Masih ada hubungannya sama cerita Si Bos. Saya pernah bilang ke dia, lebih enak menghadapi orang-orang yang percaya diri berlebih kayak dia, dibanding orang-orang yang kurang percaya diri berlebihan. Karena mengingatkan orang yang kepedean itu semudah menjatuhkan mereka dengan becandaan supaya tetap berpijak pada bumi. “Ah elah, gitu doang mah anak TK juga bisa,” gitu lah kira-kira salah satu cara membantah kedigdayaan mereka. Ahahahaha
Sedangkan menghadapi orang yang kurang pede dan cenderung pesimis – apalagi kalo ngeyel – rasanya gemaaasss, pake bangedh! Pake ‘dh’ pula. Pengen banget ngebantah-bantahin ketakutannya akan hal yang belum terjadi yang menciptakan ketidakpedean mereka. Tapi kok ya kalo bebal, jadi menguras energi rasanya. Fix sih ini sayanya yang belum sesabar itu ternyata dalam menghadapi tipe kedua. Kadang kalo dengar excuse, “tapi gue kan begini begini begini,” saya lebih milih meninggalkan perdebatan dan berkata dalam hati, “yaudah terserah laaau”. Ngeselin?! Mungkin. Hehehe
Kalo boleh jujur (lha harus lah ya, kecuali jujurnya nggak bermanfaat semisal mengungkapkan fakta yang nggak perlu diucapkan karena menyakitkan hati lawan bicara eh kok panjang amat dalam kurungnya), saya pernah menjadi kedua tipe yang saya sebutkan tadi. Ada satu fase di mana saya super percaya diri, tapi di sisi lain, ada juga fase saya mengalami krisis percaya diri dan menyangsikan kemampuan diri.
Yah wajar, fase yang kayak gitu mah sinusoidal. Namanya manusia. Keimanan juga naik turun kan. Yang penting tau aja gimana cara menyeimbangkannya. Jangan sampe pas lagi di fase super percaya diri, jadi kelewat di atas angin. Ketiup dikit, puffff, tumbang! Nah apalagi di fase krisis percaya diri, disenggol dikit mati kali kayak pohon toge. Yang mati harapannya maksudnya. Mihihihihi
Apa yang mengingatkan saya untuk terus belajar menyeimbangkan kedua hal ini salah satunya adalah kata-kata yang saya temui di Tumblr.
My Islamic studies prof told us “It is a sin in Islam to think you are superior to anyone, and it is a sin in Islam to think you are inferior to anyone.” And I’ve always heard the first part, but the second has honestly changed my life. -- (via islamicthoughts)
Bahwa katanya, di dalam Islam itu kita diperintahkan bukan hanya supaya nggak merasa superior, melainkan juga supaya nggak merasa inferior. Kalo yang pertama, saya paham betul. Berdasarkan pengalaman, memang nggak enak berhadapan dengan orang yang merasa superior. Tapi berhubung saya punya jurus jitu untuk menjatuhkan mereka dengan halus dan tebal muka, jadi ya insyaAllah no hard feeling lah. Tapi tetap, ngerasa superior itu nggak asyik.
Awalnya saya pikir kalo dengan bersikap kebalikannya alias jadi orang inferior, itu efeknya buat diri sendiri aja dan nggak ngerugiin orang lain. Huft, tapi ternyata saya salah. Ada kalanya berhadapan dengan orang yang merasa inferior itu menghabiskan energi karena takut salah ngomong ntar dikira superior atau sombong barang salah sedikit. Terus meyakinkan mereka supaya percaya sama kemampuan sendiri dan pertolongan Allah juga terkadang syulit. Lebih melelahkan dibanding berhadapan dengan orang yang merasa superior ya ternyata. Itu dia makanya saya pernah nyeletuk begitu ke si bos.
Tau bahwa kedua tipe itu nggak asyik kalo diterapkan, saya jadi sadar, saya pun nggak boleh begitu. Nggak boleh ngabisin energi orang lain cuma buat mengerti kesuperioran atau keinferioran saya. Makanya, pelan-pelan saya belajar menyeimbangkan. Kalo lagi ngerasa superior, buru-buru ingat kekurangan yang ada di diri biar tetap nempel di tanah. Sebaliknya, kalo lagi inferior, langsung ingat-ingat kelebihan yang ada.
Dan ingat juga, Allah pasti menciptakan diri ini beserta kelebihan dan kekurangannya dengan tujuan agar bisa bersinergi dengan orang lain di sekitar. Supaya bisa melengkapi. Jadi pas kepercayaan diri lagi di atas, ingetnya, “oh iya, Allah menitipkan kelebihan di saya ini supaya saya bisa jadi media untuk bantu si anu di bidang anu.”
Sedangkan di kala kepercayaan diri lagi di bawah, tanamkan mindset, “oke, berarti saatnya si anu yang menjadi media untuk menolong saya di bidang yang bukan kapasitas saya ini”. Gampang, dibawa easy going aja lah dunia mah. Numpang lewat doang kan. Rugi kalo terlalu mikirin ini-itu. Ini ngomong sambil nunjuk diri sendiri yang kadang suka overthinking (makin tua makin gamang yaaa, apa aja dipikirin dah).
“Nah, Mut, kalo mau tetap imut tanpa keriput, nggak usah pikirin yang nggak penting. Kata Ustadz Nuzul Dzikri, dunia mah remeh, Mut. Banyak inget akhirat deh. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui. InsyaAllah.”
Poinnya adalah, it’s okay to feel superior or inferior sometimes but please do it in a tolerable capacity. Karena itu manusiawi, maksudnya jangan sampe berlebihan dan ngerugiin orang lain karena kesuperioran atau keinferioran kita itu. Yang paling penting, apa pun kondisinya, ingat Allah menciptakan kita dengan fitur-fitur yang terbaik bagi kita menurut-Nya. Paling pas. Semuanya udah synchronized dengan kebutuhan kita dan lingkungan sekitar. Jangan sampe sok tau yang mengakibatkan kita suudzan terhadap-Nya.
Yang pasti, selalu bersyukur dengan segala kondisi yang ada. Ingat juga, di atas langit masih ada langit. Jadi kalo mau berbangga-bangga diri, masih banyak yang profilnya lebih kece tuh. Daaan, di bawah tanah masih ada tanah. Sebelum berkeluh-kesah, ingat, pasti di luaran sana ada orang yang justru pengen jadi kita dan berharap seberuntung kita. Never take anything for granted.