Sesi 2: Kerja Sama-sama Upah Apa Ada
Pengantar acara ditulis oleh Ladija dan Nisa
Obrolan mengenai kolektif seni dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi semakin hangat. Ada banyak orang yang mulai tertarik untuk membicarakan bagaimana bentuk kolektif itu dianggap menjadi salah satu hal yang ideal dalam bekerja bersama. Mungkin juga bukan hanya menyoal kerja bersama; dalam kolektif juga ada aspek pertemanan, berbagi ruang hidup, dan bahkan kekeluargaan. Namun, apa yang sekiranya penting juga untuk dibicarakan terkait kolektif? Upah adalah salah satunya.
Lalu, apa yang bisa "dihitung” sebagai kerja untuk mendapatkan upah dalam kolektif? Bagaimana kita bisa membicarakan upah dalam kolektif?
Dalam kesempatan ini, kami mengajak teman-teman untuk bergabung bersama Ladija yang akan menemani kita berbincang terkait pengupahan di kolektif seni. Mari bersama-sama kita melatih dan membicarakan upah agar ia bisa diadakan!
Catatan tambahan di balik layar:
Selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir saya banyak bekerja dalam kolektif yang berbeda. Ada Bakudapan yang secara intens terlibat, tetapi juga ada sampingan lainnya, Struggles for Sovereignty, Sejawat Merawat, Sekolah Salah Didik, dan juga dalam proyek seni yang secara khusus membahas kolektif seperti Arisan Tenggara. Pengalaman berkolektif ini memunculkan banyak cerita juga pengalaman yang membuat saya seringkali berekfleksi dan membatinkan banyak hal. Salah satunya adalah mengenai pengupahan. Seringkali membicarakan upah dalam kolektif menjadi hal yang sulit karena kita bekerja bersama teman dan saat semua dihitung secara rigid akan terasa begitu formal. Namun, mungkin kadang menjadi formal dan rigid terkadang diperlukan untuk bisa melatih penghitungan jam kerja yang jelas.
Perasaan "nggak enak" menjadi dorongan utama yang menyebabkan seseorang merasa sulit untuk mulai membicarakan upah. Tidak hanya dalam kolektif, tetapi juga dalam kerja kesenian lainnya. Misalnya, saat bekerja untuk suatu perhelatan seni yang besar dan melalui proses wawancara, akan sulit bagi mereka langsung menanyakan renumerasi di awal pertemuan. Mengapa? Akan ada anggapan tidak sopan karena masih tahap wawancara sudah bertanya soal upah. Walaupun, mendapatkan info terkait upah yang akan kalian dapatkan dari pekerjaan merupakan hak kita semua.
Dalam pembicaraan bersama Ladija ada catatan penting yang saya tuliskan, yaitu pentingnya untuk membangun kesadaran kolektif terkait upah. Mencapai kesepakatan bahwa upah dalam kolektif itu perlu diupayakan bersama-sama, di mana nantinya akan ada proses administrasi yang juga dilakukan bersama. Memang akan melelahkan prosesnya, akan lebih mudah saat menerima suatu proyek dalam kolektif kemudian upahnya dibagi rata untuk setiap anggota. Namun, apakah itu benar-benar "rata"? Atau adil?
Melalui pengalaman Ladija di Taring Padi, saya tertarik untuk membuka resep dapur administrasi mereka untuk dibuka dan diceritakan sebagai bahan diskusi. Titik berangkat yang dilakukan Taring Padi adalah menyepakati bentuk kerja apa yang terlihat dan tidak, dengan tujuan untuk melihat semua bentuk partisipasi adalah bagian dari kerja. Taring Padi memiliki beberapa rumus penghitungan; ada yang berdasarkan absen, jam kerja, residensi atau membuat karya bersama, semuanya memiliki penghitungannya sendiri. Nanti semoga ada beberapa rumus pengupahan Taring Padi yang bisa dibagikan (perlu kirim email dulu, sabar ya).
