Perebutan Tahta di Gang Sempit
Penulis : Muhammad Anwari SN
Joni Martin menulis surat kaleng buat Pak RW. Berharap protesnya yang selama ini cuma didiamkan saja, akan mendapat perhatian. Tembusannya dikirim ke kelurahan. Pak RW marah-marah seperti kebakaran jenggot.
Di luar dugaan berkas arsipnya tercecer dibaca anak kecil, Tika, sampai orang tua. Akhirnya terbongkar, siapa penulis surat kaleng itu.
Rumahnya dijual untuk membiayai anaknya masuk sekolah. Istrinya diceraikan.
Bekerja di Penerbit Citra Mandiri Utama. Dikenalkan pada Siti oleh Pak Man bakol soto samping kantor. Pacaran di hotel. Menikah dengan Siti.
Siti meninggal. Joni sudah tidak punya minat untuk berkeluarga.
Ternyata menjadi Ketua RT tidaklah mudah. Joni Martin mengalaminya sendiri. Sebelumya yang terbayang dalam pikirannya, dengan menjadi Ketua RT bisa memimpin dan mengatur warga. Ternyata sebaliknya, dirinya malah diatur-atur oleh warga. Menjadikan dirinya seperti boneka yang mudah disetir dan diatur-atur oleh warga sekelilingnya. Jangankan memimpin warga, mengatur stafnya sendiri tidaklah mudah. Banyak masalah dan tantangan yang tidak kunjung selesai. Misalnya masalah intern. Staf yang tidak pernah kompak. Sekretaris dan bendahara sering tidak bisa hadir di pertemuan, baik di RT maupun RW. Sementara untuk mencari penggantinya tidaklah mudah. Sebab tidak ada warga yang mau ditunjuk jadi sekretaris, padahal sekretaris itu mendapat gaji tiap bulan dari pemerintah. Entah kenapa bisa demikian. Mungkin gaji sekretaris yang cuma Rp 150.000 tidak menarik perhatian mereka.
Semua warga tidak ada yang mau ditunjuk jadi sekretaris, apalagi kalau ditunjuk jadi bendahara, tiap hari pegang uang tapi tidak dapat gaji.
Eko melihat dengan mata kepala sendiri, om-nya itu mengedarkan/ membagikan surat undangan arisan sendirian ke rumah-rumah warga. Kenapa tidak menyuruh stafnya? Eko cuma geleng-geleng kepala.
“Sekretarismu itu pecat ‘wae rak wis’,” kata Ketua RW Eko. Saran yang mengandung perintah paksaan itu sering disampaikan Ketua RW 05 itu ke Joni. Cuma ditujukan ke Joni. Sebab dari 15 RT, RT 01 sampai RT 15, cuma Joni yang setiap ada pertemuan RW selalu datang sendirian tanpa didampingi sekretaris maupun staf yang lain.
Ketidaksenangan Eko pada Agus sudah lama disampaikan pada Joni, baik secara pribadi maupun di forum pertemuan RW. Tapi dari bulan ke bulan Joni tetap selalu datang sendirian. Agus tak pernah nampak batang hidungnya di pertemuan RW.
“Kenapa masih kamu pertahankan sekretaris yang tidak punya tanggung jawab itu. Pecat ‘rak wis’. Kamu kan bisa pilih siapa saja yang kamu anggap cocok dan mau diajak kerjasama. Supaya beban tugasmu tidak berat. Bisa bagi-bagi tugas. Tidak semua kamu kerjakan sendiri,” desak Eko.
“Masalahnya tidak ada yang mau ditunjuk jadi sekretaris. Banyak yang mengaku tidak mampu ngomong di depan forum,” Joni menyampaikan alasannya.
“Masak nggak ada yang mau? Kan sekretaris dapat gaji juga dari pemerintah Rp 150.000 per bulan. Jangan-jangan wargamu tidak ada yang tahu kalau sekretaris RT menerima gaji per bulan Rp 150.000?”
“Sudah lama tahu semua. Sudah lama saya sampaikan di forum, sudah berkali-kali saya sampaikan, bahwa yang mau jadi sekretaris (menggantikan Agus) mendapatkan gaji per bulan Rp 150.000. Tapi tetap tidak ada yang mau,” jawab Joni.
