Ariloka Pukul 05.45 WIB
Minggu pagi 7 September 2025 sepulang dari salat subuh di masjid, aku jalan-jalan timik-timik sendirian. Dimulai dari rumah di Jl. Madukoro III/227 Semarang. Saat itu pagi masih gelap. Kalau memandang ke atas, tampak langit gelap pekat. Bulan masih kelihatan separuh, karena sebagian tertutup mendung, tepat di atasku di titik kulminasi. Bulan seperti terlambat pulang ke ufuk barat. Cuaca masih mendung, mungkin dampak dari hujan malam yang lumayan deras.
Keluar dari gang sempit, lewat Jl. Cokrokembang aku menuju Jl. Wiroto Raya dengan jalan pelan-pelan sekali. Alhamdulillah aku masih kuat menyusuri sepanjang Jl. Wiroto Raya tanpa istirahat. Sesampai di Jl. Ariloka, tepat di depan Masjid Jami' Al Jihad aku baru istirahat. Ini sebenarnya perjalanan yang cukup berat di usiaku yang hampir mencapai 63 tahun dalam kondisi badan yang sebenarnya tidak sehat sepenuhnya.
Banyak orang, terutama tetanggaku di Madukoro, yang paham kondisi badanku, menyarankan agar jangan pergi jauh-jauh kalau olahraga, cukup jalan-jalan di gang depan rumah saja, ke barat ke timur, tanpa alas kaki, sudah cukup bagus untuk kesehatan badan. Aku tanggapi dengan tersenyum saja. Aku tetap rutin menjalani olahraga yang melelahkan ini minimal seminggu sekali.
Di depan Masjid Jami' Al Jihad ada kursi panjang terbuat dari besi. Aku duduk melepas lelah. Antara masjid dan kursi besi tempat aku duduk dipisahkan oleh Jl. Ariloka yang cukup lebar. Aku duduk menghadap ke masjid itu. Saat itu jam di ponselku menunjuk pukul 05.45 waktu setempat.
Aku keluarkan ponselku dari dalam tas pinggang. Aku tulis keluh kesah dan romantisme kebahagiaanku di ponsel.
Saat ini, aku sebenarnya tidak cuma sedang menjalani olahraga saja, tapi sekaligus refreshing, meninggalkan suasana rumah yang membosankan, untuk mencari ketenangan dan kenyamanan di luar. Seperti peribahasa, sambil menyelam minum air. Itulah sebabnya aku lebih suka jalan kaki sendirian, supaya bisa meresapi keindahan dan romantisme setiap langkahku yang gontai atau kadang terhuyung-huyung.
Setelah capekku hilang, aku mulai siap-siap meneruskan perjalanan. Kulihat matahari mulai muncul di ufuk timur, sangat indah sekali. Sinarnya menghangatkan badan. Aku tinggalkan kursi panjang yang terbuat dari besi itu. Aku melangkah ke timur.
Akhirnya aku keluar dari Jl. Ariloka. Aku menoleh ke belakang. Terlihat Gapura Ariloka yang berdiri gagah dan besar mengangkangi ujung Jl. Ariloka yang lebar.
Sampailah aku di Jl. Madukoro Raya. Di depan pabrik tahu, ada kursi kecil yang juga terbuat dari besi. Kebetulan kursi itu kosong. Aku ganti nongkrong di sana menjemur badan di sorot sinar matahari pagi yang masih hangat. Biasanya, kalau kursi ini diduduki orang lain, aku duduk di kursi yang lain. Beginilah aku mencari upaya sehat, kebahagiaan dan ketenangan hidup, di samping rutinitas kontrol dokter minimal sebulan sekali.
Aku tidak punya teman curhat selain ponselku ini. Kalau sudah asyik begini, aku tak ingin ada orang lain yang menggangguku. Kebahagiaan ini, kebebasan ini, sepertinya sudah sulit kudapatkan di rumah.
Setelah badanku terasa hangat dan lelahku betul-betul hilang, baru aku melanjutkan perjalanan pulang. Menyusuri Jl. Madukoro Raya sampai akhirnya masuk ke gang tiga, kulalui dengan penuh penghayatan dan perasaan. Sampai di depan rumahku, kondisi badanku sudah fresh, merasa sehat, meski belum sepenuhnya sehat.
Kembali kuhadapi rutinitas dan hal-hal yang tidak menyenangkan : kebisingan dan cerewet istri. Paling tidak aku sudah menghindari stres, supaya terhindar dari penyakit stroke.












