Di part kali ini,dimana ‘Dia’ menyatakan perasaannya padaku.Di saat itu hanya ada kami berdua.Aku pikir pilihan itu hanya ada dua, ‘iya’ atau ‘tidak’ yang tentu masih terdapat keraguan karena kita belum tahu ujungnya dengan pasti dari pilihan tersebut.Berarti kita butuh ‘sesuatu’ untuk menjadi penguatnya.Maka dari itu kali ini berbeda,pilihan yang ‘Dia’ ajukan ada tiga , ‘iya’ ‘tidak’ atau ‘kepastian’….dan aku harus memilih salah satunya.
Aku sudah berjanji dengan diriku sendiri ‘YANG PERTAMA DAN YANG TERAKHIR’ , karena itu hadiah dari hati kecilku untukku.Apa aku bisa memilih pilihan yang tepat? Tuhan…tolong aku,berikan aku petunjuk.Ini semua hanya aku tidak ingin merasakan sakit yang tidak mau aku rasakan.Apa ‘Dia’ yang Engkau berikan untukku? Apa kali ini aku sudah memilih pilihan yang tepat?
Sekitar beberapa minggu setelah hari di part sebelumnya,ada undangan pernikahan teman masa sekolahnya.’Dia’ meminta waktuku untuk menemaninya seharian, beberapa agendanya yaitu menghadiri acara tersebut sekaligus ke Gramedia untuk melihat-lihat buku bagus siapa tau ada yang bisa di bawa pulang.Ya, salah satu hobinya adalah membaca buku,’Dia’ suka novel atau karya sastra lainnya seperti puisi dan lainnya.Penulis favoritnya adalah Dee Lestari,tentu saja di saat itu aku belum tahu tentang hal ini, tapi sekarangkan sudah tahu! Hehehe.Bahkan forum kreatifnya menerapkan untuk budayakan literasi terutama buat kalangan muda,ya kalian tau kan sekarang sudah jarang orang memiliki hobi membaca buku karena perkembangan teknologi.Atau buku itu terlihat membosankan dan ketinggalan zaman bagi mereka .Kalian yang sedang baca ini,ada yang berpikir seperti itu juga? Btw,aku pernah curhat begini ke’Dia’karena terus terang aku gak hobi baca buku yang isinya tulisan semua,menurutku tidak menarik! Aku lebih memilih membaca komik karena ada gambar-gambarnya mungkin,terus ‘Dia’ malah bilang gini ke aku “Baca buku itu sesuai sama apa yang mau kamu baca,kalo misalnya yang di baca gak menarik buat kamu ya gak usah dipaksain buat baca,cari buku yang benar-benar menarik buatmu dalam artian itu adalah ‘style’ kamu.Kalo sudah ketemu ku pastikan kamu bakalan ketagihan!” Seriously,aku mencari tahu kebenaran perkataannya dan ternyata….itu benar! Bahkan sekarang sudah ada 2 sampai 3 buku yang ku baca per harinya.Walaupun sebagian besar buku tentang keagamaan sih,karena sekalian aku nambah ilmu agama kan~
Singkat cerita kita berangkat bareng,sebelum sampai di tempat acara,’Dia’ minta untuk mampir ke toko baju setelah menanyakan harus seperti apa busana yang di kenakan kalo menghadiri sebuah acara pernikahan.Aku tahu ‘Dia’ gak mau ribet,jadi ku rekomen kemeja polos atau batik yang berbahan katun biar gak bikin gerah.Sesampai di toko baju,’Dia’ memintaku pilihkan satu untuknya,alasannya sih ‘Dia’ gak tau mana yang cocok untuknya makanya ‘Dia’ menyerahkan ke aku.Tidak memerlukan waktu yang lama,pilihanku jatuh ke kemeja batik berwarna biru tua.Motif batiknya tidak terlalu ‘rame’ ,bahannya juga ‘dingin’.Entah apa alasannya ,ku pikir biru adalah warna yang cocok untuknya.Biru itu menenangkan,damai,dingin tetapi ada sisi hangat di dalamnya.Ya itulah ‘Dia’!
