JOURNEY 1 : PERTEMUAN
Sebelum kisah ini dimulai, disini ‘Aku’ yang nulis ini agak kesal , karena ‘Dia’ memanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui lebih jauh mengenai apa yang kupikirkan tentang ‘Dia’! Iya project ini kita bangun barengan,cuman aku kebagian tugas nulis beginian! Selain buat ngisi salah satu konsep project juga bisa dia manfaatkan buat cari tau isi pikiranku bahkan isi hatiku kan~ *ehem!Tewa ya Pak!
Sengaja betul dapat permintaan biar cepet di posting dari ‘Dia’ karena udah gak sabaran alias kepo! Btw,kayaknya gak dia aja deh,para pengikut project ini juga gak sabar sepertinya hehehe udah ge-er aku.Ya sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada Tuhan,orang-orang yang aku sayangi,teman-teman yang udah support dan ‘Dia’ juga tentunya yang punya ide project ini.Minta maaf yang sebesar-besarnya kalo tulisan ini masih banyak banget kekurangannya hanya pengen sharing kisah ini aja,siapa tau dari sini bisa belajar nulis dan jadi penulis beneran,iseng-iseng berhadiah katanya ‘Dia’ hahaha
Oh iya disini nama tempat dan tokoh tidak di sebutkan dengan jelas karena ini berasal dari kisah dan pengalaman nyata yang butuh juga yang namanya ‘PRIVASI’.Juga jika ada penyebutan brand tertentu itu tidak ada unsur ngiklan atau endorse.Baiklah,kita segera mulai saja daripada harus ngetik bertele-tele lagi,di simak ya~ Enjoy!
Journey I : Pertemuan
Diumurku yang ke-23 tahun , I’M SINGLE belum pernah menjalin hubungan dengan lawan jenis sebelumnya,belum pernah sama sekali.Jangan berpikir aku tidak normal,bukan berarti tidak pernah ‘pacaran’ itu gak normal,penyuka sesama jenis atau pendukung LGBT,aku normal! Bahkan ada saja laki-laki yang menarik untukku,tapi hanya ku simpan dalam diam,tidak ku utarakan.Masih malu!Saat itu hanya belum ada pikiran untuk berpacaran apalagi untuk menikah , karena masih ingin bebas dan bersenang-senang dengan siapa pun.Ini janjiku ‘YANG PERTAMA DAN YANG TERAKHIR’.Janji itu tiba saat kita bertemu…..
Kisah pertemuan kami berawal di sebuah kedai kopi kecil di lorong pasar,yang menyuguhkan suasana kekeluargaan.Siapa yang pernah ngopi di situ,pasti akan saling mengenal satu sama lain ,menjadi teman lalu sahabat , siapa tau bisa jadi saudara.Konsumen di sana dengan beragam latarbelakang , seperti mahasiswa, karyawan swasta , wirausahawan , seniman dan lain sebagainya.Aku kesana saat itu sudah tidak aktif kuliah dan ingin fokus mencari pekerjaan karena perekonomian keluargaku yang sedang tidak baik.Teman kampusku,dia laki-laki, saat itu mengajak aku kesana karena di sana adalah salah satu tempat yang menarik untuk menghabiskan waktu , dia bilang bantu aku untuk menambah relasi yang mungkin bisa membantuku mendapatkan pekerjaan , sekalian dia berusaha mendekatiku.Iya, otomatis dia adalah teman laki-laki pertamaku yang bisa sampai hang out denganku.Mungkin bisa saja itu adalah salah satu penyebab kenapa aku belum pernah berpacaran sebelumnya.
Agak terkejut karena kedai kopi yang sebagian besar konsumennya anak muda jarang sekali terdapat di lorong pasar tradisional di kota kami saat itu,mungkin di daerah lain ada,tapi di sini jarang sekali ,kalo ada pun ya warung kopi biasa yang konsumennya sebagian besar orang tua.Karena anak muda biasanya jarang ada yang mau ke pasar tradisional apalagi hanya untuk sekedar ngopi,gengsi!.Mereka pasti lebih memilih ngopi di trade center kayak starbuck dan lainnya atau café yang ada di tengah kota.
