Kalaupun ada yang harus disalahin adalah dirimu sendiri yang tak bisa melawan hawa nafsu mu sendiri.
lebih memihak kepada rasa malas. lebih memilih logikamu dari pada bisikan hati mu.
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from France
seen from Italy

seen from United States

seen from Canada

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Canada

seen from Netherlands
seen from Uzbekistan
seen from Venezuela
seen from Russia
seen from France
Kalaupun ada yang harus disalahin adalah dirimu sendiri yang tak bisa melawan hawa nafsu mu sendiri.
lebih memihak kepada rasa malas. lebih memilih logikamu dari pada bisikan hati mu.
Aku dicintai oleh hidup ini... Aku diinginkan oleh hidup ini... Itu membuat ku merasa... Aku penting dan berharga... Dan membuat enggan pedulikan hal yang tak bermakna... Aku ikhlaskan masa lalu ku... Demi sebuah masa depan indahku... Ini adalah bukti bahwa aku tegar berdiri... Karena Aku cinta pada diriku sendiri... #pemulihanjiwa #dedysusanto #akumaafkandiriku #apakabarhati #love (at Body, Mind, Soul & Spirit)
Sapa Tanpa Suara
Hai kau yang di sana
Apa kabar?
Aku di sini sedang menyibukkan diri
Belajar mengatur waktu, mencoba hal-hal baru, berenang di antara tumpukan tugas kuliah dan organisasi
Hai kau yang di sana
Apakah saat ini kau tengah menatap langit yang sama?
Sepertiku yang kini tengah mendongak, menatap awan kelabu dari balik jendela
Hai kau yang di sana
Aku ingin memastikan apakah kau masih mengingatku di sana
Aku ingin berkabar bahwa sampai detik ini entah kenapa, perasaanku masih di tempat yang sama
Akan aku sampaikan kepada angin yang lewat di luar sana
Hai kau yang di sana
Aku hanya ingin menyapa meski tanpa suara
Aku Takkan Memaksa
Jikalau kelak aku sudah siap, dan kau merasa belum.
Jikalau kelak aku masih mengharapkan kita, tapi kau merasa biasa saja.
Jikalau kelak usiaku sudah cukup dan harus, sedangkan kau masih memiliki waktu yang panjang.
Jikalau itu terjadi, aku tak akan memaksa.
Karena siapa yang datang lebih dulu, dan Tuhan ada dalam setiap prosesnya, maka dia berhak untuk menggenapkan.
Karena apa-apa yang akan terjadi nanti, siapapun yang akan hadir, siapapun yang akan berjuang untuk menetap, siapapun yang akan menyempurnakan; adalah bagian dari rencana besar Tuhan. Dan ketetapan itu tak akan terjadi bila Dia tak mengijinkan. Bukankah berserah itu lebih indah dan menenangkan?
Semoga kau takkan pernah melewatkan apapun.
Karena sebuah penantian akan berujung pada perhentian. Karena sebuah pencarian selalu menemukan ujung. Dan Tuhan lebih tahu perhentian mana dan dimana ujung yang tepat itu.
#Tentang Cinta : Perasaan Apa ?
Perkuliahan kali ini benar-benar terasa biasa. Aku diam mendengarkan materi yang disampaikan dosen. Sesekali menyangga kepalaku. Bosan. Setengah jam kemudian kelas berakhir.
“Sholat yuk, Sya ?”, ajak Hanin.
“Yuk Nin, udah butek nih ! Puuhh... ”
“Tumben ngga sama dia Sya ?”
“Hmm.. Lagi males Nin. Eh, apasih tiba-tiba nanyain dia ? Jangan-jangan.... Ciye Ninin ! Hahaha”, ledekkan ku ternyata mampu mencairkan suasana. Kami tertawa sembari terus melangkah menuju masjid kampus.
Masjid di kampus kami terletak di lantai tiga. Tempat paling mengasyikan untuk sekadar melepas lelah atau menenangkan pikiran. Kali ini masjid terasa lengang. Menyisakan aku, Hanin, dan beberapa mahasiswi yang terlihat asik berdiskusi sambil mengerjakan tugas.
“Haaaaaa.... Enak banget ya Nin di sini !”