Setelah membayar ke kasir ‘Dia’ langsung menuju kamar pas untuk mengenakannya,kita pun berangkat ke lokasi acara.Sampai di sana, seperti biasa saat sesi ramah tamah di tengah kita sedang menyantap jamuan, bertemu dengan salah satu teman yang pernah mampir di kedai kopinya di pasar dulu yang sedang bekerja di tengah acara itu sebagai photographer,kami pun berbagi cerita sampai makanan di piring tandas.Keluar dari tempat acara,’Dia’ pun saling tegur sapa dengan teman-temannya yang baru tiba.Sesekali mereka menggoda kalo sekarang ‘Dia’ terlihat sudah ada ‘gandengan’.Aku cuma bisa melemparkan senyum ke mereka tanpa berkomentar apapun,toh kita masih hanya sebatas ‘teman’ kan.
Setelah itu ‘Dia’ ingin mampir ke café nya dulu.Siang itu cuaca panas terik,maksud mampir ke café dulu karena mau ‘ngadem’.Kota kami bisa di bilang kota pesisir karena dekat dengan laut teluk.Semilir angin laut lumayan menyejukkan dari atas sini,kami ada di lantai 2 café nya.Dengan suasana yang cukup tenang seperti ini,membuat kami ingin bermalas-malasan sejenak alias mager (malas gerak).Aku yang berpeluh hanya sibuk dengan hp ku,sedangkan ‘Dia’ di sebelahku yang awalnya hanya main hp juga seperti kurang cukup tidur semalam,tak lama ketiduran.Ku biarkan saja ‘Dia’ beristirahat sebentar.Di situ aku memperhatikan wajah tidurnya.Orang ini penuh banyak misteri di dalam dirinya kataku dalam hati.’Dia’ membuka matanya perlahan, aku yang terkejut segera memalingkan pandanganku, lalu akhirnya ‘Dia’ tertidur kembali. apa ‘Dia merasa aku memperhatikannya? Kali ini ‘Dia’ benar-benar membuatku kaget.
Tak terasa sudah mau menuju sore hari,setelah ‘Dia’ ganti baju karena tidak betah dan tidak biasa memakai kemeja,itu membuatnya tidak nyaman memakainya berlama-lama,kembali dengan t-shirt andalannya yang bertuliskan ‘RELAWAN KREATIF’,’Dia’ berterus terang kepadaku kalo dirinya tidak mau di repotkan dengan bagaimana berpenampilan, sesuatu yang nyaman di pakai itu sudah cukup baginya.Itulah mengapa ‘Dia’ menyerahkan ke aku kalo urusan penampilan,seperti yang terjadi di awal.Yah.. ‘Dia’ memang sudah membutuhkan seorang partner hidup sepertinya. (*Benerkan aku? Nanya ke ‘Dia’ yang pastinya sedang menyimak cerita ini juga!)
Kita lanjutkan untuk mampir ke Gramedia.’Dia’ langsung menuju rak bagian novel , aku hanya berkeliling memandangi jejeran buku-buku yang ternyata ada yang menarik perhatianku.Buku tips dan trik public speaking , kebetulan dalam waktu dekat aku ada job MC acara pernikahan.Ini pertama buatku dan aku butuh beberapa referensi.Karena menurutku MC itu berbeda dengan news reader ataupun presenter,ya itu job desc ku di kantor.Tapi tak lupa ku simak beberapa referensi yang berhubungan dengan pekerjaanku,terutama pengalaman-pengalaman para tokoh dengan profesi yang sama namun di skala nasional juga menjadi perhatianku,karena pasti bisa ku ambil pelajaran dari situ,aku pun jadi keasyikan membaca buku-buku yang aku temukan.
