Ni - あなた は ストーカー です か。(Are You a Stalker?)
Bagiku, setiap pertemuan pasti memiliki arti. Entah itu suatu pertanda atau apapun, pasti ada maksudnya. Dan, setiap pertemuan itu selalu memiliki makna...
Karina melemparkan tasnya ke atas kasur dan segera berbaring di sana. Satu tangannya terangkat dan menutupi kedua matanya. Ia lelah. Benar-benar lelah. Seharian ini, kelasnya dipenuhi siswa-siswi dari berbagai kelas yang hendak melihat murid pindahan dari Jepang itu. Otomatis, Karina pun harus merelakan ketenangan yang biasa ia dapat untuk hilang sementara.
"Kelas ini nggak hanya punya kamu, Kar. Suatu saat kamu pun harus terbiasa dengan suasana seperti ini." ia mengingat perkataan Sofia siang tadi. Ia semakin memejamkan matanya.
"Argh.. kenapa harus ada murid pindahan, sih? Di penghujung kelas 3 seperti ini? Entah apa yang dipikirkan kepala sekolah," gumamnya kesal dan membalikkan badan, memeluk Pororo, boneka kesayangannya. Tak lama, ia pun tertidur pulas.
***
"KARINA!"
Karina terlonjak bangun. Matanya mengerjap pelan dan melihat ke sekeliling. Aku di mana...? Oh, di kamar. Dan, suara teriakan apa itu tadi?
"Karina!" Mamanya mendobrak masuk ke kamarnya. "Kamu ini, Mama panggil-panggil dari tadi kok nggak menyahut juga, sih. Cepat mandi sana, sudah mau jam 6 ini! Oh iya, jangan lupa pakai gaun yang manis, ya. Malam ini kita ada acara di luar dengan teman kerja Papa." perintah dan omel Mamanya bersamaan.
"Hah? Gaun? Acara di luar? Buat apa? Ogah, ah. Karina nggak mau ikut. Capek, Ma, baru pulang sekolah jam 4 tadi..." rengek Karina, menolak untuk ikut pergi.
"Kan juga sudah ada kak Raffa dan Onya yang bisa ikut, Ma. Karina absen, ya." ia pun berbaring lagi dan kembali memeluk Pororo, hendak melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.
"Karina....! Cepat mandi, sholat, dan siap-siap! Kalau 30 menit lagi Mama cek kamu masih tidur juga, jatah uang jajan kamu selama sebulan Mama sita!" ancam Mamanya.
Karina membuka matanya dan menoleh kesal ke arah Mamanya. "Mama~" erangnya.
"Nggak ada bantahan lagi, titik. Ayo cepat mandi." Mamanya pun keluar dari kamarnya.
Karina merengut. Entah kenapa seharian ini nasibnya sial terus. Mulai dari di sekolah tadi hingga di rumah sekarang ini.
"Ahh.. bete!" ia pun mengambil handuk dari lemari dan bergegas masuk ke kamar mandi.
***
Suasana Resto Raja Rasa Sundanese & Seafood yang terletak di Jl. Ampera Raya, Jakarta Selatan, tampak lengang sore itu. Hanya ada sekitar 3-4 mobil yang parkir di depan resto. Salah satunya tentu saja mobil keluarga Karina.
"Ma, Karina di mobil aja, ya~ Biar kak Raffa sama Onya aja yang ikut turun. Karina mau tidur, capek..." bujuk Karina lagi ke mamanya.
"Kamu bicara apa, sih? Udah jauh-jauh ke sini malah nggak mau turun. Nggak, pokoknya kamu harus ikut turun! Ayo, tarik tangan kakakmu, Onya." perintah mamanya tegas.
Karina mengerang. "Mama, ih."
Onya mengulurkan tangan ke arah kakaknya. "Ayo, kak. Buruan, udah ditunggu Papa sama Mama, tuh." ia menatap kesal ke arah kakaknya.
Karina menatap uluran tangan adiknya itu dan menampiknya. "Apaan, sih? Memangnya aku anak kecil apa, harus digandeng olehmu?" ia pun bergegas turun dari mobil.
Onya mengangkat bahu. "Aku 'kan hanya melaksanakan perintah mama.."
Jujur, ini adalah kali pertama Karina menginjakkan kaki di resto ini. Papa-Mama nya hampir tak pernah mengajaknya makan malam di luar, apalagi di resto yang kelihatannya mewah seperti ini. Sampai menyuruhnya untuk pakai gaun segala.
