bagian dari penelitian itu mungkin mereka akan marah dan membunuhku. Aku tidak memikirkan akan sampai sejauh ini sebelumnya.
“Terjadi pertentangan besar-besaran dari seluruh warga dunia”.
“Mereka hanyalah orang-orang yang tamak. Selalu berpikiran bahwa Bumi akan musnah. Di lain sisi, mereka tidak pernah menjaga Bumi dengan polusi dan pencemaran yang mereka lakukan,” mereka saling menimpali.
Yang mereka katakan mungkin memang benar. Aku pun manggut-manggut mengiyakan.
“Akan tetapi ada satu hal yang kami syukuri adalah kami dapat memulainya dari awal kembali. Dengan menjaga lingkungan dan planet kita tercinta”.
Dengan energi pesawat yang sudah habis, mungkin aku tidak dapat kembali lagi ke masa sebelumnya. Aku tidak akan sedih tidak dapat kembali ke masa sebelumnya. Tidak ada yang perlu disesali. Saat ini aku dipenuhi dengan perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Harapan.
GUYS I MISSED HER SO MUCH IM CRYING LOOK AT HER SHES SOOOO PRETTY LITERALLY THE LOVE OF MY LIFE
look at her plsss she baby
– icons lulu antariksa
– like or reblog if u save or use
– icons lulu antariksa
– like or reblog if u save or use
– icons lulu antariksa
– like or reblog if u save or use
hello everyone yesterday was the last episode of legacies and julie replied on twitter that she did not intend to bring penelope back i know it's difficult because i'm suffering too but we will support lulu in everything she needs💖