Mendengar jawaban Joni yang selalu seperti itu juga, Eko pun belum bisa berbuat apa-apa. Untuk sementara ia memilih mengalihkan pembicaraan ke masalah yang lain, melanjutkan program kegiatan RW.
Joni dapat memahami desakan Pak RW. Karena setiap ada pertemuan RW, Agus tak pernah datang. Alasannya selalu masih sibuk di kantor, belum pulang kerja, kerja pulang malam terus. Itu-itu terus. Sampai di rumah sudah pukul sepuluh. Padahal jam tersebut rapat RW sudah bubar.
Minggu kemarin di rumah Joni Martin telah berlangsung Pertemuan RW. Tohar tetap tidak bisa hadir. Para Ketua RT, termasuk para sekretaris dan bendahara, banyak yang komentar sama, “Pantas tidak pernah hadir di Pertemuan RW, di RT-nya sendiri juga tidak bisa hadir. Maka di Pertemuan RW kemarin menjadi pembicaraan utama. Pak RW mendesak Joni agar segera memecat sekretaris dan bendaharanya.
Minggu malam berikutnya di rumah Yudi dilanjut pertemuan RT. Joni sudah siap-siap mengumumkan pada warganya akan memecat Tohar dari jabatan sekretaris. Joni sudah bertekad bulat malam ini harus diadakan pemilihan sekretaris baru. Biar tidak terus-terusan kena ‘semprot’ Pak RW. Ketika tiba di tempat pertemuan, di salah satu rumah warga, ternyata sudah banyak sekali warga yang datang. Joni bangga melihat warganya banyak yang antusias datang ke pertemuan. Ketika sampai di ambang pintu rumah, Joni mengucapkan salam dan disambut tuan rumah dengan ramah, akrab dan penuh hormat. Joni lalu menyalami mereka satu persatu.
Joni melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 19.30. Sudah saatnya acara dimulai. Ia masih sempatkan melihat ke arah pintu, kalau-kalau Agus yang ditunggu-tunggu masih dalam perjalanan, kalau-kalau malam ini sudah bisa hadir.
“Sudah, langsung dimulai saja, pak,” kata Sengkuni.
Pak Tohar paling-paling tidak datang,” lanjut pak tua yang sering dipanggil Pak Keling.
“Terus siapa yang mau membuka acara? Pak Keling saya persilakan, pak, untuk membuka acara,” kata Joni.
Sengkuni alias Keling itu yang dalam kepengurusan RT menempati posisi sebagai sesepuh dan penasehat menolak, “Mosok yang buka acara saya. Tunjuk yang lain saja. Yang muda-muda banyak kok. Biar yang tua-tua jadi pengamat saja”.
Tapi, seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, tak ada warga yang mau membuka acara, ada yang karena takut ditunjuk menjadi sekretaris, ada yang memang karena merasa tak bisa bicara di dalam forum.
“Sudah seperti biasanya saja, Pak RT yang membuka acara,” kata Sengkuni lagi.
Baru saja Joni mau membuka acara, tiba-tiba ada orang datang mengucapkan salam. Semua pandang mata mengarah ke sosok muda yang sudah tidak asing lagi bagi mereka. Ternyata Tohar, orang yang sudah lama sekali tidak pernah mereka lihat. Seperti sudah ditelan bumi. “Tumben bisa datang,” celetuk seseorang di antara warga. Alhamdulillah. Orang-orang yang duduk di ambang pintu memberi jalan staf RT itu. Tohar masuk ke ruangan sambil menyalami warga satu persatu. Terus duduk. Kedatangan Tohar merupakan ‘surprise’ bagi warga, termasuk Joni. Tapi tampaknya orang yang paling bahagia malam itu sepertinya Joni. Seperti baru bernapas dengan lega. Joni langsung mengurungkan niatnya memecat Agus. “Mudah-mudahan dia bisa terus hadir di setiap pertemuan, tidak hanya malam ini saja,” katanya dalam hati dengan penuh harap.
