13.11.2016 - ever ours.
“Speak and doing good anywhere. Don’t give up trying. Who knows that God may grant your wish faster than you thought, coincidentally or not.”
---Postingan ini super panjang karena udah setahun MIA nulis :p---
Awal tahun 2016, seperti yang sempet ketulis di instagram, bisa dibilang adalah titik balik dalam pendewasaan diri di dunia kerja. Kejar tayang proyek waktu itu bikin tension naik dimana-mana. Liburan awal tahun pun sempat tertunda karena dipaksa balik ke proyek, dimana nggak cuma menghadapi kerjaan tapi juga konflik sama atasan *tsah*. Mungkin karena saking empetnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah lepas pubertas, aku curhat ke ortu sambil nangis : Mama, Papa, aku mau resign aja. Segitu desperate-nya? Well, it was. Mungkin akumulasi dari tumpukan perasaan dan usaha “aku rakpopo, aku kudu kuat” selama di proyek, lmao iykwim.
But, as always, ortu nggak pernah nggak mendukung karier aku, dan nasihatin baik-baik, jangan ambil keputusan disaat emosional. Akhirnya berangkatlah balik ke proyek untuk menuntaskan kewajiban beserta segala konsekuensinya. Awalnya rasanya nervous-nervous kesel gimana gitu, walau akhirnya bisa pulang dengan rasa damai dan plong. Kadang-kadang kita merasa nggak akan bisa survive dalam kondisi tertentu, tapi nyatanya ketika dijalani, it turns out to be fine. Everything will be alright. :)
Saat itu, masih belum kepikiran sama sekali untuk menikah tahun 2016. Kerjaan lagi lumayan menyita pikiran. To be honest, selama LDR-an sama Iqbal, memang sempet di era 2015-an galau pengen nikah muda. Iqbal-nya sih saat itu kaya belum minat gitu kesana :p. Memang sih, kalau dipikir-pikir saat itu cuma “ngebet” doang rasanya, tapi kalau di skak mat pertanyaan masalah kesiapan sama Iqbal cuma bisa plonga-plongo dan ujung-ujungnya bete.
Akhirnya setelah berbagai macam diskusi alot berdua, apalagi Iqbal juga cerita Bapak Ibuk-nya pengen fokus njodohin kakak pertamanya dulu (sempet lemes dengernya), well, oke, lah. Mungkin sudah saatnya menyudahi percakapan nikah-nikah ini. Dalam proses pasca kegaluan itu, aku pun sadar kalau there’s a big difference in between “ngebet dan pengen” sama “siap dan niat”.
Anyway, memang dari dulu aku punya cita-cita kalau pengen nikah maksimal umur 24 tahun, which is tahun 2016 ini lah saatnya. Tapi kalau keingat diskusi-diskusi tempo dulu yang belum ketemu, jadi males buat mengulanginya lagi di tahun ini. Ah, yang penting rukun ajalah, LDR udah berat, ditambah kerjaan apalagi. Toh juga sudah ada niat kesana (walaupun entah gimana dan kapan nantinya). Pokoknya berdoa terus, kalau memang berjodoh mudahkanlah ya Allah.
Inget dulu waktu ngepost selfie pertama di IG sama Iqbal, iseng aja ngasih caption “Semangat ya udah 2016!”. Padahal enggak ngerti juga apaaa maksudnya, emang mau ada apaan di 2016 sih sok iye banget, hahaha. Tapi ternyata jadi nyata loh! :)
Skip ke bulan-bulan berikutnya, nggak ada angin nggak ada ujan, Iqbal bilang lebaran nanti pengen silaturahmi ke rumah sama Bapak Ibuk. Oh oke lah, paling kunjungan biasa, pikir aku, entah cetek atau emang udah ogah ngarep, sebenernya beda tipis sih itu, wkwk. Bahkan sampai Iqbal udah bilang langsung ke Papa pun, masiiih aja mikir ah paling iseng (buset, emang ga ada kerjaan apa gimana), ah paling ngobrol biasa. Intinya, belum percaya kalo belum kejadian, toh nggak ada obrolan soal nikah-nikah lagi selama ini. Selow aja... men...
Sampai akhirnya, 10 Juli 2016, doi beneran datang. Tapi bohong banget katanya bawa orang tua doang, eh nyatanya malah bawa pasukan keluarga besar! Hahaha.
Hari itu aku resmi di lamar dan bukan sekadar mimpi, yeay. :””””D
Memang bukan acara resmi, tapi ya namanya dilamar gimana sih ah elah, rasanya dangdut banget pokoknya. So finally this is it, kalo caption hits masa kininya : one step closer. Eaaa, alay. Dan sebulan kemudian, tepatnya tanggal 6 Agustus 2016, aku sekeluarga besar gantian berkunjung ke rumah Iqbal untuk menjawab lamaran sekaligus menentukan tanggal pernikahan.
