seen from Laos
seen from Canada
seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from India
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
Seoul, 14 Februari 2016
Ashihara Shiika melangkahkan kakinya lebar-lebar, asik bersenandung dengan sendok es krim yang bertengger nyaman di mulut. Tas ransel ia jinjing di punggung, tampak tidak terganggu meski di dalamnya berisi banyak, banyak sekali barang. Yang dapat disebutkan hanyalah laptop beserta headphone-nya, sebuah album besar, polaroid hijau, baju ganti, sekotak perias wajah, sampai yang paling tidak umum—tidak paham juga kenapa Shiika kerap membawa barang-barang ini—adalah katapel dan papan catur. Tidak biasa, memang, tetapi apa yang dia butuhkan sewaktu-waktu tampaknya dapat ditemukan dengan mudah di sana.
Lampu lalu lintas menyala merah dan gadis itu kembali menyendok semangkuk es krim yang tinggal tersisa setengahnya. Buah-buahan seperti persik dan stroberi tak lagi tersisa untuk menyegarkan diri kala cuaca lebih terik dari hari-hari biasa. Seoul di musim panas memang tidak jauh berbeda dari kebanyakan negara di musim yang sama; sama-sama menyebabkan banjir keringat dan membuat potongan segar semangka rasanya jauh lebih menggiurkan dibandingkan lima botol soju. Di musim menggerahkan seperti ini, teriknya matahari akan terasa dua kali lipat, malam seakan menjadi jauh lebih sabar menunggu giliran menyejukkan kota yang begitu gersang, dan rasanya memang menyiksa bukan kepalang.
Meski begitu, Shiika adalah satu dari sedikit orang yang betul-betul menikmati musim panas tanpa merasa risih sama sekali. Ketika orang-orang sibuk mengenakan topi dan payung mereka, gadis itu hanya akan menyeka peluh tanpa perlu repot-repot berteduh. Hari-harinya terasa lebih menyenangkan dengan menyusuri jalan setapak dan menyebrangi jalan-jalan besar tanpa tujuan, seringnya dengan pemanis mulut seperti cokelat dan semangkuk es krim seperti yang tengah ia santap saat ini. Hari ini pun tak terkecuali. Pagi-pagi sekali dia sudah keluar dari tempatnya menginap di pusat kota. Cerah matahari menularkan keceriaannya pada Shiika yang bahkan tidak mau repot-repot mengunci pintu kamar. Ia baru saja selesai dengan cepolan tingginya dan langsung menyambar sandal bertali untuk dipakai di dalam lift.
“Hmmhh,” Shiika memandang pantulan dirinya di pintu lift, tampak berpikir, “hari ini enaknya ngapain, ya.”
Itu terjadi empat puluh menit yang lalu, mengingat kini dia tengah diam bertumpu telapak kaki yang mulai terbakar sinar matahari. Ah, siapa peduli, yang penting segala keinginannya terpenuhi. Namun, kebosanan dengan cepat menghampiri, karena di samping ketiadaan uang untuk menghibur diri (ya, ya, salahkan sifat pembangkang nan pemborosnya yang menjadi-jadi tiga tahun belakangan ini), dia belum mengenal Seoul sebaik dia mengenal DC. Bagaimanapun, dia harus secepatnya bergerak sebelum sesuatu membuatnya kembali lari, lagi dan lagi.