Maka pertemuan yang biasanya dibuka oleh Joni, malam itu dibuka oleh Sekretaris Tohar. Seperti biasa sebelum membuka acara, Tohar terlebih dahulu membacakan urutan acaranya. Selesai membacakan susunan acara, baru Tohar membuka acara dengan membaca bacaan basmalah bersama-sama warga, ‘bismilahirrahmanirahim’. Selanjutnya Tohar mempersilakan tuan rumah menyampaikan sambutannya, kemudian disusul sambutan ketua RT. Disusul kemudian laporan para ketua seksi.
Setelah semua staf menyampaikan laporannya, sampailah pada acara musyawarah. Ada beberapa masalah penting yang akan dibahas malam itu. Namun karena tuan rumah sudah mengeluarkan minuman dan makanan ringan berupa camilan dan makan besar, acara dihentikan sebentar untuk istirahat makan malam bersama.
Tohar yang sudah berpengalaman memimpin acara pertemuan itu, begitu selesai menyantap makanan, langsung memulai membuka acara musyawarah.
“Bapak-bapak yang kami hormati, tibalah saatnya kita memulai acara musyawarah sambil menikmati hidangan yang telah disajikan tuan rumah. Saya persilakan Pak RT untuk memandu acara ini,” kata Tohar.
“Terima kasih, Pak Tohar. Saya senang sekali melihat Pak Agus bisa hadir di pertemuan malam ini. Monggo siapa dulu yang mau menyampaikan sesuatu. Sambil menunggu persiapan bapak-bapak untuk bicara, terlebih dahulu saya akan …….”.
Belum selesai Joni bicara, Tohar tiba-tiba memotong, “Sebentar, Pak RT, perkenankan saya mau bicara lebih dahulu”.
“Sebelumnya saya mohon maaf karena sudah beberapa kali pertemuan saya tidak bisa hadir, baik di forum RT maupun RW. Bapak-bapak semua yang saya hormati, sekali lagi saya mohon maaf, malam ini betul-betul saya sempat-sempatkan hadir. Sebenarnya malam ini saya masih harus berada di tempat kerja. Tapi saya malam ini minta izin pulang gasik. Supaya bisa menyampaikan sesuatu yang amat penting buat saya”.
Tohar berhenti sejenak bicaranya. Matanya menebarkan pandang, seolah ingin melihat reaksi semua wajah tetangganya itu. Lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku bajunya. Hampir semua mata warga melihat Tohar mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya. Ternyata anak muda yang baru setahun menikah ini mengeluarkan selembar kertas. Joni dan warga menunggu dengan antusias. Mereka ingin tahu dan masing-masing bertanya-tanya dan menunggu dengan penasaran apa gerangan yang ingin disampaikan anak muda itu.
“Terus terang tiap hari saya mendapat beban tugas dari perusahaan yang sangat banyak dan berat,” Tohar mulai membuka suara. Lalu lanjutnya, “Pilihan saya cuma dua : bertahan atau mengundurkan diri. Kalau mengundurkan diri jelas saya belum siap. Sebab mencari pekerjaan di perusahaan lain tidak mudah. Bisa jadi malah akan jadi pengangguran yang cukup lama, karena itu tadi, cari pekerjaan sekarang tidak mudah. Demi kelangsungan untuk menghidupi keluarga, saya pilih bertahan bekerja. Betapa pun berat bagi saya, karena tiap hari harus pulang malam, nyaris jarang sekali libur. Maka, mohon maaf, malam ini saya terpaksa mengundurkan diri dari jabatan sekretaris. Sekali lagi mohon maaf,” kata Tohar.
Joni yang semula lega, mak plong, dengan kehadiran Tohar, malam itu Joni syok dan sedikit panik. Memang malam itu Joni sudah merencanakan akan memecat Tohar. Di luar dugaan Tohar malah datang. Joni sudah terlanjur gembira sekali. Joni sudah terlanjur memastikan anak muda itu sudah bisa aktif lagi di kepengurusan RT. Maka Joni melupakan rencana pemecatan terhadap stafnya. Di luar dugaan kok malah kedatanganya bukan untuk memulai aktif kembali, melainkan cuma untuk pamitan. Tohar mendahului mengundurkan diri sebelum dipecat. Setelah itu Tohar menyerahkan sepucuk surat pengunduran diri kepada Joni. Joni membacakan surat itu untuk didengar warga. Dengan demikian malam itu Tohar resmi mengundurkan diri yang disampaikan secara lisan maupun tertulis.