"Ma, kenapa harus di resto sunda, sih? Keluarga kita 'kan nggak terlalu doyan masakan sunda?" celetuknya penasaran.
"Mama juga kurang tahu, tapi kata temen Papa, keponakannya itu ingin makan masakan sunda, kangen sudah lama nggak makan makanan itu , katanya."
Karina mengangguk-angguk. Sudah lama nggak makan makanan sunda? Memang dia tinggal di mana?
"Eh, Ma. Keponakan temen Papa itu emang tinggal di mana, sih? Kok bisa sampai kangen kayak gitu."
"Oh.. Katanya dia itu tinggal di luar negeri. Kalau nggak salah sih di..." ucapan mamanya terpotong saat pintu sebuah ruangan terbuka.
Karina melirik ke dalam. "Ruangan apaan, nih?"
"Ini namanya ruangan VVIP, Karina sayang. Salah satu ruangan spesial yang ada di resto ini." sahut kak Raffa yang langsung melesat masuk dan mengambil tempat di salah satu kursi yang ada di ruangan tersebut, disusul oleh Onya yang langsung duduk di sampingnya.
Karina pun ikut duduk di ujung, di sebelah kakaknya. "Oh.. memang ada ruangan apa lagi selain ruangan ini?"
"Ada ruangan biasa di lantai 1 dan lantai 2, di lantai 2 tempat duduknya sistem lesehan, dan di lantai 1 itu kursi kayu. Nah, ada juga ruangan VIP yang sebesar dan se-private ruangan ini.." jelas kakaknya itu dengan sabar.
Karina manggut-manggut. "Kenapa harus pesan ruang VVIP segala, sih? Kayak apaan aja, deh."
Mamanya menatap tajam ke arah Karina. "Kamu ini dari tadi cerewet banget, deh. Semuanya dikomentarin. Sudah, diam dan duduk manis sana. Itu teman Papa sudah datang."
Karina cemberut karena mendadak ditegur oleh mamanya seperti itu. Seharian ini entah sudah berapa kali ia merasa kesal dan bad mood.
Teman papanya yang dimaksud mamanya tadi sudah datang rupanya. Papanya langsung berdiri tegak dan menyalami rekan kerjanya itu. Sosok tinggi-tegap dengan mata sipit, rambut hitam yang mulai sedikit memutih, dan setelan jas rapi yang tampak pas di badannya.
Hmm, sosok lelaki paruh baya kebanyakan, batin Karina.
Istrinya pun ikut hadir malam itu. Tampak cantik dalam balutan gaun malam tanpa lengan berwarna hitam gelap yang tampak sedikit terbuka di bagian lehernya. Seuntai kalung perak tampak bertengger indah di sana.
Kalung? Tiba-tiba Karina teringat sesuatu. Hei, kalung perak dengan gantungan huruf K milikku ke mana, ya? Kok, aku baru sadar kalau itu nggak ada?
"Karina," panggil papa Karina pelan yang langsung membuyarkan lamunannya.
"Eh, ya..?" sahutnya gelagapan. Papanya memberinya kode untuk maju dan bersalaman dengan rekan kerja papanya itu. Ia pun bergegas bangkit.
"Wah, ini yang namanya Karina, ya? Jauh lebih cantik dari yang ada di foto, ya." komentar teman papanya itu yang hanya disambut ringisan pelan Karina.
Maksud oom ini apa, coba?, batinnya kesal. Tiba-tiba matanya teralihkan dengan satu sosok lain yang baru muncul dan sedang berdiri di belakang teman papanya itu.
Siapa?
"Maaf, ojiisan (paman), saya datang terlambat. Tadi di toilet mengantrinya lama sekali."
Karina terkesiap. Suara itu, logat itu, dia..
"Oh, kau sudah datang rupanya, Satoshi. Ayo, perkenalkan dirimu. Ini oom Aryuda, ini istrinya, dan ini anak-anaknya, Raffa, Sonya, dan Karina.
Satoshi pun menyalami mereka satu-persatu. Tiba saatnya menyalami Karina, dia terhenti. Karina pun hanya terdiam.
"Omae (kamu)..." gumam Satoshi.
"Ah, halo! Kenalkan, aku Karina! Senang bertemu denganmu!" Karina langsung memotong ucapan Satoshi dan menjabat tangannya lantas segera duduk di bangkunya. Ia tidak ingin ber-de ja vu dengan lelaki itu.
Satoshi hanya bisa bengong di tempatnya dan menyahut, "Eh.. iya, salam kenal..."
