Hujan Bulan Juni. . Dirahasiakannya rintik rindunya Kepada pohon berbunga itu. . Dibiarkannya yang tak terucapkan Diserap akar pohon bunga itu. . 🖋Hujan Bulan Juni - Sapardi Djoko Damono. 🎼 AriReda. . . . . . #hujan #juni #hujanbulanjuni #sapardidjokodamono #sdd #puisi #musikalisasipuisi #arireda #rain (di Kota Marabahan ber kumpai)
Di dalam mobil menuju Cilamaya, siang itu Iwan Fals berkumandang. Kami mendengarkan lagu-lagu dari album awal kehidupannya sampai ke album modern yang menurut Ibu saya sudah terlalu manja karena Bang Iwan sudah menjelang lansia.
Ibu dan Ayah saya adalah seorang aktivis mahasiswa tahun 80an yang kerjanya diskusi malam sambil mendengarkan lagu Iwan Fals, Queen, dan Simon & Garfunkel, sementara siangnya bakar-bakar ban di jalanan. Paling tidak, itu yang saya tangkap.
Om saya adalah mahasiswa tahun 90an bernama Budi yang dibesarkan dengan lagu Iwan Fals dari radio butut dan kaset kusut duplikat. Karena diputar berulang kali, memiliki duplikat kaset adalah kewajiban. Beliau adalah keponakan ipar Ibu saya.
Om Budi dan Tante Lya adalah orang Indonesia—dalam artian sebagai masyarakat madani Iwan Fals—yang mengasuh adik, membesarkan anak, dan menemani keponakannya dengan lagu Iwan Fals.
Saya hampir diberi nama Galang Rambu Anarki oleh Ibu dan Ayah. (Kebohongan dalam kalimat ini sebagai bumbu pembangun suasana).
“Om Budi pasti relate banget ya sama lagu ini” Kata saya saat “Sore Tugu Pancoran” diputar.
“Dulu Om Budi kan jualan juga buat duit sekolah. Sekarang mah ga ada jualan koran begitu”
“Iya sekarang anak-anak jualan ulekan sama Vitamin C, Bu”
———————————————————————–
Si Budi kecil kuyup menggigil
Menahan dingin tanpa jas hujan
Di simpang jalan Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran
Bagian lirik “Sore Tugu Pancoran” kesukaan saya justru adalah pembukanya. Menurut saya dengan mudah seharusnya lagu ini masuk ke dalam daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik versi Rolling Stones Magazine. Dengan salah satu lirik terkuat yang pernah saya baca, lagu ini masuk ke dalam 150 lagu terfavorit saya saja.
“Melihat kemajuan sosial dan ekonomi itu gampang, kalau lagu Iwan Fals masih relevan, berarti ada yang kurang baik.” Kata Ibu.
———————————————————————–
Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali
Dari “Ujung Aspal Pondok Gede”. Lagu yang sangat terdengar ke-Bob-Dylan-Bob-Dylan-an. Meskipun saya tidak tahu kalau Iwan Fals dianalogikan dengan Bob Dylan, salah satu atau keduanya yang akan tersinggung.
“Nah ini menggambarkan banget situasi jaman Ibu waktu kecil, malah sejak sebelum-sebelumnya, waktu semua tanah dibeli murah, sawah-sawah habis, tanah-tanah orang Betawi dijual untuk dibikin jalan sama gedung-gedung”
Saya tidak tahu kalau Kemanggisan dan sekitarnya pernah menjadi hamparan sawah, dan Ibu mungkin pernah kehilangan sahabat masa kecilnya.