Dari Ladija dan Taring Padi saya juga mencatat bahwa pembicaraan soal upah tidak akan pernah berhenti, karena ia dinamis dan perlu banyak uji coba, sehingga akan memakan waktu jadi perlu sabar. Namun, yang paling penting memang kesepakatan usaha bersama secara kolektif untuk berkomitmen melakukannya. Inilah salah satu tantangan yang perlu dilampaui dari hanya bersabar untuk mencoba.
Setelah Ladija membagikan ceritanya di Taring Padi, kegiatan selanjutnya selain mendengarkan komentar teman-teman yang hadir adalah untuk membawa obrolan ke langkah apa yang bisa kita lakukan. Saya mencoba mengajak untuk merancang kemungkinan tahapan yang bisa kita lakukan saat membicarakan upah. Dimulai dengan pertanyaan: Mari membayangkan 3 langkah "mudah" untuk membicarakan dan menentukan upah dalam kolektif. Pertanyaan ini saya buat dengan melihat dari jargon-jargon di periklanan yang sering menjual kemudahan dengan langkah singkat. Sehingga saya membayangkan mungkin dengan berimajinasi langkah mudah dan mungkin tidak mudah apa yang bisa kita mulai untuk membicarakan upah. Pada akhir pertemuan memang tidak ada kemudian kesepakatan bersama untuk benar-benar mencoba melakukan ini tapi kami semua sepakat ini bisa jadi kemungkinan yang diuji coba.
Berikut langkah-langkah jika ingin melakukan hal yang serupa bisa tak sama:
Contoh mentimeter untuk check-in
Mulai acara dengan sesi check-in untuk mendengar pikiran awal para peserta terhadap topik yang akan dibicarakan. Saya menggunakan mentimeter (https://www.mentimeter.com/) untuk proses ini. Berikut pertanyaan yang saya pakai: Apa yang membuat kita sulit membicarakan permasalahan upah dalam kolektif?
Setelah proses check-in selesai pembicaraan bisa digiring untuk melihat jawaban dari hasil mengisi mentimeter. Jawaban-jawaban ini bersifat anonim sehingga harapannya tiap orang bisa lebih leluasa untuk berbagi.
Jawaban tiap orang bisa sangat beragam tapi dari proses ini bisa didorong lebih jauh untuk memetakan masalahnya dan melihat kesamaan apa yang muncul. Kalau dari proses yang sudah terjadi ada dua jawaban yang mendominasi, yaitu takut dan sungkan.
Jika kalian ada narasumber yang bisa diajak untuk berbagi strategi terkait pengupahan akan sangat baik. Dari pengalaman orang lain kita bisa melihat kemungkinan apa yang bisa ditiru, dipakai, dan dikembangkan bersama.
Setelah narasumber membagikan pengalaman mereka, pembicaraan bisa terus berlanjut dengan proses tanya jawab.
Selanjutnya, bisa kemudian dimulai mentimeter baru dengan pertanyaan Mari membayangkan 3 langkah "mudah" untuk membicarakan dan menentukan upah dalam kolektif
Saat semua peserta selesai mengisi mentimeter, kita bisa memulai voting untuk melihat langkah mana yang paling mungkin dan sesuai untuk dicoba. Dari proses inilah kemudian kita bisa mengkerucutkan banyaknya ide menjadi 3-4 langkah untuk memulai membicarakan upah dalam kolektif.
Hasil mentimeter untuk 3 langkah mudah dan "popular" menunjukan ide dari peserta yang paling banyak dipilih setelah proses voting
Catatan lain: baiknya kemudian ada proses lanjutan untuk membuatnya lebih detil menjadi langkah nyata yang bisa langsung diterapkan. Namun, tentu ini akan butuh waktu untuk melakukannya. Contohnya, saya sendiri belum sempat untuk melanjutkan ini. Mohon diingat dengan kata "belum", artinya ini akan berlanjut. Amin.













