Malam itu seperti malam-malam biasanya di ibu kota. Diantara komplek gedung-gedung bertingkat berdiri sebuah kelab malam dengan angkuhnya. Sebuah kelab malam yang meyimbolkan dunia malam ibu kota ini tampak sepi dari biasanya. Sebuah penerangan yang memadai dan arsitektur gedung yang mumpuni juga menambah kesan elegan dari kelab malam tersebut.
Di dalamnya seorang remaja tanggung telah menenggak habis botol kedua dari birnya. Ditemani seorang penghibur wanita di sampingnya menambah kegembiraan malam remaja itu. Kini tampaknya remaja tersebut sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran. Ia mulai meracau dengan bahasa yang tidak dapat dipahami. Wanita yang menemani malam remaja itu kini mulai merasa terganggu dengan tingkahnya, ia pun melepaskan rangkulan remaja itu dan beranjak pergi meninggalkannya.
Kini tinggal sang remaja sendirian bersama dunia fantasinya. Ia masih asik meracau dan bertingkah aneh hingga penjaga kelab malam mengusirnya karena sudah terlalu larut. Remaja tanggung tersebut mulai berjalan tanpa arah. Ketidaksadaran sudah sepenuhnya mengendalikan dirinya. Sang remaja masih saja tertawa bahagia, seakan hari ini bukan hari yang berat dalam hidupnya.
Selang beberapa jam yang lalu, kematian sang ayah sempat membuat Bayu terpukul. Ia merasa sangat sedih hingga tak tahu kemana lagi ia harus menumpahkan kesedihannya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Mungkin itulah peribahasa yang paling pantas menggambarkan keadaan Bayu sekarang. Berita kematian ayahnya ini menambah kegalauannya sejak dikeluarkan dari sekolahnya beberapa hari yang lalu.
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar, Nak. Jangan pernah berhenti untuk berharap kepada Allah. Segala yang terjadi di dunia sudah berada dalam ketetapan-Nya”.
Kalimat yang diucapkan ibunya ini tidak dihiraukan olehnya. Ribuan nasihat tidak ada yang pernah membekas.
Keesokan harinya, Bayu terbangun dari tidur panjanganya. Beberapa kali ia mengerjapkan mata memandangi langit-langit kamar. Ia mendekatkan arloji yang melingkar di tangan kirinya, dan memperhatikan jarum jam yang terus bergerak tanpa henti. Arloji casio hitam itu kini menunjukkan jam 9 lebih beberapa menit. Setelah sepenuhnya mengumpulkan nyawa dan kesadarannya kembali, ia paksakan dirinya bangkit dari kasur dan berjalan menuju dapur.
Ia mendapati ibunya tengah sibuk memasak sarapan. Bayu langsung menarik kursi meja makan dan mengambil posisi duduk yang nyaman.
“Akhirnya kamu bangun. Ibu lagi masakin makanan kesukaanmu nih,” sapa Ibu yang menyadari kehadiran Bayu. Bayu hanya membalasnya dengan anggukan lemah dan tatapan kosong ke depan.
Ibu yang tengah sibuk memasak kini mengambil sedikit kuah capcay dari wajan menggunakan sendok kecil. Ia tampak mengangguk tanda capcay yang ia masak sudah siap dihidangkan. Usai mematikan kompor, Ibu menuangkan capcay ke sebuah piring bercorakkan bunga dan mengantarnya ke meja makan.
“Spesial untuk yang baru bangun,” seraya menghidangkan makanan, Ibu terkekeh dengan leluconnya sendiri. Bayu hanya membalasnya dengan senyum hambar. Ibu mengambil posisi yang berlawanan arah dengan Bayu, dan kini mereka berada di posisi yang saling berhadapan. Tanpa perintah, keduanya mulai makan. Suara dentingan sendok dan piring mendominasi sarapan pada hari itu. Selebihnya, hanya kesunyian yang menemani sarapan pagi mereka.
“Tadi malam teman kamu ya?” tanya Ibu yang memecah keheningan. Bayu yang sedang makan kini terhenti dan sedikit melirik Ibunya. Satu alisnya terangkat meminta kejelasan dari apa yang diucapkan Ibunya. “Bukannya saat kamu mabuk tadi malam teman kamu yang ngantarin ke rumah?” sontak Bayu kaget mengetahui bahwa Ibunya mengetahui dirinya sedang mabuk tak sadarkan diri tadi malam.
“Maafkan aku Ibu,” Bayu tertunduk dalam dan merasa tak mampu melihat wajah Ibunya. Ibu hanya tersenyum kepadanya.