Setibanya disana , sekitar jam 3 sore, sudah ada beberapa orang yang ngopi disana dengan kesibukan masing-masing,mungkin hanya sekedar ngobrol,baca buku,main gadget ,dll.Siapapun yang mampir mereka akan berhenti sejenak dengan kesibukannya untuk saling tegur sapa.Mereka membaur tidak membedakan gender,semua menyatu dan terlihat akrab.Entah kenapa kesan pertama jadi suka banget sama atmosfernya.Lalu temanku mengenalkan aku dengan teman-temannya di sana yang salah satunya sedang meracik kopi saat itu,dia ternyata owner kedai kopi ini.Itulah ‘Dia’! Di saat itulah pertemuan pertama aku dan ‘Dia’.Kami saling bersalaman dan saling mengenalkan nama,sudah hanya itu saja,lalu ‘Dia’ kembali dengan kesibukannya.Kesan pertamaku padanya adalah ‘Dia’ tipe laki-laki paling pendiam diantara lainnya,paling terlihat serius mungkin karena dia hanya fokus dengan apa yang dia lakukan sekarang,meracik kopi lalu menyuguhkan ke konsumennya.Sudah 2 hingga 3 kali aku mampir ke kedai kopi itu dan aku hanya memesan es coklat karena kopi gak baik untuk lambungku dan aku juga tidak terlalu suka dengan kopi.Kami tidak pernah ngobrol banyak satu sama lain, hanya saling tegur sapa di saat aku datang dan pulang.Tidak ada ‘feeling’ apa-apa di antara kami,Tuhan memang memiliki segudang kejutan untuk kehidupan kita.Untuk suasana yang baru kita di ajak pergi ke suatu tempat dekat dari kedai sambil membawa minuman yang sudah kita pesan,cukup hanya dengan berjalan kaki sebentar,sampailah kita dan menghabiskan waktu di sana.Aku dan teman-teman yang lainnya bersenda gurau satu sama lainnya,menikmati senja bersama di jembatan kayu belakang pasar,pemandangannya sunset dan gelombang laut teluk dengan deburan angin ,sesekali terlihat bapak-bapak sedang memancing ikan dan anak-anak berenang di laut.Teman-teman dengan hobi photographer pun siap mengabadikan moment ini dengan lensanya masing-masing.Aku bahkan lupa apakah ‘Dia’ bersama kami atau tidak saat itu.Sejauh ini hanya sedikit informasi yang ku dapat mengenai ‘Dia’,Dia itu selain buka usaha kedai kopi juga seorang pelukis.Ya, yang ku tahu hanya itu,pemilik kedai kopi dan dia pelukis.
Sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan baru karena informasi dari teman yang ku kenal yang bekerja di salah satu perusahaan media lokal di kota kami.Di situlah awal aku memulai karir dan kesibukanku di bidang broadcasting di salah satu perusahaan pertelevisian swasta di kota kami.Di perusahaan ini aku pernah sebagai news reader,meliput sesekali sebagai wartawan,reporter,presenter,voice over hingga produser.Btw sampai sini kalian masih ingat dengan teman kampusku yang mengajakku ke kedai kopi itu tadi? Ya,aku maupun dia tidak saling kontak lagi karena aku dengan segudang kesibukan di pekerjaanku ini jadi kami gak sempat menjalin hubungan.Ya,perasaannya tidak terbalaskan olehku karena memang tidak berjodoh,tapi bagaimana pun aku tidak lupa untuk berterima kasih padanya,semoga dia bisa mendapatkan yang lebih baik.Kembali ke cerita!
Berselang waktu hampir satu tahun lebih kemudian , aku kembali mendapatkan informasi bahwa ‘Dia’ sekarang aktif menjadi ketua sekaligus founder dari sebuah forum untuk para seniman-seniman lokal.Kebetulan saat itu aku membutuhkannya untuk mengisi program yang ku pegang.Aku pun berinisiatif untuk mengundangnya bersama teman-teman seniman juga yang kupikir mungkin memang bisa untuk mengisi stok bahan programku.Aku mendapatkan kontaknya dan ku hubungi ‘Dia’ untuk mengatur jadwal taping.Singkat cerita,aku sudah mengatur jadwalnya hingga 2 kali namun ternyata tidak seperti yang di harapkan,waktu kegiatan mereka yang dinamis menjadi kesulitan memilihkan jadwal yang tepat dan akhirnya di batalkan.Tapi tidak menjadi masalah buatku.
