Sesi 1: Kerja-Kerja (Tak) Kasatmata, Sesi Berbagi dan Mencatat Bersama
Desain poster: Putri Siswanto
Pengantar ditulis oleh Amrina, Nisa dan Putri
Kerja, kerja apa yang tidak terlihat? Jawabannya tentu banyak. Untuk mencoba menjawabnya, kami–Amrina, Putri, dan Nisa–ingin mengajak teman-teman bergabung dalam sesi berbagi dan pencatatan bersama. Dalam sesi ini, kami berusaha melihat bentuk kerja apa saja yang penting, namun sering kali tidak tercatat jejaknya: mulai dari asisten peneliti yang tertutup bayang peneliti utama, pekerja admin di balik layar komputer, asisten seniman yang palugada, penerjemah yang namanya kerap tertulis kecil di pojokan sampul fiksi, sampai notulen yang teliti merangkum isi acara. Kami harap, melalui sesi ini, kita menjadi lebih peka dalam memikirkan cara untuk menghargai bentuk-bentuk kerja krusial yang seringkali tak tampak di permukaan.
Catatan tambahan di balik layar:
Sesi pertama ini aku tertarik untuk mengajak Amrina karena alasan personal, yaitu aku senang dengan risetnya yang membahas tentang I Made Kaler. Beliau adalah seorang asisten peneliti dari Margaret Mead saat tengah melakukan riset di Bali. Bagi mereka yang mempelajari antropologi tentu akan familiar dengan hasil penelitian Margaret Mead tapi siapa yang pernah mendengar nama I Made Kaler ini disebutkan dalam perkuliahan. Sebagai mantan mahasiswa antropologi, sangat jarang dalam ingatanku nama para asisten peneliti ini disebutkan atau setidaknya dibahas saat hasil penelitian digunakan dalam pembelajaran. Nama para asisten ini seakan lenyap setelah hasil penelitian di lapangan selesai dan terbit sebagai naskah akademik.
Ia yang berada di lapangan membantu jalannya proses penelitian, namanya tidak hanya sering terlupa tapi juga tidak tercatat. Hal inilah yang membuatku kemudian merefleksikan dalam kerja-kerja di kesenian, asisten seniman, pekerja admin atau penjaga ruang pameran, nama-nama mereka juga sering tidak dibicarakan. Tentu ini tidak berarti semua ruang seni punya praktik yang sama, tetapi setidaknya masih banyak kasus seperti ini ditemukan. Walaupun memang, saat seniman membuat karya seni, apakah kolektor atau orang penting lainnya peduli dengan siapa asistennya? Karena nama mereka pun tidak tertulis pada caption karya.
Saat ide ini datang dan dibicarakan bersama Amrina, ia pun menyambut baik karena tidak disangka pengalaman I Made Kaler ini masih relevan sampai sekarang. Sehingga usaha untuk membicarakan dan menuliskan masalahnya bersama menjadi penting untuk dilakukan. Tidak hanya untuk mencatat tapi juga untuk berkumpul dan mengingat mereka yang bekerja di balik layar.
Proses dari Sesi 1 ini dimulai dengan Amrina membagikan ceritanya terkait I Made Kaler, para peserta yang kebanyakan dari bidang seni tentu tidak familiar dengan nama beliau. Namun, menariknya pengalaman dari I Made Kaler ini sangat menyentuh para peserta yang hadir. Ada dari mereka yang bekerja sebagai volunteer pameran, volunteer festival seni, pekerja admin galeri dan ruang seni, dan juga ada teman ilustrator komik yang hadir. Nama asing dari I Made Kaler seketika terasa begitu dekat saat pengalaman kerja beliau juga dirasakan oleh para peserta. Kerja-kerja mereka sering kali tidak terlihat dan nama mereka tidak dikenal karena mereka pekerjaan mereka yang tidak tersorot lampu utama.
Hal inilah yang kemudian menjadi dorongan untuk berkumpul dan menulis bersama atas kerja-kerja yang sudah dilakukan, agar tercatat dan terus diingat. Langkah selanjutnya diteruskan dengan berbagi pengalaman kerja dari tiap peserta dan dibarengi dengan mencatatkannya dalam bentuk mini zine. Lalu, pertemuan diakhiri dengan berbagi catatan masing-masing yang sudah dituliskan dalam mini zine.
Contoh cuplikan mini zine yang dibuat Amrina.
Berikut beberapa langkah yang bisa diikuti jika ingin melakukan hal serupa:
Membuat kesepakatan bersama bahwa akan mengupayakan ruang aman selama proses berlangsung. Cerita yang dibagikan dalam sesi ini tidak akan dibagikan keluar.
Setiap orang membagikan ceritanya dengan durasi sekitar 5-10 menit.
Mencatatkan pengalaman yang sudah dibagikan ke dalam mini zine Alat yang dibutuhkan: kertas A4, spidol berwarna dan alat tulis lainnya, gunting, lem, stiker atau selotip lucu favorit kalian. (referensi melipat mini zine, klik di sini) (*)pencatatan di mini zine tidak terbatas hanya dalam bentuk tulisan, bisa gambar dan juga potongan gambar (baiknya disiapkan sebelumnya)
Durasi membuat mini zine bisa fleksibel, tetapi bisa dilakukan sambil bercerita juga untuk memantik proses penulisan. Bayangan durasi kurang lebih 20-45 menit.
Setelah selesai, masing-masing membagikan hasil pencatatan mereka lewat mini zine. Durasi 20-30 menit.