“Haha.. Iya Sya, lagi badmood ya ? Dari tadi diem mulu”. Kata-kata Hanin membuatku tersenyum. Ah, Hanin.. Dia selalu tahu apa yang aku rasakan tanpa aku memberitahunya. “Yaudah yuk, Nin ? Shalat dulu”.
Ada yang berbeda. Rasanya begitu nyaman berlama-lama bersujud di hadapan-Nya. Setiak gerakan benar-benar ku nikmati. Aku menutup shalat dengan beberapa doa. Hanin juga telah usai menyelesaikan shalatnya.
“Mau balik lagi ke kampus barat ngga ?”, tanya Hanin usai mengembalikan mukena ke dalam etalase.
“Ngga tau Nin ? Kamu mau ke kampus barat sekarang ?”, jawabku sambil membenarkan hijabku.
“Sini dulu deh Sya, sekalian istirahat gitu... :D Bay the way kamu bawa laptop ngga ? Kalo bawa pinjem dong buat ngedit tugas”
“Ada tuh ditas, ambil aja Nin ? Ngambil sendiri gapapakan ? Lagi ribet nih, hehe”
“Okey.. Pijem ya”
“Iya Hanin cantikss”
Hanin sibuk mengerjakan tugasnya. Sedang aku hanya membeca buku sambil bersandar. Lelah membaca buku membuat aku sejenak memejamkan mata. Mendengarkan bunyi ketukan keyboard yang dimainkan jari-jemari Hanin dan kicauan burung mungil yang betenggr dipagar tepi masjid. Aku menerawang jauh ke langit biru di atas sana, membawaku pada kenangan masa lalu. Ada rasa rindu yang datang mengusik. Rindu masa-masa SMA. Rindu hujan. Dan berjuta rindu lainnya. Apa kabar kenangan masa lalu ? Ku harap kau terjaga di sana. Kenangan-kenangan itu menyeruak satu persatu, seperti berlomba untuk kembali diingat. Tanpa ku sadari Hanin memanggilku.
“Sya.. Nasya ! Hey !”, panggil Hanin sambil sedikit membentak. Menyadarkanku dari lamunan.
“Eh, iya Nin ? Maaf maaf... hehe”
“Kamu tuh Sya, ditanyain diem aja. Ternyata bengong... Awas loh kemasukan ! hehehe”
“Astaghfirullah... Kelepasan Nin ! hehe... Tiba-tiba keinget yang udah-udah nih”
“Hadeh... Eh ya, nih ada telepon”, Hanin buru-buru menyerahkan handphonku. Telepon dari Meyhani ? Ada apa ?
“Assalamu’alaikum... “
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.. Kamu di mana sih Sya ? Kok ngga ikut gabung ? Ngga keliatan dari tadi ! Apa kamu udah pulang ? Kamu baik-baik ajakan ?”, pertanyaan Meyhani langsung mengepung. Berderet begitu banyaknya. Meyhani punya kebiasaan buruk bertanya secara keroyokan. Mm.. maksudnya satu pertanyaan belum terjawab sudah bertanya lagi.
“Eh.. Satu-satu dong nanyanya ? Aku bingung tau !”, balasku dengan wajah cemberut “Masih di masjid nih sama Hanin. Aku baik-baik aja kok. kenapa sih Mey ?”
“Kamu ditanyain Abang, soalnya abis selesai kelas kamu ngilang”
Abang ? Menanyakan aku ? Ngga salah ? Bukannya menjawab pertanyaan Mey aku justru diam. Bertanya-tanya apa yang merasuki kepala Abang. Bukankah biasanya dia begitu cuek ? Aneh. Astaghfirullah ! Husnudzan Sya ! Mungkin cuma nanya biasa. Batinku.
“Nasyaaa... ! Denger apa engga sih ?!”, jerit Mey.
“I... Iya... Iya... Denger kok. Ya udah aku kesana sekarang. Wassalamu’alaikum... ”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah..”
Tut.. tut.. tut.. Telepon ku matikan. Langsung ku alihkan pandanganku pada Hanin.
“Ngeditnya udah Nin ?”
“Udah kok Sya, disuruh ke kampus barat ya ?”
“Iya, Abang nanyain.”
“He ? Abang ? Tumben ?”
“Ngga tau deh Nin, yauda yuk ? Kali ada yang penting”
Saat akan menyebrang jalan aku berubah pikiran. Ada keraguan untuk kembali ke kampus barat. Malas bertemu Abang. Ada yang mengganjal. Perasaan apa ini ? Apa aku marah ? Tapi karna apa ?