Tak terasa waktu kembali berlalu,aku mendapat undangan opening galeri karya seni dan barang-barang antik milik keluarganya.Hal seperti ini memang sangat jarang ada di kota kami,lantas bisa menjadi bahan liputan yang menarik untuk teman-teman media.Ternyata kedai kopinya sudah pindah dan lokasinya bersebelahan dengan galeri itu.Aktifitas pekerjaanku yang dominan di studio dan di depan komputer saja dan terbentur dengan jam kerjaku jadi aku gak bisa sekedar mampir ke galerinya,alhasil aku tawarkan undangan ini ke teman-teman wartawan agar bisa di liput.Iya,saat itu kami belum bisa berjumpa kembali.
Bagaimana menurut kalian, sampai sini belum ada ‘something special’ kan?Ya,belum ada apa-apa,semua masih berjalan seperti biasa dengan aktifitas dan kesibukanku,mungkin ‘Dia’ juga seperti itu.Namun siapa yang tahu,sampai pada suatu hari….
Kalian kalo punya kakak perempuan yang selisih umur tidak terlalu jauh seperti aku dan kakak perempuanku hanya terpaut 1 tahun saja,selalu merasa punya temen ngobrol asik yang selalu bisa di ajak bersenang-senang.Kakakku yang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi juga memiliki jam kerja yang dinamis,dimana dia masih harus menyelesaikan pekerjaannya di hari libur sekalipun alias lembur.Tapi gak harus di kantor sih,yang penting sedia laptop dan koneksi internet.Di hari ini kami menghabiskan waktu bersama di salah satu restoran fast food sambil kakakku menyelesaikan pekerjaannya,aku yang sibuk main hp buka instagram,update story foto selfie ku.Gak lama muncul notifikasi di layar hp ku ada DM yang masuk,ternyata dari ‘Dia’.Kita saling tegur sapa dan menanyakan kabar satu sama lain.Padahal pas ketemu waktu itu di kedai kopi lorong pasar,kita gak pernah ngobrol banyak,tapi di chattingan kali ini kami lumayan banyak ngobrol bahkan saling becanda.Sebenarnya obrolan santai dan candaan biasa,sampai akhirnya ‘Dia’ mempersilakan aku mampir ke kedai kopinya lagi yang sudah pindah lokasi itu,bahkan jaraknya lebih dekat dari kantorku.Gak masalah,aku pikir suatu saat bisa mampir kesana di hari liburku nanti dan akhirnya berujung dimana aku benar-benar mampir ke kedai kopinya di hari liburku seorang diri.Ya,akhirnya kita berjumpa lagi setelah sekian lama.Di pikiranku saat itu ‘berjumpa kembali dengan kawan lama’,itu saja.Masih tidak ada ‘feeling’ apapun!Pas aku tiba di sana sore harinya,’Dia’ sedang asik ngobrol dengan teman perempuannya dan mengangkat tangannya sambil melihat ke arahku lalu melanjutkan obrolannya lagi.Aku pun langsung duduk di sofa dekat mereka.Sepertinya ‘Dia’ sudah merekrut seorang barista,karena waktu masih di kedai lorong pasar itu ‘Dia’ meracik kopinya sendiri.