“Ibu yakin suatu hari nanti kau akan berubah,” kini senyum Ibu semakin merekah membuat Bayu semakin dalam tertunduk. “Lalu, siapa orang yang mengantarmu tadi malam?” lanjut Ibu masih dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
“Teman?” kini Bayu mengangkat wajahnya dengan raut wajah yang tidak bisa digambarkan.
Suara riang anak-anak terdengar riuh. Keadaan taman hari ini tampak bahagia. Seorang pemuda tampak berjalan lambat dan masih asik dengan pikirannya sendiri. Mungkin ia masih memikirkan ucapan Ibunya saat sarapan pagi tadi. Orang mana yang mau nganterin gua coba. Bayu yang tidak sadarkan diri tadi malam hanya bisa berprasangka tentang orang yang dimaksud Ibunya. Selagi masih sibuk dengan banyak dugaan, tanpa sadar Bayu dihampiri oleh seorang remaja tanggung yang mengenakan putih polos dengan celana chino hitam yang tampak cocok ia kenakan. Sekilas dari yang dilihat, remaja itu tampak ramah dan ceria dari segala sisi.
“Bayu, gimana pagi lu?” suara serak remaja itu kini mengagetkan Bayu dari lamunannya. Bayu yang merasa terganggu dengan kehadiran remaja itu hanya mengabaikannya dan lanjut berjalan. “Gua yang nganter lu tadi malem. Gak usah sibuk mikirin”.
Seakan bisa membaca pikirannya, Bayu yang sudah berjalan cukup jauh kini tampak menoleh ke belakang. Perhatiaan Bayu kini sepenuhnya tertuju pada remaja di hadapannya. Membaca kebingungan Bayu, remaja tersebut berjalan menghampiri Bayu dan menepuk bahunya.
“Kenalin, gua Fajar. Teman setia lu,” remaja itu tersenyum lebar yang justru semakin membuat Bayu penasaran.
“Fajar siapa sih? Sok kenal banget lu ama gua,” kini remaja yang bernama Fajar itu terkekeh mendengar tanggapan Bayu
“Nanti lu juga tau kok siapa gua,” Fajar langsung pergi meninggalkan Bayu dengan teka-teki besar di benaknya.
Wanita paruh baya itu tampak duduk dalam kecemasan di ruang tamu rumahnya. Bukan kali ini ia merasa cemas, bahkan beberapa bulan terakhir ini ia selalu dihantui kecemasan dan kekecewaan. Kematian suaminya menambah beban berat yang harus ia tanggung, seorang anak remaja yang harus ia besarkan sendiri. Sebuah tantangan tersendiri membesarkan seorang remaja laki-laki di zaman serba bebas ini, apalagi ditambah tanpa kehadiran sang suami.
Di tempat yang berbeda, sang anak telah menghabiskan batang rokok terakhir dari bungkus yang baru ia beli. Tak lupa kopi hitam turut menemani malamnya di warung Mpok Imah malam itu. Bayu melamun memandangi langit malam.
Tak selang beberapa lama Bayu dikagetkan dari lamunannya dengan kehadiran beberapa remaja seumurannya yang menghampirinya dengan cepat. Mereka berjumlah 4 orang dengan tatapan yang sepenuhnya tertuju pada Bayu. Bayu yang mengetahui benar apa yang terjadi kini segera berdiri dari tempat duduknya dan hendak melarikan diri. Sebelum sempat ia melarikan diri, kerah bajunya sudah berada dalam cengkraman salah seorang dari mereka yang berbadan paling besar. Bayu tak tinggal diam. Dia mencoba melawan dan berusaha melepaskan cengkraman remaja tersebut dari kerah bajunya.
“Ngaku aja. Lu kan yang ngambil duit kita?!” bukannya mengendurkan, justru remaja itu semakin kuat mencengkram kerah baju Bayu. Kini 3 orang yang bersama remaja itu mulai mengerubungi Bayu dan mulai memukulinya. Bayu dapat dengan jelas merasakan berbagai pukulan yang bersarang di tubuhnya. Sebuah pukulan kini tepat mengenai rahang bagian bawahnya. Bayu pun tumbang dan ia merasakan kini dunianya perlahan mulai gelap hingga ia sepenuhnya hilang kesadaran.
Sri masih sibuk membersihkan luka memar yang kini menghiasi wajah anaknya. Perasaannya bercampur aduk antara iba dan kecewa. Seraya perlahan mengambil kain yang sudah basah terkena air hangat, ia dengan hati-hati membersihkan luka-luka pada wajah anaknya.
Bayu yang terbaring di kamarnya itu kini perlahan membuka matanya. Kamar yang bercatkan abu-abu dengan kehadiran sang Ibu di sampingnya menjadi pemandangan pertama yang dilihat Bayu setelah terbangun. Ibunya yang melihat ia sudah sadarkan diri tersenyum seperti biasanya.