Tiba-tiba ‘Dia’ muncul dengan kamera handphonenya ke arahku.Sepertinya aku terlalu fokus dengan bacaanku dan dalam keadaan tidak ingin bercanda,jadi aku hanya sekedar menoleh kearahnya untuk memberikan respon sebentar lalu kembali ke bacaanku.Ya ampun , ku akui responku saat itu ke’Dia’ jutek banget! Tapi itu masih mending,biasa aku malah gak mau respon sama sekali.Ya aku orangnya lumayan ‘dingin’ kalo lagi serius atau sedang fokus dengan sesuatu. (*Maaf ya yang waktu itu~ hehehe).
Cukup lama kita menghabiskan waktu di Trade Center itu, setelah maghrib kita putuskan untuk kembali.Tujuan terakhir kita sepertinya ke kontrakannya.Kebetulan kedai kopinya lagi close hari ini,’Dia’ mempersilakan aku duduk di sofa hijaunya dan ‘Dia’ langsung sibuk membereskan beberapa barang-barang yang ada di situ.Lalu meracik kopi untuk dirinya sendiri.’Dia’ tau aku tidak bisa minum kopi terlalu banyak.
“Hari ini kamu benar-benar nemenin aku seharian ya.” Komentarnya, ‘Dia’ duduk di sebelahku,meletakkan kopinya di meja.
“Jadi kamu mau kelanjutan ini bagaimana?” Tanyanya sambil menatapku.
“Kelanjutan apa?” Aku balik bertanya tidak mengerti.
“Aku sampaikan ke kamu ya, aku mau menjalani ini semua tapi harus ada ujungnya.Aku gak mau ‘gantung’in siapapun,baik kamu maupun aku.Ya karena aku ingin semua ada ujungnya! Tapi keputusannya aku serahinnya ke kamu aja.Jadi aku bakalan kasih kamu beberapa pilihan dan kamu mau memilih yang mana?” menyeruput kopinya.
Sebentar,aku gak ngerti maksud ‘Dia’ apa.’Dia’ itu ngomongin apa sih?
‘Dia’ beranjak , berdiri dan bersandar di pintu tepat di depanku,mungkin ‘Dia’ ingin melihat lebih jelas ekspresi wajahku.Aku masih memasang ekspresi bingung,berusaha mencerna kata-katanya.
‘Dia’ menghembuskan nafas,lalu mencoba untuk menyampaikan ini, “Aku kasih kamu pilihan ya.Kamu kan lagi aku PDKT’in nih sekarang! Kamu mau kelanjutannya ini bagaimana? Pertama,kamu mau meneruskan ini tapi hanya pengen ‘pacaran’ aja.Kedua,kita ngejalanin hubungan tapi ujungnya adalah pernikahan.Ketiga, kamu gak mau lanjutkan ini kita hanya sekedar teman aja.”
Sebentar,Apa? Aku nggak ngerti,kok tiba-tiba gini! Pikiranku kosong! ‘Dia’ itu ngebahas apa sih?Apa jangan-jangan…’Dia’ lagi mencoba menyatakan perasaannya padaku?
“Gimana? Aku bingung…Aku gak ngerti..” Aku hanya bisa ngomong gitu,aku benar-benar gak tau mau pilih yang mana,itu membingungkanku.Situasi ini membuat pikiranku tiba-tiba flashback apa saja yang sudah aku lalui bareng ‘Dia’.Pertanyaanku adalah, hal apa yang membuatnya jadi begini? Aku hanya menganggapnya teman,bahkan kakak karena selisih umurnya 3 tahun di atasku.