Suasana kedai kopinya sangat berubah,terletak di pinggir jalan dan lebih artsy.Banyak karya-karya seni yang terpajang seperti lukisan,sketsa wajah dan bangunan juga beragam kerajinan tangan yang di jual di sana.Seperti tas rajutan,dream catcher,kaos dengan sablonan,bantal kecil,bunga dari kain flannel dan lainnya.Ada juga beberapa barang-barang antik seperti TV jadul 9 inch, radio jadul,kamera jadul dan lainnya.Karena itu semua melepas perhatianku dari mereka yang masih asik ngobrol,aku pun berkeliling melihat-lihat pajangan menarik ini.Aku pun tidak sadar kalo ‘Dia’ sudah selesai dengan obrolannya dan menghampiriku.Aku agak kaget karena ‘Dia’ ternyata sudah berdiri disampingku, memperhatikanku dari tadi yang lagi asik melihat-lihat pajangannya.’Dia’ bilang TV kecil jadul itu masih berfungsi ,menyalakan TV itu untuk menunjukkannya padaku.Wow,benar apa katanya! Barang-barang antik ini terawat dengan baik ternyata.Aku bilang padanya sambil bercanda bahwa ‘Dia’ bisa membuat museum dengan semua barang-barang antik ini.Dari sini akhirnya kita benar-benar ngobrol secara langsung.
Setelah itu,akhirnya kita duduk di sofa dan ‘Dia’ bertanya apa saja kesibukanku dan bagaimana pekerjaanku.Ya,kita ngobrol santai aja dan aku juga berkenalan dengan teman perempuannya yang ternyata seniman juga,dia yang membuat tas rajutan yang terpajang dan di jual disitu.Lalu aku kembali ngobrol dengan ‘Dia’.Maksud ‘Dia’ mengusulkan aku mampir ke kedainya karena ada usul untuk menjalin kerjasama membuat program yang membahas tentang ‘Seni’ yang mungkin bisa di pertimbangkan.Karena pembahasannya sangat luas dan akan menjadi tayangan yang menarik untuk masyarakat sekaligus memperkenalkan para seniman-seniman lokal (Hei,kamu! Iya kamu yang sedang baca ini yang berperan sebagai ‘Dia’ di cerita ini! Masih ingetkan moment yang ini? Hehehe.Kembali ke cerita!).’Dia’ bilang membutuhkan suasana yang lebih nyaman untuk membicarakan ini lebih lanjut,sekaligus ada suasana yang ingin ‘Dia’ rasakan kembali.Ya, kita ke jembatan kayu yang ada di belakang pasar itu.Berbekal thai tea dan kopi dari kedainya yang di kemas botolan,kita berbicara banyak hal sambil menikmati senja dari situ.Ya,aku juga kembali merasakan atmosfer yang sama waktu bareng teman-teman di sini,namun kali ini rasanya lebih intens.Dari moment itu aku semakin mengenalnya dan ternyata ‘Dia’ adalah orang yang nyaman di ajak curhat atau sekedar menjadi teman ngobrol.Banyak sekali pembahasan kita sampai tidak terasa matahari senja di depan kita sudah lama tenggelam yang tergantikan oleh bintang-bintang.Deburan ombaknya cukup tenang dengan semilir angin lautnya.Dari obrolan pengusulan program tadi menjadi terbawa suasana dan akhirnya aku menyampaikan keluh kesah pekerjaanku,tak terasa sampai masalah pribadi pun ku ceritakan ke’Dia’.Asal kalian tahu,’Dia’ memberiku semangat,mengajariku untuk selalu berjiwa optimis,membuka pikiranku untuk tidak terpaku dengan satu jalur untuk meraih tujuan hidup,dari situlah aku mulai merasa nyaman dengannya.Dari yang ku kira tipe laki-laki yang pendiam,serius dan dingin,ternyata orang yang hangat,baik,penuh semangat,berjiwa optimis,dewasa dan ramah.Pertanyaannya,apakah dari sini aku sudah ada ‘feeling’ itu?Jawabannya tidak!Tidak ada perasaan apa-apa,sama sekali.Ya aku hanya menganggapnya kakak karena lebih tua dariku atau hanya sekedar teman yang sekarang mulai akrab.Selama 23 tahun tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun membuat aku yang pandai menjaga hati,tidak mudah terbawa perasaan alias gak ‘baper’an!
Terima kasih untuk hari itu,terima kasih telah mengenalkan dirimu padaku kita jadi semakin lebih mengenal satu sama lain.Yang pastinya kita akan berjumpa kembali di lain waktu untuk meneruskan kisah ini.
Lanjutannya di ‘Journey II : Pendekatan’ yang akan ku post ya,di tunggu saja…















