A Lecture By Teun Van Der Heijden (A Graphic Designer, Specialized in Photobooks)
Written By Muhammad Barkah
"How Photography Communicates. The Visual language is the real esperanto."
Susan Sonthax on Photography (1920)
Three Beams of Photographs by a Voyager. That pale dot is earth. Source: NASA.
Abstract + Conceptual Photography is the 'eye-opening' future of Photography. Photo example: three beams of photographs made by a Voyager. The problems on Abstract and conceptual photography is the border in between realm of reality and imagination. This could be solved through photo-journalism which served in photobooks.
It is because "The Photobook occupies that deep area between the novel and the film". Eg. Black Passport (2009), a contemporary publishing needs to coexist with the book in the making.
Photobook exists in between Performance/Play, Film, Novel, and Sculpture. That is why a creative thinking in the making of Photobook needs a direction, it needs to communicate through photos of people.
"Photographers are lousy storytellers but they are a great collectors"
How photobook can surpass digital era? It has an answer. Photobooks need to be good in the feels than just looking good. "The photobook is giving birth to the photo story in a way the darkroom print gave birth to the photo." eg. Nina Berman.
To close this whole explanation, there is statement to state.
Sebuah Lokakarya oleh Sliraku Project (Anna Putri, Agri, Dinda, dkk.). Catatan oleh Muhammad Barkah, 2019.
(Potret Muhammad Barkah oleh Reza F. Nurzaman dalam lokakarya terkait. 2019.)
Mata.
Sebuah micro-expression berupa komunikasi non-verbal. Hal ini sering terjadi saat seorang fotografer berinteraksi langsung dengan objek foto yaitu manusia.
Sebuah portrait terkomposisi oleh 80% subjek, 19% fotografer dan 1% teknis. Mengapa portrait yang baik memiliki dominasi komposisi dari subjek yang dipotret? Karena sejatinya foto portraitbukanlah perekam ego fotografer, melainkan merekam karakter manusia yang dipotret. Hal yang perlu dilakukan tentu saja dengan mengenal dengan baik subjek yang akan dipotret.
Menurut Anna Putri, portrait photography perlulah pragmatis, lepas dan mengalir. Untuk mengurangi gap antara subjek dan pemotret dibinasakan dengan menyamakan situasi antara keduanya. Selain itu, apabila ingin bebas dan jujur dalam karya, pertama hilangkan dahulu rasa khawatir.
Self love yang terbentuk dari self compassion yaitu memberikan pemahaman dan berbelas kasih pada diri sendiri saat sudah di titik terrendah. Pun tahapan self lovediantaranya adalah.
Self Kindness, menerima diri saat menderita (legowo). Lawannya adalah Self Judgement, mengkritik hal-hal yang tidak diterima oleh diri sendiri.
Common Humanity, wajar berbuat kesalahan karena kita adalah manusia, tetapi bukan justifikasi. Lawannya adalah isolation, merasa menjadi manusia yang paling salah.
Mindfulness, sadar berbuat salah. Lawannya adalah over-identification, terlalu fokus ke kesalahan, seharusnya fokus pada kebaikan juga.
Sehingga setelah self compassion lahir akan membentuk Abhidhamma (abhidhammapitaka merupakan Kanon Pali, kitab suci agama Buddha Theravada) dimana menyadari manusia hanya jiwa sekumpulan hal yang sebagian dikit dari semesta.
Adapun hal-hal yang mempengaruhi self compassion adalah
Lingkungan yang saling mendukung dan mengapresiasi.
Orang tua. Pola Asuh, attachment (kelekatan(, psikolog orangtuanya (karakter).
Rentang Usia. Umur manusia paling stabil adalah ketika sudah mengalami integritas yaitu umur 60 tahun ke atas.Karena saat masih muda, manusia masih merefleksikan jiwa mereka.
Jenis Kelamin. Perempuan lebih banyak pikiran, sehingga lebih awas terhadap bahaya.
Kepribadian "OCEAN" atau yang biasa disebut The Big Five Personality.
Budaya.
Pun pendekatan Self Love dalam fotografi yaitu melalui Photovoice (Arthur Aron): Dokumentasi dan ekspresi Surrounding Environment.
Bikin narasi.
Gambar/sketsa.
Potret.
Setelah diberikan penjelasan singkat dan padat mengenai self love itu sendiri. Kami dituntut untuk mempraktekkan self love melalui portrait photography. Peserta yang berjumlah sekitar dua puluh orang dibuat berpasangan dan diberikan beberapa kelompok pertanyaan yang disusun sedemikian rupa sehingga kami dipaksa untuk saling terbuka. Sebelum tanya jawab dilaksanakan, kami diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa data dan hasil tanya jawab antar peserta akan confidential. Hal tersebut membuat saya, khususnya, merasa nyaman untuk berkomunikasi dan menjadi ‘telanjang’ berbicara dengan orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya.
Setelah mengobrol intens selama tiga jam, kami pun saling melakukan portrait photography. Setelah itu masing-masing dari kami mempresentasikan karya foto dan alasan mengapa mengambil foto tersebut seperti itu.
Setelah menjalani rangkaian dan bercerita walaupun ke seseorang yang sebelumnya belum pernah saya kenal, saya jujur merasa lega.