Tunggu,hati kecilku…tiba-tiba ada rasa tak ingin jauh darinya,aku nyaman bersamanya.Hei! Perasaan apa ini? Ini terlalu cepatkan? Pikiranku kacau,perasaanku juga.Aku kok jadi tambah bingung? Perasaanku mulai jadi gak seimbang dengan pikiranku? Aku jadi deg-deg’an,suhu tubuhku naik,apa mukaku memerah? Kok aku jadi ingin menangis….mulai muncul rasa ketakutan…
“Aku sampaikan lagi,kamu mau ambil keputusan yang mana? Pertama, kamu mau lanjut tapi hanya pacaran doang gak berujung pernikahan.Kedua,ngejalanin hubungan tapi ujungnya kepernikahan.Pilihan ketiga,kamu maunya hanya sebagai teman aja gak lebih.Aku juga udah bilang,aku pengen ada ujung pastinya gitu nah.”Dia mencoba menyampaikan kembali.
Aku mulai benar-benar paham maksudnya tetapi aku memilih hanya diam,tidak merespon.
Akhirnya ada sedikit kalimat yang keluar dari mulutku,”Yang bikin aku tambah bingung,kita belum yang benar-benar saling mengenal satu sama lain.Terus di sodorin pilihan kayak gini, kan aku bingung jadinya!”
“Iya..bingungkah? Ya udah ku perjelas lagi…” mengeluarkan jarinya membentuk angka pertama kedua dan ketiga sesuai apa yang ‘Dia’ katakan ,”…pilihan pertama itu jelas itu suatu hubungan yang gak serius,main-main aja! Aku gak maksain atau gimana,kalo misalnya merasa gak cocok ya bisa di akhiri kan dengan putusnya hubungan.Terus terang aku gak menginginkan hubungan yang seperti itu.Yang kedua itu kita ngejalanin hubungan biar kita saling mengenal seperti apa katamu tadi, yang ujungnya kepernikahan,bisa di bilang itu adalah hubungan yang benar-benar ada ujungnya,ya ‘pernikahan’ ,itu yang aku inginkan! Tapi ku ingatkan,biar tau dan gak menyesal ke belakangnya,aku ingin berjuang sama-sama dan itu gak bakalan mudah,karena pasti berat dan harus siap! Kalo pilihan yang terakhir itu ya kalo kamu maunya kita berteman aja! Ya berteman aja,gak lebih! ”
“Aku juga gak mau main-main kalo ngejalanin hubungan..”Jawabku singkat.”..terus,kalo sudah kayak gini,bakalan pilih yang mana?” Aku tanya balik,karena aku juga mau tahu jawaban darinya.
“Ya pasti aku bakalan pilih jalanin hubungan yang serius,karena aku maunya serius.” Jawabnya.”Aku bakalan sampaikan ini di awal,hidup bersamaku gak bakalan mudah,aku maunya berjuang sama-sama dengan pasanganku.Aku tahu itu,perjuangannya gak bakalan mudah.Pertanyaannya pasanganku ini bakalan siap atau enggak.”
“Aku sampaikan..aku kalo sudah memiliki pasangan kelak,aku akan benar-benar memberikan seluruh hatiku kepadanya…”Aku berbicara sambil sesegukan karena air mataku sudah tumpah ,ya aku menangis.Atmosfernya jadi panas,aku jadi berpeluh,”….bahkan gak dirinya aja,keluarganya,saudara-saudaranya,teman-temannya aku akan membagikan hatiku ke mereka juga,makanya aku udah janji sama diriku sendiri…”Tiba-tiba aku jadi ingin marah.Karena itu janjiku,aku tidak ingin ada yang merusaknya.Karena rasa ‘sakit’ akibat percintaan adalah sakit yang tidak ingin aku rasakan,aku gak mau diriku tersiksa karena itu.Aku khawatir janji itu akan rusak kalo aku salah memilih.
Aku bergumam,aku meluapkan emosiku sambil menangis.Iya, karena perasaanku campur aduk! Bingung..marah..takut..gak tau harus bagaimana.Apa aku berlebihan? Apa karena ini pertama kalinya ada seseorang yang menyampaikan hal seperti ini di depanku.Selama 23 tahun di umurku sekarang aku belum pernah ngejalin hubungan sebelumnya,apa respon ,pikiran dan perasaanku yang seperti ini bisa di bilang wajar?Kali ini aku hanya bisa bergumam,ngomel gak karuan,penuh pertanyaan di kepalaku aku bingung mau memulai darimana.Ketakutan ‘disakiti’ itu yang membuatku penuh kekhawatiran.