“Jangan dapaksain gerak dulu. Kamu sih macam-macam aja kerjaannya,” Bayu tampak tertawa hambar mendengar Ibunya.
“Untung temanmu mau ngantarin lagi kamu balik,” sambung Ibu.
Teman? Dia lagi? Sejenak Bayu kembali teringat pada remaja tanggung yang kemarin menghampirinya di taman.
“Iya nih,” Bayu kembali terkekeh mencoba mengalihkan perhatiannya.
Setelah semua lukanya sudah dibersihkan, Bayu mencoba untuk bangkit dari kasurnya. Setelah mendapatkan izin dari Ibunya, ia berjalan-jalan keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia langsung menuju taman yang sama yang ia datangi kemarin. Taman itu terletak hanya beberapa langkah dari rumah Bayu. Setiap harinya anak-anak yang tinggal di komplek rumahnya menghabiskan waktu bermain disana. Bagi Bayu, taman ini selalu special dan menjadi pilihan yang tepat di saat ia merasa bingung atau dihadapkan pada suatu masalah. Suasananya yang masih asri dan rimbun dapat membuat siapa saja merasa nyaman selama berada disana.
Dari kejauhan, Bayu dapat dengan jelas melihat seorang pria yang begitu ia kenal tampak duduk santai di kursi taman. Bayu terus berjalan mendekatinya. Ia mengambil posisi duduk tepat di samping remaja tersebut. Remaja itu yang dikenal Bayu sebagai Fajar menyadari kehadiran Bayu.
“Gimana luka-luka lu? Udah enakan?’ Fajar kini menoleh menatap Bayu. Ia memelototi Bayu seakan coba menerawang keadaan Bayu
“Santuyy,” Bayu tertawa kecil mendengar jawabannya sendiri. Fajar yang berada di sampingnya kini ikut tertawa. “Lu lagi yang nganterin gua balik?”
“Iya,” jawab Fajar singkat. “Gua kan teman setia lu’.
“Gua gak tahu lu ngomong apaan, tapi makasih ya selama ini udah bantu gua”.
“Santuyy,” balas Fajar yang mengikuti jawaban Bayu. Kini keduanya saling tertawa. Setelah itu obrolan mereka berlanjut dengan sekali-kali mereka tertawa bersama.
Bukan hal yang mudah bagi pecandu rokok dan minuman keras untuk berhenti dari kebiasaan buruknya, begitu juga yang terjadi pada Bayu. Berusaha memenuhi hasrat yang kian membara, kini ia dengan botol minuman keras yang tinggal setengah di tangan kanan dan batang rokok di tangan kiri tampak setengah sadar dan mulai meracau tak tentu arah.
Bayu masih terduduk setengah sadar di samping jalan protokol perkotaan. Orang-orang yang melalui jalan tersebut hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan Bayu yang tak tahu diri itu. Mata Bayu yang setengah kabur karena mabuk itu tampak melihat segerombolan pria berbaju hitam polos tampak berlari ke arahnya. Belum sempat bertindak, Bayu sudah ditarik kabur ke sebuah gang kecil lalu berlari di tengah pemukiman padat warga ibukota.
“Berhenti oy. Gua mual, gak tahan lagi,” tiba-tiba Bayu menghentikan langkahnya. Orang yang menariknya lari menoleh ke belakang. Itu Fajar.
“Ayo kita harus kabur. Kalo gak polisi-polisi tadi bakal nyusul kita,” kini Fajar masih berusaha menarik tangan Bayu untuk terus berlari.
Dari belakang polisi-polisi itu tampak mengejar dan semakin mendekat. Bayu yang tidak punya pilihan lain terpaksa mengikuti Fajar yang membawanya semakin jauh dari keberadaan polisi-polisi yang mengejarnya. Setelah dirasa aman dari kejaran polisi, akhirnya mereka bisa bernafas lega.
“Gua heran ama lu, mau aja nolongin gua,” masih dengan nafas terengah-engah, Bayu bertanya pada Fajar.
“Karena gua teman setia lu,” Fajar seakan bisa membaca kebingungan di raut muka Bayu, ia kembali melanjutkan, “Gua tau lu bingung sama semua omong kosong gini. Gua sahabat lu. Gua datang dari masa depan buat ngubah hidup lu yang sekarang jadi lebih baik,” kini Bayu semakin kebingungan dengan apa yang diucapkan Fajar.
“Sekarang gua minta lu pejamin mata lu. Lu pegang erat tangan gua. Apapun nanti yang bakal lu rasain jangan pernah buka mata lu. Paham?” Bayu sempat ragu-ragu sebelum akhirnya ia mengangguk mengiyakan.