Tohar dulu pernah dicalonkan sebagai Ketua RT. Sudah banyak mendapat dukungan dari warga lewat pemilihan di depan Poskamling. Tapi Tohar menolak. Sampai Pak RW turun tangan, merayu-rayu agar Tohar bersedia jadi Ketua RT. Tapi Tohar tetap menolak dengan berbagai alasan. Sampai akhirnya pemilihan Ketua RT ulang. Yang terpilih Joni Martin. Joni kemudian mengangkat Tohar jadi sekretarisnya, terpaksa mau tidak bisa menolak, karena dulu sudah berjanji pada warga di depan Pak RW kalau staf dulu mau, jangan langsung ketua.
Warga sepakat Cebong ditunjuk Joni sebagai sekretaris baru menggantikan Tohar. Cebong alhamdulilah bisa aktif datang ke pertemuan persoalan berkurang.
Bendahara dirangkap Cebong.
Dibandingkan sekretaris yang lama, Tiok lebih parah lagi. Hampir tiap pertemuan tidak pernah hadir. Alasannya, sama dengan sekretaris yang lama, Tohar, pulang kerja malam juga dan tidak ada hari libur. Tapi Tiok tak pernah jadi masalah di pertemuan RW. Kalau Cebong sudah datang mendampingi Joni di pertemuan RW, Tiok sudah tidak ditanya-tanya lagi kehadirannya, oleh Pak RW. Yang penting RT dan sekretarisnya sudah datang. Pak RW sudah menganggap tak masalah.
Tapi di pertemuan RT, Joni seperti ‘babak belur’ dihakimi warga. Hampir semua warga menuntut bendahara harus secepatnya diganti. Dipilih orang yang bersedia hadir di tiap pertemuan RT.
“Silakan Pak RT menunjuk siapa dan yang ditunjuk harus mau,” kata Sengkuni. Joni sudah menjalankan saran/ usul Sengkuni. Tapi tak ada satupun warga yang mau.
“Kalau begitu saya pilih Pak Sengkuni saja. Mau kan, pak?”
Tapi Sengkuni menolak, alasannya sudah tua. “Yang muda-muda kan banyak,” Sengkuni memberi alasan.
Lalu dibantah oleh Joni, “Bapak tadi kan berkata, saya bebas mau nunjuk siapa dan yang ditunjuk harus mau, sekarang saya menunjuk Bapak tapi Bapak kok malah menolak?” tanya Joni.
“Huuuuu,” seru warga ramai.
“Itu namanya tidak konsekuen, tidak konsisten,” kata Winarno.
Dikatakan tidak konsekuen, tidak konsisten oleh Winarno, muka Sengkuni merah padam.
Sengkuni masih mengelak, masih mencoba menghindar, mencari enaknya sendiri, “Saya sudah tua, cari yang muda-muda kan banyak. Di samping itu saya tidak bisa baca tulis.” Alasan yang terakhir ini, tidak bisa baca tulis, membuat siapa pun tidak bisa memaksa.
Dari dulu pemilihan seksi bendahara memang paling merepotkan. Sudah tidak mendapatkan gaji, harus tanggung jawab uang warga yang tidak sedikit. Kalau kurang transparan sedikit saja bisa dituduh korupsi. Akhirnya tidak ada yang mau ditunjuk jadi bendahara.
Tiba-tiba Joni teringat dengan susunan pengurus di RW. Di RW, sekretarisnya merangkap bendahara. Kenapa tidak mencontoh di RW? Di RW sekretaris bisa merangkap jabatan sebagai bendahara. Di RT mestinya juga bisa. Joni mencoba menerapkan sekarang. Siapa tahu disetujui warga. Ia menoleh ke keponakan istrinya yang duduk di sampingnya, namanya Cebong. Orang gendut ini senang organisasi.
“Kamu mau ya saya tunjuk jadi bendahara?” tanya Joni.