‘Dia’ menatapku,”Aku juga maunya ini ada ujungnya,Tapi aku serahkan bagaimana maunya kamu.Keputusannya di kamu.Pilihlah yang benar-benar sesuai kemauanmu.Aku tunggu jawabannya.”
Aku menatapnya dan pertanyaan ini yang langsung ada di pikiran dan mulutku,”Apa aku harus memilihnya sekarang?”
“Iya,pilih sekarang,aku tunggu.”
ITU MALAH MANCING AKU BUAT MENGOMEL LAGI!!!!
‘Dia’ menyalakan rokoknya “Kalo sudah agak tenang,baru putusin jawabannya.Aku tungguin ini.” Berlalu untuk membiarkan aku menenangkan diriku sendiri.
Benar,semakin aku melihat ‘Dia’ berdiri di depanku,semakin rasanya aku ingin mengomel.Aku sudah tidak peduli apa yang ‘Dia’ pikirkan melihat aku yang seperti ini.Mataku bengkak penuh dengan air mata,pipiku basah dan rasanya badanku panas semua,aku mandi keringat,nafasku gak beraturan,aku bergumam gak karuan.Sepertinya ‘Dia’ agak ngeri melihat aku begini,makanya lebih memilih menjauh sebentar.
Ada sekitar 20 menitan berlalu,sesekali ‘Dia’ melirikku yang masih terdiam duduk di sofa hijaunya.’Dia’ muncul lagi di depanku,kembali berdiri dan bersandar di pintu itu.Aku melihat ke arahnya.Aku gak ngomel kali ini,sudah agak tenang soalnya.
Melihat itu ‘Dia’ mencoba untuk bicara lagi. “Aku itu gak mau ngejalanin hubungan yang gak pasti,maunya yang serius.Tinggal pilih aja mana yang serius mana yang enggak menurutmu.Aku gak memaksakan kok! Terserah di kamu aja.Udah dapatkah jawabannya?” Kembali bertanya.
“..tapi aku belum mau cepat-cepat menikah..”Jawabku,”..tapi aku juga gak mau sampe sini aja..” suaraku mengecil,gak tau ‘Dia’ dengar apa enggak.Aku masih ingin menangis.
“Iyaa..gak bisa juga cepat-cepat langsung menikah,kan butuh yang namanya proses kalo mau menuju kesitu.Makanya,ngejalanin hubungan yang berujung dengan pernikahan itu juga proses.Tapi ujungnya kan ‘pasti’ gak ‘gantung’.” Kali ini sepertinya ‘Dia’ mencoba mengarahkanku.
Iya ‘Dia’ benar,tapi..aku masih gak percaya aja sama ini semua.Aku akan ngejalanin hubungan dengan ‘Dia’? Tuhan~ Apakah ‘Dia’ adalah hadiah yang Engkau kirimkan untukku? ‘Dia’kah cinta pertamaku? Apakah selamanya untukku? Pikiranku masih penuh dengan tanda tanya.Tapi,aku harus segera memutuskan……’Dia’ sudah sangat menantikan jawabanku.
Ya! Akhirnya aku telah ada keputusan di kepala dan hatiku.Aku berharap ini bukan sebuah kesalahan.Aku mencoba menaruh beberapa persen rasa percayaku ke’Dia’.Aku simpulkan ‘Dia’ orang yang baik,tidak ada perasaan negatifku padanya,aku serahkan sepenuhnya kepada Tuhan yang Maha Mengetahui..Bismillah…Wish me luck!
“Coba ulang , pilihannya apa aja tadi?”Tanyaku.
