123/45 : priceless journey.
OCTOBER!!! A new beginning. A new status. A new start.
My all favourite month, nggak cuma gara-gara bulan kelahiran, tapi ada yang spesial disini, life achievement ke sekian akhirnya berhasil di unlock. Hihi. Alhamdulillah mission accomplished. :)
Bachelor of Architecture.
"I'm not good enough too. However if I can't do this, then no one in this country can."
Lumayan congkak sih. But hey, it works. Paling nggak nge-boost confidence level sampai satu-dua step lah. Tapi tentunya nggak bakalan bener-bener berhasil kalo cuma diinget-inget dan nggak dilakuin. :))
Final assignment. Plusss angka cantik periode TA nya, 123/45. Yang bilang anak arsitek itu cari nilai nya gampang, sini ribut sama gua. LOL. Kenyataannya perjuangannya nggak seindah deretan angka itu. Such an expensive price for such experience. Fiuh.
Sebelum TA pokoknya udah komitmen, kalo udah niat, bismillah, kudu hajar sampe kelar. Pokoknya nggak ada ampun dan nggak ada tapi. Semangat kudu gimana lah caranya, mau nyari mood booster pun direlain sampe bokek. Demi, oh demi.
Tahapan awal masih mulus. Sidang proposal. Sebelumnya survey dulu ke resort-resort yang kelasnya udah internasional, Mesastila resort dan Amanjiwo resort. Bener-bener perjalanan yang breath taking. Nggak bo'ong. Memang beda ya berkunjung langsung sama yang cuma modal colok modem terus search google. The ambience, the atmosphere... Apalagi sama temen-temen seperjuangan. Kerasa banget. Nggak akan terlupakan dan semoga bisa balik kesana bareng-bareng. Nginep tapinya... nggak cuma liat-liat aja kayak mahasiswa bokek. Hahaha.
Tahapan kedua. Sidang paper. Oh so called LP3A. Skripsinya mahasiswa arsitek, laporan sebelum mendesain. Semangat lagi meluap-luap. Hihi. Karena emang suka nulis, betah-betah aja ngetik-ngetik sampe tidur sehari cuma 2 jam. Dan anehnya... nggak capek. Gimana pun juga ngerjain tiap tahapan ini ada waktunya. Siap nggak siap kudu sidang. Jadi perjuangan juga harus ekstra keras.
Sidang kedua... bisa dibilang sidang paling zlep zlep zleeep. Bukan karena kata-kata dosen yang hak desss, tapi karena pertanyaannya... ngalirnya udah nggak kayak air biasa tapi air hujan. Pas badai. Nggak grimis. Tapi alhamdulillah karena udah survey site berkali-kali sebagian besar bisa di jawab semi-semi ngeles hehehe.
Tahap ketiga. Nah ini bisa dibilang tahapan gejala galau.Studio eksplorasi. Ngegambar free hand di kertas A2. Penterjemahan si paper ke dalam ide desain. Luar biasa. Bukan karena cuma bobot nilainya yang paling banyak, tapi juga karena tahapan ini pas bulan Ramadhan. Subhanallah godaannya. Ujiannya, juga. Luar biasa. Nggak perlu disebutin kenapanya, intinya jurusan lagi masa-masa peralihan jabatan. Dan mahasiswa TA salah satu yang kena imbasnya, dalam hal peraturan. Pressure jadi meningkat juga, jauh melebihi periode sebelum kami. Jangan ditanya deh, kapan terakhir kami tidur nyenyak. Ngeluk boyok aja susah. Mecahin rekor juga nih, balik dari kampus tengah malem. Dan pagi-pagi masih kudu balik lagi kerja di studio. =))
Alhamdulillah dikasih kekuatan melalui tahapan ini. Selama minggu-minggu terakhir sebelum sidang isinya saling ngepuk-puk temen-temen seperjuangan. Pokoknya gimana caranya lah, biar kita bego gara-gara stres yang penting tetep semangat. Sidang ketiga lumayan kalem daipada sidang kedua, tapi auranya paling horor selama sidang-sidang TA. Mungkin karena ada salah satu dosen yang nggak hadir, padahal bapaknya baik dan unyu-unyu banget hehehe. Tapi yang bikin sedih, ada 2 temen sekelompok yang nggak lulus dan harus mengulang di periode selanjutnya. :"
And finally, tahapan akhir. Studio grafis. Udah mulai galau akut karena peraturan makin bertambah, absensi makin ketat, dan pressure nya semakiiin tumpe tumpe. Udah nggak habis pikir lagi sebenernya, tapi karena tinggal sekali ini, nggak boleh nyerah dan ngeluh sama keadaan. Oya, nggak boleh juga sampai ketiduran semena-mena. Haram hukumnya tidur lebih dari 4 jam hahaha.
Sempet kena masalah absensi, berkali-kali. Awalnya kuat-kuat aja, tau-tau di sidang, tau-tau di tulis namanya di daftar mahasiswa bermasalah. Tapi ketika sidak yang terakhir, nggak kuat. Akhirnya jebol, nangis di studio. Buat yang pertama kalinya.
Asli. Parno abis ini step terakhir. Puk-puk sesama temen seperjuangan makin gencar. Rasanya tuh ya, makin deket sama temen-temen karena senasib sepenanggungan. Dan Allah selalu kasih jalan. Bantuan dateng dari mana aja, nggak disangka-sangka. :""")
Dan... sidang terakhir. Nunggu yudisium terlama. Dan kejutan waktu melangkah keluar dari ruang sidang. Sampe sekarang hari itu rasanya masih kayak mimpi.
Seneng, terharu. Tapi juga sedih ngeliat temen-temen masih ada beberapa yang nggak lulus. Mungkin ini rekor, karena periode sebelumnya yang nggak lulus nggak sebanyak ini. Bener-bener nggak tau apa yang mau dirasain hari itu.
Dan sekarang, lagi duduk, nginget-nginget itu semua, bikin senyum-senyum sendiri. Sekaligus agak sepet di kerongkongan, karena inget sekelar ini semua, udah bukan mahasiswa lagi dan bakalan lebih banyak tanggungan hidup.
Bukan yang dijagain. Tapi jadi yang ngejagain.
As the only one child... rasanya... ah ditulis juga yang ngerti cuma sesama anak tunggal bhihi. *brb menjauhkan segala macam benda tajam*
November, next month. Perjuangan baru akan dimulai, yang diawali sebuah telpon dari Jakarta waktu keluar ruang sidang. Panggilan internship di IAAWS, Imelda Akmal Architectural Writer Studio. Penulis arsitektur ternama, sekaligus tokoh yang dikagumi. Beneran nggak ngira sama sekali. :')
123/45. Every hard work has been paid off. Alhamdulillah, and bismillah.
So... wish me luck in November and Jakarta too, will you? :)