Nomor-nomor bagus lainnya berkumandang. Dari lagu cinta zaman Mas Iwan muda dan lagu cinta reuni bersama Rafika Duri. Satu hal yang terus mengganggu adalah rasa heran karena orang hebat ini memilih berkolaborasi dengan Momo Geisha dan Ariel Noah. Bukankah masih banyak musisi dan penulis lirik lain yang bukan Momo Geisha dan Ariel Noah? Memadu keajaiban lirik dengan Cholil ERK, berkolaborasi dengan Silampukau, merenungi masa tua bersama Ari Reda? Atau mungkin sesederhana ngeband dengan Fadly Padi dan Duta SO7. Apapun keputusannya, saya paham mengapa waktu konser Iwan Fals di Sabuga tahun lalu ada kerumunan dari Palembang, Jogja, dan sorakan-sorakan Kabupaten entah berantah. Mengambil jalan petualangan hanya untuk melihat Bang Iwan di panggung selama 50 menit. Mereka semua luar biasa. Apapun yang ada di pikiran mereka, yang jelas sama ajaibnya dengan yang terjadi di pikiran saya saat mempertaruhkan kelulusan tepat waktu dan menembus 2 negara hanya untuk 90 menit Coldplay.
Setulus-tulusnya cinta manusia, apakah mungkin adalah cinta pada musik?
“Ibu udah lama ingin nulis tentang Iwan Fals, takut keburu mati dia.”
Waktu Chrisye berpulang, Ibu menangis.
Kalau Ebiet G. Ade berangkat ke surga suatu hari nanti, Ayah pasti menangis.
Jika nanti Iwan Fals harus ikut, mungkin kami sekeluarga akan butuh liburan.
Sebagian besar tanah memang sudah rata dengan tanah, namun warga di Temon, Kulon Progo tak pantang beraktivitas. Ngarit, panen hingga bermain layang-layang. Warga masih menyimpan asa. Menghidupi apa yang semestinya dihidupi. Video ini menunjukkan itu semua, dan musikalisasi puisi Gadis Peminta-Minta oleh AriReda mengiringi kita menyelami kehidupan warga di Temon yang masih bertahan.
“Gadis Peminta-Minta” (Live at IFI Jakarta) – AriReda
“Gadis Peminta-Minta”: Tentang Manusia yang Dicerabut dari Akarnya
Dalam esai "10 Lagu Protes Lokal Terbaik", Herry Sutresna memberikan kejutan. Sewaktu membaca judul esai itu, saya menduga "Bongkar" akan ada di peringkat pertama. Bagaimanapun, lagu itu punya daya gedor dahsyat, serupa ratusan battering ram yang dijejer dan dihantamkan berbarengan. Namun saya --dan mungkin juga banyak orang lain-- salah duga. Di peringkat pertama adalah lagu balada dari Iwan Abdurrahman, "Mentari".
"Lirik lagunya tidak secara langsung menyerukan protes, namun memiliki kombinasi nada dan lirik yang berpotensi menginjeksi nyali dan nyaris melenyapkan rasa takut," tulis Ucok, panggilan Herry.
Apa yang ditulis oleh Ucok memberikan satu perspektif baru --atau sudah lama? Bahwa lagu protes tak perlu dinyanyikan dengan urat leher yang menonjol. Tak perlu pula berisi distorsi gitar meraung ala Rage Against the Machine, yang harus dinyanyikan dengan tangan kiri terkepal ke atas. Lagu protes terbaik --apapun definisi lagu protes atau lagu perlawanan-- seringkali datang dalam bentuk yang paling sederhana: gitar akustik dan lirik. Itu sudah.
Salah satu pria yang cukup bermodalkan gitar bolong dan kata-kata dalam menyampaikan protes adalah Woody Guthrie. Tak bisa tidak, saya teringat akan lagu "This Land is Your Land". Guthrie menyanyikan lagu ini dengan lempeng dan enteng belaka. Seolah tak ada kemarahan di sana. Karena itu pula, alih-alih tampak sebagai pahlawan yang ingin membela kebenaran, ia malah hadir sebagai paklik yang baru pulang berkelana jauh, dan mengisahkan padamu bahwa dunia ini timpang, tidak baik-baik saja.