Setelah survei cepat venue dan berbagai macam pertimbangan, dari draft perkiraan tanggal akhir Oktober berubah menjadi 13 November 2016. Acara akad dan resepsi akan dilangsungkan dalam satu hari. Fix. Alhamdulillah... persiapan dimulai dari Agustus ke November.
Yang artinya kurang lebih 3 bulan.
***shiver***
Kalau dipikir-pikir, yang namanya nikahin anak semata wayang, perempuan lagi, sudah sewajarnya orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan sebagai anak tunggal yang sweet seventeen aja rela nggak dirayain dengan alasan pokoknya dirapel rame-ramenya waktu nikahan, jadi logis kan ya kalo punya banyak keinginan. Ya iya sih, selama ini uang jajan atau barang apapun aja aku nggak pernah minta (tapi dikasih terus deng tanpa diminta), tentu boleh dong, untuk kali ini, aku pengen minta sama ortu?
Namun entah ini adalah ujian, atau mungkin berkah dari Allah, nampaknya Dia tidak ingin keluarga kami terjebak untuk terlalu bermewah-mewah dalam selebrasi acara apapun. Bersamaan dengan prosesi persiapan pernikahan saat itu, usaha Papa sedang berada dalam titik terendahnya, dan kami harus extra hati-hati dalam pengeluaran. Padahal yang namanya nikahan itu kan event besar, yang pengennya cuma ngerasain sekali seumur hidup.
Yah, saat itulah mental dan kedewasaan diri lagi-lagi diuji.
Ada benarnya juga kalo orang bilang persiapan pernikahan itu ada saja ujiannya. Dalam Islam, pernikahan adalah penyempurnaan sebagian iman, makanya mungkin setan jadi jor-joran banget untuk menggoyahkan manusia yang punya niat menikah. Salah satunya selain yang sudah diceritakan tadi, ujian juga dateng di hubungan LDR kami. Yang awalnya rukun, jadi gampang banget bete (terutama aku sih) dan berdebat emosional nggak jelas yang intinya masalahnya nggak penting.
Nggak cuma itu, sama Mama pun sempat ada perselisihan masalah ubo-rampe resepsi. Pengen ini, pengen itu, tapi semua dibantah sama Mama karena masalah yang sedang menimpa Papa. Sebenernya rasional, tapi empet banget rasanya, men, kalo punya keinginan sekali seumur hidup tapi nyatanya nggak bisa keturutan. Belum nyari sekaligus ngurusin vendor, sendirian, karena LDR-an ama Iqbal dan ortu. Jadi tiap weekend kerjanya bolak-balik Solo-Semarang demi janjian diskusi sama vendor.
Rasanya capek loh, fisik maupun emosi digeber masalah dari sana-sini.
Dan pada akhirnya sadar... semua ke-mentok-an ini nggak mungkin terlalu dipaksakan. Semua kelelahan ini intinya gara-gara satu doang sebenernya,
Ego.
Yap. Keinginan adalah ego.
Tarik nafas. Inget, inget, diskusi ama Iqbal yang alot dulu... “wedding” sama “marriage” itu beda. Tarik nafas lagi. Tabungan (karena kondisi Papa, akhirnya ada sebagian vendor yang bayar pakai tabungan sendiri) sudah direlakan cuma untuk dua jam berdiri di pelaminan? Sudah dihitung matang-matang?
Dan akhirnya aku mengalah. That’s okay, resepsi seadanya, sesuai kemampuan, luruskan niat pada kehidupan pasca pernikahan, siapkan mental, edukasi iman, pokoknya tutup kuping sama apa kata orang, dan jangan lupa tutup mata sama akun-akun delusional macam thebrided*pt atau myw*ddingprep.
Baiklah, bismillah. Ikhlas untuk merayakan upacara sekali seumur hidup sesuai dengan kondisi saat itu. Modal yang diberi Allah sudah sangat luar biasa, support dari keluarga besar dan kesehatan bagi kami berdua. Jadi jangan pernah meragukan dan mendustakan kemudahan dan rezeki yang diberikan oleh-Nya. Astagfirulah, maaf ya Allah.
Skip ke bulan September, alhamdulillah urusan vendor lancar. Kami dibantu banget sama Tante Rose, yang adalah asisten personal Bu Anne Avantie, jadi sebagian vendor yang kami pakai adalah vendor yang sering bekerja sama di acara beliau. Sip lah, PR mencari vendor lainnya jadi terbantu. Pokoknya terima kasih banget bantuannya, Tante. Allah yang balas. :)
Eits, tapi belum selesai sampai disitu, muncul masalah baru.
Kabarnya, akan ada internal memo yang memindahkan aku ke proyek baru di Palembang.
Udah mau H-1 bulan gitu rasanya dikabarin begitu kayak... dikocok-kocok. Ya Allah... kayaknya hampir tiap solat malam tuh nangis, cobaan apa lagi nih, nggak mau pindah ya Allah, nggak mau jauh dari casu (calon suami) dan keluarga. Mental ambyar banget kayaknya saat itu.