“Pak RT kan sudah menunjuk saya jadi sekretaris,” jawab Cebong. Ekspresinya menunjukkan penolakan, khawatir dirinya akan dimutasi ke jabatan yang tidak ada gajinya. Padahal ia sudah terlanjur mencintai jabatannya sebagai sekretaris. Baru sebentar menjabat kok mau diganti? Ada apa ini? RT kok bisa seenaknya main pecat?
“Jabatanmu tetap sekretaris tapi merangkap bendahara, mau kan?” tanya Joni dengan nada memaksa.
“Apa boleh rangkap jabatan?” tanya Cebong.
“Siapa yang melarang? Di RW sekretarisnya juga merangkap bendahara,” jelas Joni.
“Yo wis to kalau boleh,” jawab Cebong.
“Gimana, bapak-bapak, kalau Saudara Cebong selain jadi sekretaris, kita serahi jadi bendahara?”
“Setuju!!!” jawab warga kompak.
Akhirnya malam itu disepakati Cebong merangkap jadi bendahara. Plong. Lega hati Joni.
100 hari kepemimpinan Joni.
Pemasangan bendera merah putih pada hari-hari besar nasional dikenal selalu paling disiplin, paling rajin, dibanding RT-RT yang lain.
Pukul enam pagi bendera-bendera warga sudah terpasang rapi di depan rumah masing-masing warga. Orang lain (di luar RT 15) pasti mengira warga RT 15 orangnya disiplin semua, jiwa nasionalisme kuat, padahal sebenarnya tidak demikian. Yang hebat itu Ketua RT-nya. Sementara di RT yang lain pada pukul tersebut masih satu dua warga yang sudah memasang benderanya.
Pedet urutan kedua suara terbanyak.
Kalau Tohar tidak bersedia dipilih jadi Ketua RT, seharusnya Pedet bisa langsung dipilih jadi Ketua RT. Tapi kok malah dilakukan pemilihan ulang. Gara-gara pemilihan RT sebelumnya dianggap tidak sah, karena tidak melibatkan ibu-ibu dan remaja. Akibatnya yang terpilih Joni, bukan Pedet. Pedet kecewa.
Makanya Pedet selalu buat onar dan masalah. Ia terus mencari celah untuk menjatuhkan Joni.
“Kenapa uang kas sekarang bisa minus? Padahal tahun-tahun sebelumnya, waktu masih dijabat RT lama belum pernah lho kas bendahara sampai minus. Uangnya digunakan apa saja?” tanya Pedet.
“Kas tidak akan minus jika Anda dan adik Anda tidak punya tunggakan. Coba hitung sendiri sudah berapa kali tidak hadir di pertemuan. Nitip nggak?,” jawab Joni.
“Lho kok malah saya disuruh menghitung. Bendahara dong mestinya yang menghitung. Catatannya kan ada di bendahara,” jawab Pedet asal ngomong.
Joni segera memerintahkan bendahara untuk menghitung tunggakan Pedet.
“Khusus Pak Pedet masih punya tunggakan 6 bulan belum dibayar. Itu belum termasuk adiknya, Pak Gemblung,” kata bendahara.
“Tadi bayar berapa?” tanya Joni pada Bendahara.
“Cuma satu bulan, Pak RT,” jawab Bendahara.
“Seharusnya, kalau Pak Pedet punya tanggung jawab, datang ke sini bawa uang minimal untuk dua bulan dulu, nyicil, biarpun Anda tidak tahu berapa total yang harus dibayar karena saking banyaknya tunggakan. Itulah sebabnya tadi saya suruh Pak Pedet menghitung sendiri dulu, supaya kita semua tahu Pak Pedet itu punya tanggung jawab apa tidak, jangan-jangan pura-pura lupa,” kata Joni.
“Huuu,” teriak warga serempak. “Koreksi dulu dirimu sendiri sebelum menyalahkan Pak RT!” teriak Winarso.
Pedet masih ngeles, “Saya tidak menyalahkan siapa pun. Cuma bertanya.”
Pedet malu. Mukanya merah padam. Preman parkir itu tidak menyerah. Ia menyerang lagi dengan senjata pamungkasnya. “Pemasukan dari tiang BTS lima juta itu sekarang uangnya apa sudah habis? Kok tidak pernah ada laporan?” tanya Pedet. (Bersambung).