Paman Guthrie mulai berkisah tentang tanah yang lapang. Dari California sampai New York. Dari belantara hutan hingga air yang mengalir. Semua itu milik kita. Tapi kisah semacam itu hanya dongeng masa lampau, Guthrie bernyanyi. Lagi-lagi, tak ada maksud untuk marah atau protes. Ia malah bertanya diiringi gitar yang juga dipetik tak nyaring.
As I went walking, I saw a sign there
And on the sign it said "No Trespassing."
...
In the shadow of the steeple I saw my people,
By the relief office I seen my people;
As they stood there hungry, I stood there asking
Is this land made for you and me?
Pertanyaan serupa tak perlu disampirkan hingga ke California atau New York. Terlalu jauh dan terasa asing. Di dekat kita, Yogyakarta, apa yang ditanyakan oleh Guthrie terasa pelan-pelan menemui pembenaran, kok.
Apa yang dulu adalah tanah milik warga, gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo, lempar tongkat kayu jadi tanaman, mungkin akan jadi sekadar dongeng di masa yang akan datang. Yogyakarta berubah wajah, diakui atau tidak. Tidak perlahan, tapi dalam waktu yang amat gegas. Pariwisata dijadikan alasan: semakin banyak orang yang datang ke Yogyakarta, maka akan semakin makmur kotanya. Semakin bahagia warganya. Maka dibangunlah bandara di Kulon Progo.
Dari sana, warga melawan. Yang akan digusur untuk bandara bukanlah tanah kosong. Melainkan tanah yang memberikan penghidupan. Yang dari sana tumbuh padi, yang airnya diminum setiap hari. Dan memang, setiap perlawanan hebat selalu menemui tembok tebal nan terjal. Segala cara dilakukan para penggusur. Dari intimidasi, hingga memainkan regulasi.
Di antara pusaran perlawanan terhadap penggusuran, lengkap dengan amarah yang munjung, air mata yang mengucur, darah yang menetes, dan tekad yang tetap sekeras baja, AriReda muncul seperti angin dari pegunungan. Kali ini, duo musisi yang muncul dari kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia sejak medio 1980-an membawakan musikalisasi puisi "Gadis Peminta-Minta" ciptaan Toto Sudarto Bachtiar.
Sama seperti "Mentari", lagu yang dibawakan AriReda ini jauh sekali dari tipikal lagu protes. Ari Malibu, seperti biasa, memetik gitar dengan kunci-kunci sederhana. Iramanya seolah hidup, bisa mengikuti gerak-gerik cara bernyanyi Reda Gaudiamo. Meski duo ini pertama kali membuat musikalisasi puisi "Gadis Peminta-Minta" pada 1987 silam, lagu ini tetap kuat dan semakin terasa menemui pembenarannya.
Puisi Toto yang ini memang tidak seperti pedang yang terhunus. Ia seperti besi yang bisa kita tempa jadi apa saja, terserah tafsiran dan keinginan. Karena kekuatan seperti itu, pembacanya bisa membuat seribu satu tafsir. Apakah "Gadis Peminta-Minta" adalah kisah nelangsa tentang gadis pengemis di kota? Bisa. Apakah puisi itu ditulis untuk menggambarkan kepolosan anak kecil? Oke saja.
Tentu kita bisa menafsirkan bahwa lagu dan puisi "Gadis Peminta-Minta" adalah tentang kota yang berubah dengan cepat, dan para warganya tertatih mengikuti. Yang tak bisa dan tak mau berubah, akan dipaksa untuk berubah. Dicabut dari akar yang sudah menjulur selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Perubahan cepat ini akan menghasilkan manusia-manusia yang kalah.
Maka kita bisa memposisikan gadis berkaleng kecil sebagai anak-anak petani di Kulon Progo yang tergusur. Di kota, apa yang bisa ditanam? Tanpa akar, pohon akan roboh. Begitu pula anak-anak yang terusir dari rumahnya sendiri. Mereka tergagap, dipaksa untuk mengikuti Yogyakarta yang sedang berubah drastis.