“Kita pulang aja deh Nin ? Udah sore ini”, kata-kata itu keluar secara spontan dari mulutku.
“Loh Sya ? Ngga jadi ketemu Mey, Abang, sama Diandra ?”
“Ngga deh Nin. Pulang aja yuk, capek ? hehe. Nanti aku sms mereka deh, kasih tau kalo kita ngga bisa balik ke kampus barat.”
“Yaudah yuk ? Aku juga capek.”
Akhirnya kami pulang. Sebelum naik bus aku mengirimkan pesan pada Mey. Aku bilang aku harus pulang. Ada urusan. Satu hari penuh tanda tanya kembali terleawati. Semoga esok atau entah kapan aku menemukan semua jawaban dari semua tanya ini. Waktunya pulang. Istirahat.
#Cerita Dari Teman : Kisah Cinta Jarak Jauh
Sudah berapa lama ya dek kita kenal ?
Pertanyaan itu kembali terlontar dari mulut Kak Putra. Untuk kali ke 3 dia bertanya. Tiga tahun sudah kami saling mengenal. Tapi sekalipun beum pernah bertatap muka secara langsung. Kami hanya berjuampa lewat dunia maya, lewat kolom komentar, atau video call. Bukan cuma sekali Kak Putra mengajak ku bertemu, tapi entah kenapa rasanya berat. Ada rasa malas sekaligus takut. Padahal aku mengenalnya dari sahabatku sendiri. Terlihat jelas Kak Putra bukan seorang yang mempunyai niat jahat, malah terkesan menyenangkan untuk diajak bertukar pikiran atau sekadar bergurau.
Kak Putra sering bercerita tentang hubungan percintaannya denganku. Tentang hubungan jarak jauhnya dengan sesosok makhluk cantik bernama Meiga. Aku juga mengenal Meiga ? Sama dengan Kak Putra, aku hanya mengenal Meiga lewat dunia maya. Bagiku mereka pasangan yang cocok. Dua manusia ini sering terjebak rindu yang tak bisa bertemu. Jarak yang lumayan jauh membuat mereka jarang bertemu. Terlebih Meiga tinggal di asrama sekolahnya. Karna hubunga jarak jauh itu, mereka sering sekali salah paham. Mungkin karna mereka rindu ? Dan biasanya saat seperti itu aku harus bersiap menenangkan hati Kak Putra. Membuatnya berpikiran positif.
Pernah Kak Putra menelponku hanya karna Meiga tak memberi kabar. Lalu aku memberitahunya pelan-pelan. Mungkin Meiga sedang ada ujian, mungkin Meiga sedang disibukkan dengan tugas, atau malah handphonenya rusak ? Dan benar saja, handphonenya rusak. Mereka sering sekali bertengkar. Kehabisan quality time ? Jelas. Kesibukan masing-masing sering membuat mereka marah. Untungnya tak berlangsug lama.
Melihat romantisme itu entah kenapa membuatku bahagia. Ya.. Padahal aku sendiri masih menjomblo ? Lucu sekali bukan ? Biasanya, saat Kak Putra sedang cross dengan Meiga omongannya jadi nglantur. Menggodaku dengan rayuannya. Efek stres memikirkan hubungannya mungkin ? Tapi aku tak pernah menganggapnya serius. Senang melihat mereka berdua. Kadang terlihat dewasa, kadang kekanak-kanakan, kadang sangat lucu. Cinta memang bisa mengubah semuanya ya ? Lalu... Kemana saat ini cintaku ? Biarlah dia berkelana. Aku yakin sejauh apapun “ia” terpisah denganku, Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan :D
Cukup senang melihat orang-orang di sekitarku terserang virus merah jambu. Jadi bisa belajar dari kisah mereka. Walaupun sejujurnya aku tak mau jika menjalin hubungan tanpa komitmen itu ‘lagi’. Aku hanya berdoa agar mereka selalu bahagia. Karena melihat mereka bahagia membuatku bahagia juga :)
Kalau sudah pada puncaknya kamu lelah dan ingin menyerah... Jujur saja, jujur itu menyakitkan kadang memalukan ? Tapi ia membuat damai setiap hati yang tadinya gelisah
NasyaYesha (Jum’at, 26 Juni 2015)