“Yang pertama,iyaa kamu mau pacaran sama aku tapi hanya sekedar pacaran aja,kita bisa putus kalo merasa udah gak cocok.Kedua,kita jalanin hubungan dengan menuju ke arah pernikahan.Ketiga,kamu gak mau pacaran atau apapun,kamu maunya kita berteman aja...”Dengan sabar menjabarkan kembali yang entah sudah keberapa kalinya.Intonasinya tetap tenang,tetapi ekspresi wajahnya itu yang terlihat sekali ‘Dia’ sangat sangat menantikan jawaban dariku.
“Aku….Aku memilih pilihan yang kedua!”Jawabku pelan.
Matanya melebar,seakan ‘Dia’ berharap tidak salah dengar, “Pilih yang mana?” mencoba memastikan.
“Aku pilih yang kedua~ Iyaa aku mau jalanin hubungan dengan ujung ke pernikahan.”Jawabku tenang dan vokalku perjelas.
“Iyaa…” Responnya terlihat tenang dan sedikit tersenyum.’Dia’ bersandar kepintu badannya turun lemas sampai jongkok.Seperti lega melepas sesuatu yang di pendam setelah mendengar jawabanku itu. Apakah jawabanku sesuai dengan apa yang ‘Dia’ harapkan? (*Iyakah? Sesuai harapanmu kah? Aku nanya ke ‘Dia’ yang lagi baca ini).
Setelah itu aku masih terdiam,aku sendiri juga gak percaya dengan apa yang barusan aku katakan.Dalam hati tetap berharap,ini adalah keputusan yang tepat.’Dia’ berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku.
“Aku sudah bilang tadi,aku kalo sudah punya pasangan bakal ku kasih seluruh hatiku ke dia.Aku bakal sayang sama orang-orang yang dia sayangi,kayak orangtua,keluarga,saudara bahkan teman-temannya bakalan ku sayangi juga…”Aku menangis lagi.”…aku itu kalo sudah mencintai seseorang,aku bakal tulus sepenuh hati..”Air mataku deras,dengan berterus terang seperti ini aku berharap ‘Dia’ mau paham kalau aku tidak ingin ‘di sakiti’!
“Iyaa..aku sekarang memang butuh pasangan,yang bisa ngurusin aku,aku juga sudah pengen punya keluarga kecil hidup sama-sama,susah senang sama-sama….Dan aku ingatkan , pola hidupku ini gak bakalan mudah,aku tau itu.Makanya aku udah bilang dari awal,pasanganku harus siap buat berjuang sama-sama.” Jelasnya.
Sudah pukul 21.00 malam,’Dia’ ingin kita mengisi perut bersama.Menunggu jawaban dariku memakan waktu cukup lama hingga membuatnya kelaparan.Kita makan mie ayam tak jauh dari kontrakannya.Setelah pesanan kami datang,’Dia’ langsung menyantapnya dengan lahap.Aku tidak bisa berhenti menatapnya.Rasanya masih tidak percaya,aku saat ini sedang menjalin hubungan dengan laki-laki yang ada di depanku ini.’Dia’ membalas menatapku,dan itu cukup membuatku terkejut dan segera megalihkan pandanganku.Kita tidak berbincang sama sekali,saling diam.’Dia’ hanya fokus makan,sedangkan aku tidak bisa makan secepat ‘Dia’ dengan pikiran dan hati yang masih penuh dengan tanda tanya ini.Semakin aku menatapnya,semakin rasanya tidak percaya...
Tuhan,aku masih takut.Apa aku bisa menaruh hatiku sepenuhnya kepadanya? Aku mohon,apapun yang terjadi,tolong jangan sampai aku tersakiti.Aku mencoba pasrah denganMu,aku serahkan selebihnya kepadaMu.Jikalau Engkau memang hadirkan ‘Dia’ sebagai hadiah untukku,aku pasti menerimanya.Karena aku percaya padaMu,ada kebahagiaan terbaik yang Kau rencanakan untukku.
Berlanjut di ‘Journey IV : Menjalin’…