Mengikuti apa yang diperintahkan Fajar, Bayu menutup matanya dan memegang erat tangan Fajar. Selang beberapa lama, Bayu merasakan sesuatu yang tidak biasa dalam dirinya. Ia merasakan pening dan mual yang tak tertahankan. Ia hampir saja membuka matanya, tetapi ia teringat kembali perkataan Fajar yang melarangnya membuka mata apapun yang terjadi. Hal itu ia rasakan selama beberapa lama hingga mual yang ia rasakan sudah benar-benar berhenti.
“Sekarang lu bisa buka mata lu,” suara Fajar mengagetkan Bayu. Bayu perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada di tempat yang berbeda. Kini ia tengah berdiri di suatu ruangan berukuran sedang dengan dinding yang berwarnakan putih seluruhnya. Di dalamnya terdapat sofa dan meja yang beralaskan kaca. Diatas meja tampak ornamen bunga yang memperindah tampilan ruangan itu. Ini rumah sakit.
Selagi sibuk melihat sekeliling ruangan yang ia tempati sekarang, ia mencari keberadaan Fajar. Ia menemukan Fajar sedang berdiri mematung menatap ke orang yang terbaring pada ranjang yang berada di sampingnya. Bayu pun mendatangi Fajar dan berdiri tepat di sampingnya. Ia melihat apa yang Fajar lihat. Bayu melihat pemandangan yang mengerikan sekaligus iba. Tampak seseorang tengah terbaring lemah diatas ranjang dengan selang infus yang ada di tangan kirinya. Mukanya sangat tirus dan sudah tidak ada sehelai rambut pun yang menempel di kepalanya.
“Dokter memvonis lu yang sekarang sedang sekarat ini akan wafat dalam beberapa hari ke depan,” sekarang wajah Fajar tampak serius. “Dengan kebiasaan yang lu lakuin sekarang, lu bakal berakhir kaya lu di zaman ini. Gua gak mau kehilangan lu buat selamanya Bay,” kini Bayu memandangi Fajar yang mulai terisak.
Bayu membuang muka tak tahan melihat Fajar yang menangis semakin keras. Kini di pikirannya bukan lagi pertanyaan tentang bagaimana cara ia hingga sampai ke waktu yang sekarang, atau berbagai hal lain yang masih membingungkannya. Kini ia benar-benar merasa terpukul dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Dirinya di waktu yang akan datang tampak terbaring tak berdaya. Hidup segan mati pun tak mau.
Keheningan mulai melanda membuat suasana semakin canggung diantara mereka berdua. Kini Bayu sibuk dengan pikirannya sendiri. Seiring berjalan waktu, tangisan Fajar mulai mereda dan mulai kembali tenang.
“Ayo, kita harus balik, keburu ada yang liat,” Fajar yang sudah mulai tenang kini menghapus air matanya. “Dimensi waktu memiliki waktu yang sangat terbatas, sini tangan lu! Jangan lupa tutup mata!” Bayu hanya bisa menaati perintah Fajar, dengan enggan ia menggapai tangan Fajar yang menjulur ke hadapannya.
Semua itu berlangsung sangat cepat. Kini Bayu telah kembali ke waktu seharusnya ia berasal. Ia telah kembali tapi tidak dengan Fajar. Ia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal. Satu hal yang Bayu yakini, teman bisa pergi tapi tidak dengan kenangan.
Matahari pagi telah menyingsing di ufuk timur, sebuah minggu pagi cerah seperti biasanya. Usai melaksanakan sholat Shubuh, Bayu membaca beberapa dzikir pagi sesuai anjuran Nabi. Setelah selesai melaksanakan rutinitas paginya itu, Bayu langsung menggapai sepatu running yang tersusun rapi di raknya.
“Bu, aku berangkat dulu ya,” teriak Bayu kepada Ibunya yang tengah sibuk memasak di dapur.
“Iya, hati-hati. Jangan terlambat pulang buat sarapan ya,” Ibu menyahut dari arah dapur.
Usai memasang sepatu dan melakukan beberapa peregangan, Bayu mulai jogging mengelilingi komplek. Di tengah perjalanannya ia melihat seseorang yang sangati ia kenal. Spontan Bayu langsung berlari ke arahnya
“Hai. Kenalin, gua Bayu. Teman setia lu,” sebuah senyum tulus dan uluran tangan yang Bayu berikan. Orang yang berada di hadapannya tampak bingung dan menyambut uluran tangan Bayu, “Gua Fajar,” sebuah senyum balasan yang tidak kalah tulusnya. Hari itu semuanya terbukti, seorang sahabat tidak akan benar-benar meninggalkanmu. End.