“Architects don’t invent anything, they just transform reality.” - Alvaro Siza
“Poetic Modernism”. Dilahirkan di tahun 1933, 25 Juni, arsitek berkebangsaan portugis ini mendapatkan penghargaan pritzker di tahun 1992. Dideskripsikan oleh juri dengan karyanya yang memiliki massa yang terbentuk oleh cahaya memiliki kesederhanaan dan berkata secara jujur. Jika sebuah bayangan dibutuhkan, sebuah bidang overhang akan dibuat. Bila pemandangan diinginkan, maka sebuah jendela dibuat. Tangga, ramp, dan dinding seluruhnya dibuat dengan dasar kebutuhan. Parafrase dari ucapannya, karyanya merupakan respon dari suatu masalah dimana dia berpartisipasi.
(Alvaro Siza. Sumber: Alvaro Siza)
Siza saat kecil bercita-cita menjadi seorang pematung, namun kunjungannya ke Barcelona dan bertemu dengan mahakarya dari Antoni Gaudi membuatnya ingin menjadi arsitek. Sagrada Familia sebagai scluptural architecture yang bersatu dengan konteks dan menghubungkan bangunan dengan tapak dan budaya.
“Architects don’t invent anything, they just transform reality.” - Alvaro Siza
Alvaro Joaquim de Meio Siza Vieira lulus dari University of Porto School of Architecture di umurnya ke 22 tahun dan sudah mendesain rumah terbangun di Matoshinhos. Di tahun 1966, Siza mulai mengajar di universitas tempat ia belajar dan di tahun 1976 ia dijadikan profesor arsitektur. Selain itu, ia juga menjadi profesor kunjungan di Graduate School of Design, Harvard University, University of Pennsylvania, Los Andes University of Bogota, dan Ecole Polytechnique of Lausanne.
Siza berkarya arsitektur dengan berbagai jenis tipologi mulai dari kolam renang hingga pengembangan perumahan. Dengan rumah-rumah untuk individual, perkantoran, bank, restoran, galeri seni, kawasan perbelanjaan dan banyak hal lainnya.
(Leça Swimming Pool complex. Sumber: Archdaily.)
Leça Swimming Pool complex, sebuah spasial penyesuaian antara arsitektur dengan alam. Menggunakan bahan beton dan berada di area bebatuan garis pantai Leça de Palmeira, tempat ini memiliki program ruang kamar ganti, sebuah cafe dan dua kolam renang. Ia menenggelamkan bangunan komplek ini dengan tujuan agar kendaraan lalu lalang tetap dapat menikmati pemandangan dan pengunjung kolam renang hanya terfokus pada pemandangan laut lepas.
(Denah Leça Swimming Pool complex. Sumber: Pinterest.)
Boa Nova Tea House (1963). Merupakan hasil dari sayembara oleh Câmara de Matosinhos pada tahun 1958. Arsitek pemenang gagasan desain ini adalah Fernando Tavora, namun melimpahkan project tersebut ke kolaborator muda, Alvaro Siza, yang saat itu masih berumur 25 tahun.
(Boa Nova Tea House. Sumber: Fernando Guerra.)
Dalam karya ini Siza menunjukan betapa terinspirasinya ia terhadap detail-detail dari desain Alvar Aalto. Terbukti dari penggunaan material kayu pada dinding, lantai dan plafon juga detail-detail penggunaan material di area-area lainnya.
(Boa Nova Tea House. Sumber: Fernando Guerra.)
Berikut saya cantumkan potongan wawancara antara Alvaro Siza (AS) dengan Vladimir Belolovsky (VB) yang akan saya kutip langsung secara gamblang sebagai penutup dari tulisan ringkas ini.
VB: You often say, “Nothing is invented. There is a past for everything.” You are not interested in making something entirely new, right? Your work is based on what was done before. Could you talk about your position?
AS: It is impossible to make something entirely new. Look at the Villa Savoye in Poissy by Le Corbusier. When you see it, the sensation is that it is entirely new. It is clearly new architecture for a new kind of man. But the reality is that nothing is new but modified or transformed. There were horizontal “slit windows” in ancient structures in pre-Columbian America or in Portuguese vernacular; there are pilotis in the old market of Venice; you can even find examples of open plan in ancient structures where there was just a roof and perimeter walls with no interior partitions. The new only comes from new combinations and materials, but nothing is completely new. We, architects are constantly being influenced by what is around us. For example, I remember when my Bonjour Tristesse social housing was being built in Berlin. I was in that neighborhood and I saw a building that I thought was under construction; it had a similar roof profile as mine. So I told my contractor – look I haven’t finished my building yet and it is already being copied. Then the contractor said, “If anyone is copying that’s you because that building is being demolished.” [Laughs.] And the truth is that I probably saw it before I did my design and it influenced me subconsciously.
barkarya for Simpul Space: "Reconnecting the Dots" with Nadhira Alya + Prayoga Arya.
Project Description:
Cikapundung sebagai persimpangan antara jalur pergerakan kreatif di tengah jantung Kota Bandung, membutuhkan ‘nafas segar’ sebagai katalis. Adanya intervensi berupa gejolak rancangan dan ekspresi baru akan menaikkan citra kawasan Cikapundung. Berada di lokasi tapak yang terbengkalai, diharapkan rancangan dapat memberikan nilai baru yang menstimulasi denyut industri kreatif. Creative space yang muncul dari kebutuhan komunitas untuk tetap eksis berkarya dan berkolaborasi melalui ruang yang dinamakan Simpul Space.
—
for details on this project click here
for visualisation video on this project click here
EuroArt offers architects, owners and contractors a full range of door ironmongery/ architectural hardware. EuroArt is one of the leading manufactures of Architectural Hardware in the UAE and Saudi Arabia. The exclusive range of Architectural Hardware includes door handles, door knobs, entrance pull handles, sliding door hardware, door hinges, door bolts, door closers etc. Our products are certified by International testing Authorities for quality and performance.
EuroArt specialise in supplying high quality, well-crafted architectural ironmongery that is both functional and durable while remaining eye-catching and complimentary to your design solution.
EuroArt has a massive range of products in stock. For more information, Call on 04 295 1105 or Visit EuroArt website: https://euro-art.co.uk/
Barkarya for Naung: hostel, cafe & resto.
Muhammad Barkah, 2019.
a design exercise to make a spatial, compact yet spacious, in a narrow land area (6m x 30m)
supervised by Dr.Ir. Moch. Prasetiyo Effendi Yasin M.Arch.,MAUD