***
BRUK! Karina meletakkan tasnya asal di atas mejanya pagi itu. Mukanya ditekuk, rambutnya sedikit acak-acakan. Sofia yang melihat tampang sahabatnya seperti itu pun bertanya heran.
"Kamu kenapa pagi-pagi sudah kusut begitu?"
Karina menghempaskan pantatnya di atas kursinya. "Nggak tahu, ah. Bete!" ia menopangkan dagunya di salah satu tangannya.
Sofia mengernyit. "Lho, lho? Ada apa pagi-pagi ini sudah bete kayak gini? Let me know something, honey."
"Lagi nggak mood untuk cerita ah, Sof." tolak Karina.
"KYAA!!" tiba-tiba terdengar teriakan histeris murid-murid perempuan di koridor kelas, disambut dengan Satoshi yang masuk dengan bingung diiringi para gadis yang mengikutinya ke dalam kelas mereka.
Karina yang melihat hal itu tambah menekuk mukanya dan mendengus pelan. Sofia yang melihat gelagat sahabatnya itu hanya bisa memasang senyuman penuh arti.
***
TING TONG!
Bel tanda pulang sekolah berbunyi, para murid pun sibuk membereskan peralatan sekolah mereka masing-masing.
"Habis ini ada acara, Kar? Kalau nggak ada, ikut kita, yuk. Biasa, karaoke~" ajak Sofia ke Karina yang tengah asyik memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
"Hah? Nggak, ah. Bentar lagi deadline." sahutnya cuek.
Sofia mencibir. "Lagi-lagi tenggelam dalam tulisanmu. Kapan kamu mau menikmati dunia luar, Kar?"
"Bagiku dunia tulisan itu jauh lebih luas dari dunia luar yang kamu kenal, Sof. Duluan, ya!" Karina pun melesat keluar kelas.
Sofia mendesah. "Dia itu, emang nggak bisa lepas dari hobi-nya satu itu, ya."
Karina bergegas menuju ke lapangan bola di halaman belakang sekolahnya. Tempat ini ia temukan baru-baru ini, saat ia mulai merasa bahwa ruang kelasnya tak lagi kondusif untuk dipakai sebagai tempat 'perenungan'. Yah, masih ada perpustakaan sih sebenarnya. Tapi, di sana tidak ada udara segar yang biasa ia hirup kalau lagi suntuk dan jenuh.
Ia pun mengambil tempat di bawah salah satu pohon rindang di sana, di atas rumput-rumput yang masih kecil dan pendek-pendek. "Siip! Ayo, mulai!" ia pun mulai tenggelam dalam tulisannya di notebook mungil miliknya.
Sayup-sayup ia mendengar keramaian di bawah sana, tepatnya di lapangan bola tempat teman-temannya biasa menghabiskan waktu istirahat dan pulang sekolah di sana.
Ia tersenyum. Rasanya ia ingin ikut menghambur ke sana, ikut berlari di bawah langit dengan bebas. Namun, apa daya, nilai olahraganya selalu pas-pas-an.
"Awas, Kar!" teriak seseorang, rupanya Fauzan, temannya dari kelas sebelah.
Karina menoleh, menatap ke arah bola kaki yang hanya berjarak 2 m darinya. Ia tak sempat mengelak, dan..
BUUK! Bola itu mengenai wajahnya telak. Karina terhuyung ke belakang, satu tangannya memegang bagian kepalanya yang terbentur bola tadi.
"Aduh.." ringisnya pelan.
"Daijoubu desu ka?"
Karina mengernyit. De ja vu. Suara itu lagi, dengan dialog yang sama. Karina mendongak. Tampak wajah khawatir Satoshi berada tepat di atas wajahnya. Karina terlonjak bangun.
"Huaaah!" ia berteriak dan mendorong Satoshi pelan. Lagi-lagi ia kaget dengan 'serangan' mendadak dari Satoshi tadi. Ia menatap Satoshi sengit.
"Kau!" ujarnya kesal.
"Ah." Satoshi seperti teringat sesuatu. "Anata wa (kamu).. Kamu cewek yang kemarin itu, 'kan? Yang dikenalkan oleh ojiisan. Kamu ingat aku?" sapa Satoshi senang karena mengenali sosok Karina.
Karina masih menatap Satoshi sengit. Matanya tak henti menatap Satoshi tajam. Mata itu, bibir itu, rambut itu, logat itu, suara itu.. Kenapa ia terus muncul di hadapanku, sih?, gerutu Karina kesal dalam hati.
"Kau!" ujar Karina. "Are you a stalker?"
***
bersambung