Akhirnya, melobilah kesana sini, baik ke atasan maupun ke kepala SDM pusat. Sempet parno abis aslinya, gara-gara udah sempet ditelpon sama tim Palembang sana, yang seolah-olah bilang ini memo nggak bercanda lho. Pasrah tapi mantep (nah lo), setelah konsultasi sama orang tua juga, akhirnya keluar keputusan bakal resign kalo memang memonya bener keluar. Fokusin aja ama nikahnya dulu, karena Allah sudah menjanjikan jalan rezeki pada umat-Nya yang menikah. Yakin aja.
Dan tanggal 3 Oktober 2016, memo yang ditunggu-tunggu muncul juga dan memindahkan aku ke proyek baru di...
Jakarta. Tempat rantau dan kerja Iqbal.
See? Kalau bukan karena besarnya kuasa Allah, nggak akan mungkin masalah domisili ini terselesaikan. Pindah ke proyek baru lumayan menurunkan tension kerjaan, dan as a bride-to-be saat itu, jadi lebih tenang dan rileks rasanya ---selain karena deket ama Iqbal juga sih dan bisa bahas domisili after married nanti, yang belum ada keputusan gara-gara masalah memo-memo ini.
Nah, apesnya, sehari sebelum ulang tahun ke-25, lagi-lagi aku jatuh di proyek. Pas di ankle kanan, di kaki yang dulu pernah fraktur. Mantap soul. Untung hasil ronsen bekas frakturnya baik-baik saja walaupun belum tumbuh sempurna. Kelar stres gara-gara memo, timbul stres baru : gabisa jalan jauh, padahal masih wira-wiri Jakarta-Semarang demi beresin berkas KUA. Hahaha. Tapi sudahlah nikmatin saja, dan alhamdulillah sembuh dengan bantuan ahli urut andalan Om---walaupun sambil ngaduh-ngaduh naik motor ke Bekasi, lol.
Semua berjalan baik-baik sampai akhirnya tiba hari H yang alhamdulillah juga berjalan dengan sangat baik tanpa kendala. Mendung dari pagi, jadi tamu-tamu juga nggak kepanasan dan hujan turun lebat saat resepsi sudah selesai. Allah Maha Baik.
Tetap part yang paling berkesan adalah saat akad, prosesi sakral yang merupakan inti dari pernikahan. Keinget banget di dalam kamar sampai fangirling suami sendiri sama MUA dan asisten-asistennya, wkwk. Mau semewah apapun resepsinya, pada kenyataannya berdasarkan pengalaman, yang kami inget cuma banyaknya tamu yang kami salami. Hahaha! Yah namanya juga resepsi... kan memang untuk menjamu tamu, jadi ya nggak ada salahnya juga kalo kita ingin memberi sebaik-baiknya supaya memberikan kesan yang baik bagi mereka.
Aaaand, here we goes, it’s been 3 months since he wed me. So far, I’m happy. We are happy. Insya Allah happy terus, sambil terus belajar menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. :)
Sebelum tulisan ini di-publish, sempet ngobrol-ngobrol sama suami, kurang lebih gini :
O : Eh dulu pas aku ngebet pengen nikah, kamu jadi kaya nggak minat gitu ya yang, hahaha hayo ngaku deh.
I : Iya, emang kok, buat apa kalo cuma ngebet. Yang penting itu siap, dan saat itu kayanya aku juga belum siap.
O : Jadi pas akhirnya lamaran itu udah beneran siap ya, Pak? *ngikik*
I : Ya iya dong, aku melamar kamu kan karena aku udah beneran siap. Aku udah liat kamu dan keluarga kamu, dan aku udah mantep.
O : Padahal aku udah lempeng loh pas dilamar. :p
I : Ya nggak papa lah, malah bagus gitu. Kita udah beneran siap, nggak karena kepengen doang. Kan aku memperistri kamu seumur hidup.
*terus malu sendiri abis nanya-nanya suami*
Setelah aku pikir-pikir nikah itu kaya mukena. Ada yang shalatnya pakai mukena biasa, yang penting adem dan bersih. Tapi ada juga yang pakenya mukena mewah, ada bordir dan benang emasnya. Sebenernya tujuannya sama kan, beribadah. Tapi kalau pake yang mewah, who knows niat kita dibelokkan aluuus sama Setan. Bukan ke ibadahnya, tapi ke bagusnya mukena kita, jadi kita berbangga diri dan pengen dilihat orang. Begitu susahnya meluruskan niat baik, bahkan saat kita sudah ada di jalan kebaikan, tetap saja akan ada godaan di dalamnya.
Yah begitulah.
Semoga postingan ini menginspirasi bride-to-be sekalian. Mudahkan, kesampingkan ego, luruskan niatnya. Insya Allah lancar. :)
And yes, we’re expecting. Doakan ya! :3
Up until next post, I think? Salam #RomantisItuMenikah! xo ;)



