Maka tak ada yang bisa menjamin bahwa mereka, anak-anak di Kulon Progo, tak menjadi gadis berkaleng kecil di kota. Mungkin bagi para pembesar yang ada di gedongan, bekerja di kota dianggap lebih mulia ketimbang jadi petani. Walau untuk itu, mereka harus kelaparan dan tinggal "di bawah jembatan". Jelas, bagi para penggede itu, wisatawan lebih menguntungkan ketimbang sawah-sawah penghasil pangan.
Sebagai kota, tak ada yang lebih menohok ketimbang frasa: kotaku jadi hilang, tanpa jiwa. Lagi-lagi, diakui atau tidak, Yogyakarta sudah bukan lagi kota yang ada dalam lagu milik KLa Project. Di sepanjang jalan Kaliurang, yang menonjol adalah baliho berukuran raksasa, mulai menutupi pemandangan Gunung Merapi yang agung itu.
Di Yogyakarta, apartemen dibangun di mana-mana, merampas sumber air milik warga. Mall semakin banyak bermunculan. Pembangunan bandara dikebut agar wisatawan semakin banyak. Tapi untuk apa? Jumlah kunjungan wisatawan? Tingkat okupansi hotel? Untuk semua itu, harga yang dibayar terlalu mahal. Yogyakarta perlahan menjadi kota yang kehilangan jiwanya.
Maka sah saja kalau kita menafsirkan gadis kecil sebagai kota Yogyakarta. Yang kebingungan mau ke mana. Seorang teman membuat pengandaian yang pas untuk segala perubahan Yogyakarta, untuk segala penggusuran yang terjadi: ritme kehidupan desa yang dipaksa untuk jadi kota. Kehidupan selo ala Yogyakarta akan dipacu lebih kencang.
Di akhir lagu, suara Reda lirih. Ia bukan raungan protes. Melainkan suara lirih penuh penyesalan. Tentang orang-orang yang terusir dari rumahnya. Tentang kota yang tak lagi kita kenali.
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak punya lagi tanda
(Nuran Wibisono)
Unduh
Lagu ini dirilis secara gratis (dan legal!) sebagai bagian dari proyek 37suara.
Teman-teman dapat mendengarkan serta mengunduh lagu ini di laman-laman berikut:
Internet Archive
BandCamp
SoundCloud
Namun, kalian juga boleh berdonasi dengan mengikuti petunjuk-petunjuk di sini.
Karya ini menggunakan Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0.
Puisi
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang kebawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi begitu yang kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bias membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan diatas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak punya lagi tanda
Kredit
Musikalisasi puisi Toto Sudarto Bachtiar
AriReda adalah Ari Malibu dan Reda Gaudiamo
Direkam dengan bahagia di Auditorium IFI Jakarta pada 27 Januari 2018
Direkam dan diolah oleh Agus Leonardi
#AriReda akan pergi tur. Sepanjang seminggu, kami akan ke enam kota. Sampai jumpa. Cek tanggalnya di gambar. Detail bisa dicek di www.arireda.com. Sampai jumpa! #TurMenungguKemarau2017
AriReda 💕 Ketika puisi adalah cinta Dan musik adalah kasih Ari Reda mengawinkan keduanya Menjadikan sebuah keindahan #fmf2017 #arireda (at Kusuma Agro Wisata Batu Malang)
Folk Music Festival menghadirkan sederet musisi folk yang berbeda rasa bermusiknya. dari AriReda, Payung Teduh, Float, Iksan Skuter, Bin Idris, Monita Tahalea, Jason Ranti, Danilla, Pagi Tadi, Silampukau, Stars & Rabbit, Sandrayati Fay, Irine Sugiarto dan Manjakani.
Selain sajian musik folk, di dalam Folk Music Festival 2017 juga ada Record & Music Craft Market, Food Market, Makan sayang…